Target Raih Hingga Rp818,75 M, Benny Tjokro Bawa Armidian Karyatama IPO

Perusahaan yang merupakan bagian dari grup Hanson ini menawarkan saham IPO seharga Rp300 hingga Rp500
Bareksa • 01 Jun 2017
cover

Direktur Utama PT Armidian Karyatama Tbk Benny Tjokrosaputro bersama jajaran direksi dan komisaris, memaparkan rencana penawaran perdana saham (IPO) di Jakarta, Rabu (31/5)

Bareksa.com – PT Armidian Karyatama Tbk, salah satu perusahaan properti Grup Hanson milik Benny Tjokrosaputro akan melepas sahamnya ke publik melalui skema penawaran perdana saham (IPO). Perusahaan yang tengah berfokus menggarap lahan di kawasan Maja, Banten, melepas 1,64 miliar saham baru atau setara dengan 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Melalui paparan publik dan due dilligence meeting Rabu, 31 Mei 2017, harga saham Armidian ditawarkan mulai Rp300 hingga Rp500 per saham. Artinya, perseroan bakal meraup dana mulai dari Rp491,25 miliar hingga Rp818,75 miliar.

“Dana hasil IPO untuk anggaran belanja modal dan pelunasan utang. Rinciannya, 70 persen belanja modal (capex), 30 persen pelunasan utang,” kata Direktur Utama Armidian Benny Tjokrosaputro.

Untuk memuluskan rencana ini, Armidian telah menunjuk PT Yuanta Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi. CEO Yuanta Sekuritas Francis Surya Widjaja mengungkapkan, pihaknya hanya akan menawarkan saham Armidian ke investor domestik saja.

“Ini karena mengingat produk milik Armidian dikenal menyasar menengah ke bawah,” imbuh Surya. Salah satu proyek perseroan adalah Citra Maja Raya, yang merupakan kerjasama operasi dengan PT Harvest Time dan PT Citra Benua Persada (grup Ciputra).

Perseroan menargetkan bisa mendapat pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 14 Juni 2017 dan bisa memulai penawaran umum pada 15-16 Juni 2017. Jika sesuai jadwal, maka pencatatan saham Armidian bisa berlangsung pada 22 Juni 2017.

Keuangan Minus

Jika mengacu pada kinerja keuangan akhir 2016, perusahaan yang beraset Rp1,35 triliun ini masih membukukan rugi Rp14,06 miliar. Menurut Benny, catatan rugi itu terkait belum masuknya catatan marketing sales yang dimulai pada 2015 ke accounting sales.

Sejak 2015, perseroan mencatat marketing sales proyek Citra Maja Raya mencapai 8.500 unit dengan nilai Rp1,8 triliun. Benny menjelaskan, dari jumlah itu, yang akan diserahterimakan ke Armidian mencapai 1.500 unit.

“Angkanya sekitar 30 persen dari total penjualan. Nanti akan masuk jadi accounting sales sekitar Rp150 miliar lebih, setelah dipotong Harvest dan grup Ciputra,” terang Benny.

Jika hal tersebut terjadi, Benny pun memperkirakan perseroan bisa mencatat laba pada tahun ini. Namun menurut Benny, catatan laba itu pun masih terbilang kecil. Meski begitu, Benny yakin, perseroan bisa meraup laba Rp151 miliar pada 2018 dan Rp191 miliar pada 2019.

Di sisi lain, Surya menerangkan, terkait laba 2018 dan pada harga saham Rp300-Rp500, maka price earning ratio (PER) Armidian bisa berkisar 16,2 kali hingga 27 kali. Sementara jika melihat target 2019, dengan harga Rp300-Rp500, PER perseroan berkisar 12,8 kali hingga 21,3 kali. (hm)