Daftar MI Juara AUM Reksadana November, Siapa Saja Pulih dari Dampak Pandemi?

10 dari top 20 MI sudah membukukan kenaikan dana kelolaan YtD, 9 lainnya masih negatif dan 1 MI stagnan
Abdul Malik • 14 Dec 2020
cover

Karyawan berjalan di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (11/12/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau pada perdagangan akhir pekan Jumat (11/12/2020) dengan naik tipis 0,08 persen atau naik 4,63 poin ke level 5.938,33. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

Bareksa.com - Dana kelolaan reksadana telah berhasil pulih dari dampak gejolak pasar akibat pandemi Covid-19. Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report November 2020 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan dana kelolaan reksadana pada November 2020 menembus Rp547,8 triliun, atau merupakan level tertinggi sepanjang tahun ini.

Nilai AUM reksadana November 2020 telah melampaui level akhir tahun lalu yang senilai Rp542,2 triliun atau naik 1,04 persen, atau merupakan yang pertama kali sebelum pandemi Covid-19 tahun menghantam pasar modal tahun ini. Sejak Desember 2019 lalu, nilai AUM reksadana kemudian terus menurun dan mencapai level terendahnya pada Maret 2020 di Rp471,4 triliun, atau di bawah Rp500 triliun.

Sejak itu nilai AUM reksadana tidak mampu menyentuh seperti level akhir 2019, akibat turunnya nilai aset portofolio reksadana. Hingga kemudian kemudian pada November seiring tren pemulihan di pasar modal, nilai AUM reksadana kembali pulih dan melampaui level akhir tahun lalu. Secara bulanan dana kelolaan reksadana naik 3 persen pada November dibandingkan Oktober 2020, atau bertambah Rp17,9 trilun. Secara year to date dan year on year naik 1 persen.

Dibandingkan Desember 2019, dana kelolaan reksadana pada November bertambah Rp5,6 triliun.

Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report November 2020

MI Bukukan Kenaikan AUM YtD

​Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report November 2020menyebutkan dalam daftar top 20 manajer investasi dana kelolaan reksadana terbesar pada November 2020, 10 MI di antaranya sudah membukukan pertumbuhan asset under management (AUM) secara year to date. Kemudian 9 MI lainnya masih mencatatkan AUM negatif dan 1 MI stagnan. Jumlah MI yang dana kelolaannya naik YtD dalam daftar top 20 ini relatif sama dengan September 2020.

Untuk diketahui, jumlah dana kelolaan dari top 20 MI ini mencapai Rp472,8 triliun pada November atau mewakili 86 persen terhadap total dana kelolaan industri reksadana. Sehingga naik dan turunnya AUM top 20 MI ini, akan sangat mempengaruhi kinerja industri reksadana. Menurut data OJK, saat ini terdapat 97 perusahaan manajemen investasi.

Perusahaan manajemen investasi yang dana kelolaan reksadananya sudah pulih dari dampak pandemi Covid-19 atau naik secara YtD sebagai berikut :

1. Sucorinvest Asset Management

Sucor AM membukukan lonjakan dana kelolaan tertinggi dalam daftar top 20 MI secara year to date yakni mencapai 89 persen, secara YoY juga naik tertinggi hingga 76 persen dan bulanan tumbuh 12 persen, yang merupakan tertinggi kedua.

Bulan lalu AUM reksadana Sucor AM mencapai Rp19,07 triliun dengan market share 3 persen. Ranking Sucor naik 1 peringkat dari sebelumnya di peringkat 13 pada Oktober jadi peringkat 12 besar MI dana kelolaan reksadana terbesar pada November.

2. Manulife Aset Manajemen Indonesia

Manulife AM Indonesia atau biasa disebut MAMI merupakan perusahaan MI kedua yang membukukan lonjakan AUM YtD tertinggi yang mencapai 42 persen per November 2020 menjadi Rp42,29 triliun.

Secara YoY, kenaikan AUM Manulife yang mencapai 38 persen juga merupakan tertinggi ketiga dan secara bulanan naik 9 persen merupakan peningkatan tertinggi keempat. Manulife AM merupakan perusahaan manajemen investasi terbesar keempat di Indonesia dari sisi AUM reksadana pada November 2020 dengan pangsa pasar 8 persen.

3. BNP Paribas Asset Management

BNP AM yang berada di peringkat 7 dalam daftar MI juara AUM reksadana membukukan kenaikan dana kelolaan reksadana secara YtD mencapai 37 persen. Bulan lalu perseroan membukukan dana kelolaan reksadana Rp25,45 triliun dengan market share 5 persen.

Secara YoY, lonjakan AUM BNP AM yang mencapai 50 persen merupakan kenaikan tertinggi kedua. Adapun secara bulanan AUM BNP AM naik 3 persen atau setara dengan total kenaikan industri.

4. Danareksa Investment Management

Danareksa IM membukukan kenaikan dana kelolaan YtD per November mencapai 30 persen jadi Rp29,54 triliun. Secara YoY AUM reksadana perseroan naik 35 persen atau lonjakan tertinggi keempat dan secara bulanan naik 3 persen setara dengan industri.

Perseroan masih bertahan di peringkat 6 dalam daftar MI jawara AUM reksadana dengan market share 5 persen. 

5. BNI Asset Management

BNI AM membukukan lonjakan AUM reksadana tertinggi kelima yang mencapai 24 persen secara YtD jadi Rp25,25 triliun pada November 2020. Secara YoY, dana kelolaan reksadana perseroan naik 13 persen dan secara bulanan naik 7 persen.

Bulan lalu, BNI AM berada di peringkat 8 dalam daftar MI juara AUM reksadana dengan menggenggam market share 5 persen.

6. Ashmore Asset Management Indonesia

Ashmore AM merupakan MI dengan kenaikan dana kelolaan reksadana YtD tertinggi berikutnya yakni mencapai 19 persen jadi Rp19,15 triliun.

Secara YoY, AUM reksadana Ashmore melonjak 27 persen dan secara bulanan naik 15 persen. Perseroan berada di peringkat 11 dalam daftar MI juara AUM reksadana pada November dengan pangsa pasar 3 persen.

7. Syailendra Capital

Syailendra Capital berhasil membukukan kenaikan dana kelolaan reksadana 9 persen YtD pada November atau merupakan tertinggi ketujuh dalam daftar top 20. Secara YoY AUM reksadana Syailendra naik 11 persen dan secara bulanan tumbuh 3 persen.

Bulan lalu, Syailendra mengepit dana kelolaan reksadana Rp22,65 triliun atau berada di peringkat 9 juara AUM reksadana nasional dengan market share 4 persen. 

8. Mandiri Manajemen Investasi

Mandiri Investasi yang juga merupakan juara pertama sebagai perusahaan manajemen investasi dengan dana kelolaan reksadana terbesar di Indonesia pada November, berhasil membukukan kenaikan AUM 8 persen YtD jadi Rp48,37 triliun.

Secara YoY, dana kelolaan reksadana MMI naik 10 persen dan secara bulanan meningkat 3 persen. Anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut berhasil mempertahankan posisinya sebagai MI juara AUM reksadana dengan menggenggam market share 9 persen.

Laporan selengkapnya perihal kinerja AUM reksadana Mandiri Investasi sepanjang tahun ini sebagaimana diulas dalam artikel berikut : Mandiri Investasi Kembali Juara AUM Reksadana November, Salip Batavia PAM

9. Bahana TCW Investment Management

Perusahaan manajemen investasi dengan AUM reksadana terbesar ketiga di Indonesia ini berhasil membukukan kenaikan dana kelolaan YtD 7 persen, 3 persen YoY dan 2 persen secara bulanan pada November 2020. Bulan lalu, Bahana TCW mengepit dana kelolaan reksadana Rp43,64 triliun dengan market share 8 persen. 

10. Panin Asset Management

Panin AM membukukan kenaikan dana kelolaan reksadana 5 persen YtD jadi Rp13,24 triliun pada November. Secara bulanan AUM reksadana Panin AM naik 10 persen dan YoY naik 7 persen. Panin berada di peringkat 16 dalam daftar MI AUM reksadana terbesar dengan market share 2 persen. 

Untuk dafrar MI juara dana kelolaan reksadana selengkapnya sebagaimana tertera dalam tabel berikut :

Top 20 MI AUM Reksadana Terbesar November 2020

Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report November 2020

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report November 2020. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi [email protected] (cc: [email protected]).

(Abdul Malik/Tim Data)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.