Pasar Saham & Obligasi Tertekan, Reksadana Berbasis Sektor Energi Cemerlang

Saham-saham di sektor energi telah naik signifikan hingga 35 persen dalam 3 pekan terakhir dan menopang kinerja IHSG
Abdul Malik • 12 Oct 2021
cover

Ilustrasi tren pemulihan ekonomi dunia membuat konsumsi energi kembali pulih, namun tidak diimbangi dengan pasokan energi yang memadai seperti sebelum pandemi. Kondisi itu membuat negara-negara di dunia mengalami krisis energi dan mengakibatkan lonjakan harga komoditas energi, sehingga mendongkrak harga saham-saham sektor energi dan kinerja reksadana berbasis energi. (Shuttertsock)

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,34 persen pada perdagangan kemarin, setelah sepekan sebelumnya naik signfikan. IHSG pada 11 Oktober 2021 turun 0,34 persen ke level 6.459,7.

Meski indeks saham Tanah Air tertekan, menurut analisis Bareksa,  saham-saham di sektor energi telah naik signifikan hingga 35 persen dalam 3 pekan terakhir dan menopang kinerja IHSG, didorong tren kenaikan harga komoditas akibat krisis energi global. Kondisi itu membuat reksadana saham dan reksadana indeks berbasis saham energi juga melanjutkan tren penguatan.

Sementara itu, kenaikan imbal hasil (yield) acuan obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) akibat potensi pengurangan program pembelian obligasi di Negara Adidaya tersebut pada November mendatang, turut menekan pasar obligasi Indonesia melemah.

Hal ini mendorong penurunan kinerja mayoritas reksadana pendapatan tetap. Investor juga menanti data neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis pekan ini dan diproyeksikan dapat menjadi sentimen positif untuk pasar keuangan Indonesia, jika lebih baik dari perkiraan.

Di tengah tekanan di pasar saham dan obligasi nasional, investor dengan profil risiko agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor energi yang mencatatkan pertumbuhan kinerja.

Investor dengan profil risiko moderat juga bisa melirik beberapa produk reksadana pendapatan tetap yang masih membukukan kinerja mantul di tengah tekanan pasar. Baberapa produk reksadana tersebut ialah sebagai berikut :

Imbal Hasil Reksadana 1 Tahun (per 11 Oktober 2021)

Reksadana Saham

Manulife Saham SMC Plus : 39,95 persen
TRIM Syariah Saham : 24,19 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 25,32 persen
Principal Index IDX30 Kelas O : 18,99 persen

Reksadana Pendapatan Tetap

Sucorinvest Stable Fund : 9,28 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 7,09 persen

Perlu diingat, apapun produk investasi pilihan kamu, agar selalu disesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu investasi, serta profil risiko kamu ya!

(Sigma Kinasih/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.