Berita / Kategori / Artikel

Dream For Freedom dan CSI Raup Rp5,5T; Waspada Modus 2 Investasi Bodong Ini

Dream For Freedom (D4F) hingga saat ini sudah menghimpun dana masyarakat hingga Rp 3,5 triliun.
• 01 Nov 2016
cover

Logo Dream For Freedom, salah satu contoh investasi bodong atau money game yang telah menipu masyarakat.

Bareksa.com - Pihak otoritas menyerukan kepada masyarakat untuk waspada terhadap modus produk investasi yang memberi iming-iming keuntungan berlipat tetapi tidak sesuai regulasi, bahkan melakukan penipuan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sudah terdapat dana masyarakat senilai Rp5,5 triliun dari dua investasi bodong yang saat ini sedang ditindaklanjuti oleh Satuan Tugas Waspada Investasi.

Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan OJK Tongam Lumban Tobing mengungkapkan dua nama entitas pembohongan berkedok investasi ini adalah PT Cakrabuana Sukses Indonesia (CSI) dan Dream for Freedom (D4F). Menurut Tongam, D4F telah berhasil meraup Rp3,5 triliun dari upaya menipu sebanyak 700.000 peserta dan CSI mengumpulkan sekitar Rp2 triliun dari 7.000 orang.

Selain itu satgas juga melakukan penyelidikan terhadap UN Swissindo yang melakukan penipuan kredit. Swissindo telah mengumpulkan Rp300 juta dari sekitar 3 ribu nasabah. 

Pola yang ditawarkan oleh ketiga investasi bodong ini pun berbeda-beda. PT CSI menarik para korbannya dengan cara membuat waralaba (franchise). Mereka yang membeli franchise CSI akan dibuatkan kantor, dibelikan mobil, diberi pekerjaan dan digaji. 

“Tetapi mereka harus membayar Rp600 juta untuk bisa mendapatkan satu franchise. Oleh karena itu walau pesertanya hanya 7 ribu orang tetapi dana yang dihimpun bisa mencapai Rp2 triliun,” ujarnya di Jakarta 1 November 2016. 

Sementara itu, D4F menawarkan bunga satu persen per hari untuk para anggotanya. Mereka harus membayar untuk menjadi anggota dan diberikan pilihan paket yakni paket silver, gold, ataupun paket platinum. Namun, skema perputaran uang hanya datang dari pembayaran anggota baru. Anggota lama mendapatkan bunga dari anggota baru yang direkrutnya begitu seterusnya hingga terjadi pembayaran macet. Skema ini biasa disebut dengan nama ponzi game atau mirip dengan multilevel marketing (MLM).

Sedangkan Swissindo menarik korbannya karena melakukan kegiatan penawaran pelunasan kredit. Sasaran mereka adalah para debitur macet di perbankan. Jaminannya, perusahaan ini menerbitkan surat jaminan dan pernyataan pembebasan utang yang dikeluarkan dengan mengatasnamakan presiden dan negara Republik Indonesia maupun lembaga internasional dari negara lain. 

“Para debitur itu dihasut untuk tidak perlu membayar utang mereka kepada para kreditur,” katanya. 

Pada saat yang sama, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Agung Setya, mengatakan saat ini pihak kepolisian sudah menahan para pendiri D4F, salah satunya bernama Fili Muttaqien.

“Hari ini kami sudah menyita 1 unit apartemen di Central Park dan 1 mobil. Selanjutnya kami akan kejar aset pelaku karena itu adalah uang para korban,” katanya. 

Agung mengatakan pihak kepolisian akan terus mengejar dan menjebloskan mereka yang menikmati hasil dari investasi bodong ini baik secara langsung tidak langsung aktif ataupun pasif. 

Investasi Aman & Berizin

Dalam kesempatan yang sama, OJK menyerukan kepada masyarakat agar tidak mudah tertipu dengan adanya rayuan atau iming-iming investasi dengan hasil berlipat ganda dalam waktu cepat.

"Kami sebagai otoritas pasti akan menjaga dan melindungi, akan tetapi masyarakat juga perlu waspada agar jangan sampai tertipu. Bila ada tawaran investasi dengan keuntungan berlipat ganda dan mencurigakan, segera laporkan kepada kami," ujar Tongam.

Modus yang ditawarkan oleh ketiga investasi bodong tersebut memang menggiurkan. Namun, bukan berarti tidak ada investasi di dunia nyata yang benar memberikan keuntungan besar. Salah satunya adalah investasi reksa dana.

Reksa dana adalah kumpulan uang dari sejumlah investor yang dikelola oleh manajer investasi yang ditempatkan di berbagai aset keuangan mulai dari deposito, saham hingga surat utang. Perlu dicatat bahwa berinvestasi di reksa dana sangat aman dan uang nasabah tidak dapat dibobol oleh manajer investasi.

Berbeda dengan investasi bodong seperti D4F atau CSI, manajer investasi yang mengelola reksa dana tidak menyimpan uang nasabah sendiri melainkan melalui pihak ketiga yakni bank kustodian. Manajer investasi tidak bisa mencairkan dana nasabah untuk dimasukan ke kantong pribadinya.

Dalam transaksi reksa dana, ketika nasabah melakukan pembelian, maka uang yang dibayarkan akan masuk ke dalam rekening atas nama reksa dana di Bank Kustodian, bukan ke rekening manajer investasi. Manajer investasi tidak mempunyai akses langsung ke dana investor, karena uang tersebut tersimpan di bank kustodian. Ketika investor melakukan penjualan, bank kustodian pula yang melakukan transfer dana kepada investor, bukan dari manajer investasi.

Dengan adanya peran dari bank kustodian ini, maka investasi dalam bentuk reksa dana menjadi lebih aman dan nyaman serta berpihak pada kepentingan investor. Manajer investasi hanya berperan mengatur "isi keranjang belanja" (portofolio) reksa dana, dan tidak sama sekali bersentuhan dengan uang nasabah.

Selain itu, perlu dicatat juga bahwa reksa dana adalah produk investasi yang sudah terdaftar di OJK sehingga investor atau nasabah dilindungi secara hukum. Setiap pihak yang berkaitan dengan produk keuangan ini, termasuk manajer investasi, bank kustodian, dan agen penjual reksa dana harus memiliki izin dari OJK sehingga memastikan dana nasabah dikelola secara profesional. (hm)

Ingin berinvestasi reksa dana?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS

Tags: