Berjibaku Topang Ketahanan Pasar Saat Pandemi

Investor ritel, manajemen investasi, sekuritas hingga otoritas bahu-membahu menopang ketahanan pasar
Abdul Malik • 30 Nov 2020
cover

Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham di Jakarta, Jumat (6/11/2020). IHSG ditutup menguat 75,203 poin atau 1,43 persen ke level 5.335 pada penutupan perdagangan saham Jumat (6/11). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Bareksa,com - Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi adalah contoh salah seorang investor lokal yang beruntung. Perempuan yang biasa disapa Tjoe Ay itu memiliki pengalaman berharga melalui hantaman krisis 1998 terhadap pasar modal Indonesia. Sehingga dia paham betul pola investasi investor asing. Walhasil, wanita yang dijuluki sebagai Madam Cuan ini justru meraih untung dari peristiwa market crash pasar saham domestik akibat pandemi Covid-19 sepanjang tahun ini.

"Krisis tahun ini akibat pandemi Covid-19 tidak separah 1998, karena pada 1998 ada kerusuhan massa jadi kondisinya parah. Asalkan tidak ada kerusahan, bisa diperkirakan dampak pandemi Covid-19 terhadap pasar saham tidak akan separah 1998, karena saat itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga sekitar 70 persen," ujarnya kepada Bareksa, akhir pekan lalu.

Kartika bercerita, sejak kasus pertama Covid-19 di Indonesia diumumkan pada awal Maret lalu, sejatinya investor ritel domestik telah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk market crash. Pelaku pasar modal yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Director, Head of equity sales CGS-CIMB Securities itu telah menyiapkan uang tunai. Tabungannya di deposito telah dia cairkan untuk bersiap membeli saham-saham blue chip dengan harga murah, seiring aksi jual investor asing. 

"Saya jebol tabungan pada 1 Maret. Saat itu porsi cash (uang tunai) saya mencapai 90 persen dan hanya 10 persen masih saya sisakan di saham," Kartika mengisahkan.

Dana tunai yang dimiliki Kartika bertambah, karena bulan Maret merupakan waktu pembagian bonus di CGS-CIMB Securities. Benar saja, investor asing pun ramai melakukan aksi jual dan keluar dari pasar saham Indonesia, yang mengakibatkan IHSG mencapai level terendahnya pada 24 Maret. Kartika bersama banyak investor ritel domestik lainnya justru girang. Sebab saat itulah waktu bagi mereka belanja saham bagus dengan harga murah.

"Kapan lagi kita bisa membeli saham BBCA, TLKM dan ASII di harga murah? Ini ternyata tidak hanya saya, teman-teman investor ritel lain banyak melakukannya. Bahkan mereka menyiapkan uang tunai lebih besar lagi," ungkapnya.

Kartika mengaku sebenarnya dia masuk ke pasar untuk belanja saham sedikit terlambat, tidak tepat pada 24 Maret. Namun baru 1-2 hari setelahnya dia mulai memborong saham. Meski begitu, hingga akhir pekan lalu, meskipun diwarnai beberapa cut loss yang dia lakukan, Kartika berhasil meraih keuntungan hingga sekitar 60 persen, seiring pasar saham menuju tren pemulihan.

"Pernah saham BBCA dijual investor asing hingga Rp3,5 triliun dan TLKM Rp1,5 triliun. Investor ritel kita langsung borong semua. Jadi selama masa pandemi ini, juaranya adalah investor ritel," kata Kartika.

Untuk diketahui, IHSG anjlok hingga 37,5 persen secara year to date pada 24 Maret 2020 atau merupakan level terendah sepanjang tahun ini. Market crash akibat pandemi Covid-19 telah mengakibatkan IHSG ambrol hingga di bawah level 4.000, setelah pada akhir 2019 ditutup di level 6.300. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) Rp631,41 miliar pada 24 Maret.

Sepanjang bulan Maret di 2020 (per 27 Maret), net sell asing di pasar saham mencapai Rp5,2 triliun, sedangkan secara YtD net foreign outflow mencapai Rp10 triliun. Aksi jual asing akibat pandemi Covid-19 di pasar Surat Berharga Negara lebih parah, sepanjang Maret terjadi net outflow asing di SBN senilai Rp112,3 triliun. Secara YtD outflow asing di SBN per Maret tercatat Rp126 triliun.

Kini pasar saham nasional kembali bangkit ditutup di level 5.833 pada Jumat pekan lalu. Minus IHSG yang sebelumnya mencapai 37,5 persen pada 24 Maret, kini tinggal 8,19 persen pada 27 November. IHSG terus kembali menuju level akhir tahun lalu. Secara YtD pet 27 November, nilai jual bersih investor asing masih senilai Rp40.58 triliun.

Kinerja IHSG YtD (per 27 November 2020)

Sumber : Bareksa

Peluang Rebalancing Portofolio

Direktur Utama PT Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wawointana, menilai penyebaran coronavirus yang cukup cepat ditambah informasi terhadap penyakit baru ini yang masih terbatas menimbulkan kepanikan. Kondisi itu diperparah dengan berbagai penutupan akses mobilitas antar negara dan juga dalam negeri yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seiring dengan itu aktivitas ekonomi terhambat dan pertumbuhan ekonomi diproyeksi akan turun untuk waktu yang tidak diketahui pada saat itu pada 24 Maret.

"Kami melihat pada saat itu (pada 24 Maret) reaksi kepanikan pasar cenderung berlebihan sehingga banyak saham-saham yang menurut kami valuasinya jadi semakin murah bahkan ada beberapa emiten yang sahamnya secara valuasi mencapai lebih murah dibandingkan GFC (krisis finanssial global) 2008," kata Jemmy kepada Bareksa (30/11/2020).

Sucorinvest AM melihat tekanan pasar akibat pandemi Covid-19 sebagai peluang. "Kami memanfaatkan peluang tersebut untuk melakukan rebalancing portfolio reksadana kami dengan mengoleksi saham-saham yang berkualitas untuk menggapai peluang sebelum pasar mulai kembali rasional dan pergerakan mulai berbalik menguat," ungkap Jemmy.

Seiring koreksi terdalam IHSG pada 24 Maret lalu, menurut Jemmy, kinerja produk reksadana andalan perseroan yakni Sucorinvest Equity Fund minus hingga 37,85 persen atau hampir senada dengan penurunan IHSG. Per 27 November 2020, reksadana saham Sucorinvest Equity Fund berhasil mencatatkan imbal hasil positif 2,23 persen secara year to date.

Kondisi itu bisa dikatakan Sucorinvest Equity Fund telah berhasil pulih dari dampak pandemi dan jauh melampaui kinerja iHSG yang masih minus YtD. "Bahkan dibandingkan level terendahnya tahun ini Sucorinvest Equity Fund telah melesat 64,5 persen," Jemmy mengungkapkan.

Dukungan Otoritas

Guna mendorong ketahanan pasar modal, Jemmy menyatakan perseroan sebagai perusahaan manajemen investasi terus melakukan pendidikan liternasi kepada nasabah. Sehingga meskipun terjadi peralihan ke kelas aset yg lebih konservatif seperti pasar uang dan pendapatan tetap, investor domestik tetap bertahan dan bahkan terus bertambah, yang terbukti jumlah single investor identification (SID) melonjak 135 persen YTD (per 27 Oktober 2020). "Kami juga mengelola reksadana secara aktif dengan terus mencari peluang pada setiap siklus pasar dan bisnis," kata Jemmy.

Menurut Jemmy, dukungan otoritas dalam menstimulus pasar agar tahan banting dari goncangan akibat pandemi Covid-19 cukup memadai. Kebijakan itu antara lain mulai pembatasan jam trading, perubahan maksimum auto rejection perdagangan serta penerapan trading halt apabila IHSG turun 5 persen. "Kebijakan itu telah cukup membantu untuk menekan volatilitas pergerakan harian pasar selama pandemi ini," dia menambahkan.

Berbagai Kebijakan Pasar Modal dalam Penanganan Dampak Covid-19

Sumber : materi paparan Dirut BEI, Inarno Djajadi

Hingga 10 September 2020, otoritas Bursa Efek Indonesia telah melakukan trading halt 7 kali sepanjang 2020. Trading halt adalah penghentian perdagangan selama 30 menit karena IHSG turun hingga 5 persen.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi menyatakan perkembangan terkini pasar saham nasional semakin positif. Hal ini terlihat rata-rata nilai transaksi harian yang meningkat jadi Rp11,9 triliun pada November, dari Rp6,4 triliun pada Januari. Secara akumulasi rata-rata nilai transaksi harian periode Januari-November 2020 senilai Rp8,3 triliun.

"Nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia per 27 November 2020 mencapai Rp6.720,9 triliun atau masih minus 7,49 persen dari Rp7.265 triliun," ungkap Inarno dalam paparannya pada acara Percepatan Pengembangan Pasar Modal Syariah secara virtual di Jakarta (30/11/2020).

Sepanjang tahun ini, IHSG anjlok dalam sejak kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi di Indonesia pada 2 Maret lalu yang mengakibatkan IHSG longsor ke level 5.518. Kemudian pasar saham semakin terpuruk ketika Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret yang mengakibatkan IHSG anjlok di level 5,154. Penurunan itu terus berlanjut hingga 24 Maret. Setelah itu perlahan bergerak menuju pemulihan.

Perkembangan Pasar Terkini (Januari-27 November 2020)

Sumber : materi paparan Dirut BEI, Inarno Djajadi

Investor Ritel Redakan Volatilitas

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia, Laksono W. Widodo, mengatakan sepanjang tahun ini merupakan tahun sulit bagi pasar modal seluruh dunia, karena pandemi Covid-19 telah mengakibatkan gejolak pasar. Sepanjang tahun ini, pasar saham Indonesia mengalami volatilitas cukup tinggi, utamanya di masa awal pandemi. "Namun pada Juli hingga September, volatilitas pasar mereda, kemudian pasar mulai bergerak stabil. Pasar kita lebih stabil karena peran investor ritel dalam negeri," ujar Laksono pada acara Capital Market Summit Expo 2020, secara virtual di Jakarta (21/10/2020).

Sumber : Paparan Direktur BEI, Laksono Widodo

Menurut Laksono, berdasarkan nilai perdagangan harian, tercatat kontribusi investor ritel domestik secara year to date hingga September 2020 meningkat jadi 51 persen, dibandingkan sepanjang tahun lalu yang masih 43,9 persen. Dibandingkan 2015, di mana kontribusi investor ritel domestik baru 40,6 persen, maka sepanjang 2020 ini peran investor ritel domestik naik signifikan.

Di sisi lain, kontribusi investor institusi menyusut dari 20,5 persen pada 2015, menjadi 18,3 persen YtD per 16 Oktober 2020. Tidak berbeda, kontribusi investor asing juga menurun dari sebelumnya 38,9 persen pada 2015 jadi 30,7 persen YtD 2020. "Menurunnya kontribusi investor asing sepanjang tahun ini karena arus modal keluar investor asing sepanjang tahun ini," kata Laksono.

Per 30 November 2020, nilai transaksi harian saham di pasar reguler tertinggi sepanjang sejarah transaksi di BEI yaitu senilai Rp32,01 triliun dengan total frekuensi 1.685.213 kali. "BEI pernah mencatat nilai transaksi harian saham di pasar reguler tertinggi sebelumnya pada 25 November 2020 yaitu senilai Rp16,48 triliun dengan total frekuensi 1.412.553 kali," Laksono menambahkan.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat, hingga 19 November 2020, jumlah investor pasar modal mencapai 3,53 juta orang atau meningkat dibandingkan akhir 2019 yang mencapai 2,48 juta orang. Dari jumlah tersebut, investor reksadana menjadi kontributor utama jumlah investor yakni mencapai 2,82 juta orang, melebihi periode akhir 2019 yang mencapai 1,77 juta orang.

Jumlah investor saham juga melonjak 36,07 persen jadi 1,5 juta investor per 19 November dibandingkan 1,1 juta investor akhir tahun lalu. Senada jumlah investor Surat Berharga Negara (SBN) meroket 59,32 persen jadi 448.147 investor.

Jumlah Investor Pasar Modal (per 19 november 2020)