Harga Batu Bara Membara Dongkrak Saham PTBA, Dikoleksi 19 Reksadana

Kemarin, saham PTBA ditutup melonjak 8,04 persen ke level Rp4.030 per saham
Abdul Malik • 22 Jun 2022
cover

Ilustrasi karyawan sedang mengoperasikan alat berat untuk menambang batu bara di lokasi tambang PT Bukit Asam Tbk (PTBK). (www.ptba.co.id)

Bareksa.com - Harga saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) bergerak atraktif pada perdagangan Selasa (21/6/2022). Kemarin, saham yang bergerak di industri pertambangan batu bara tersebut ditutup melonjak 8,04 persen ke level Rp4.030 per saham.

Antusiasme pelaku pasar memang tercermin dari aktivitas transaksi saham PTBA yang mencapai Rp607,04 miliar, sekaligus menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar kedua di bursa pada perdagangan kemarin.

Menurut pandangan Bareksa, lonjakan yang terjadi pada saham emiten yang berbasis di Sumatera Selatan ini dikarenakan pelaku pasar merespon kenaikan tajam harga batu bara pada awal pekan ini.

Pada perdagangan Senin (20/6/2022), harga batu kontrak Juli di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 382,25 per ton. Melambung 6,55 persen.

Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 6 Juni lalu atau dua pekan terakhir. Kenaikan tersebut juga kembali mendekatkan harga batu bara ke level psikologis US$ 400 per ton.

Dalam sepekan, harga batu bara menguat 13,4 persen secara point to point. Namun dalam sebulan harga batu bara masih anjlok 9,2 persen.

Melambungnya harga batu bara dipicu oleh keputusan negara-negara besar Eropa yang kembali akan menggunakan komoditas tersebut sebagai sumber pembangkit listrik. Keputusan tersebut akan membuat permintaan batu bara meningkat sehingga kenaikan harga tidak bisa dihindari.

Negara-negara Eropa kembali beralih ke batu bara setelah Rusia memangkas pasokan gas alam cair ke mereka. Jerman, Inggris, Austria, Belanda adalah beberapa negara yang akan kembali menggunakan pembangkit listrik batu bara. Padahal, negara tersebut selama ini relatif anti terhadap batu bara dan memilih menggunakan gas atau sumber energi terbarukan lainnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan Jerman secara resmi sudah mengajukan permintaan batu bara mencapai 150 juta ton pada tahun ini.

Sementara sebagian negara lain masih menunggu proses pengajuan resmi yang diprediksi ikut menaikkan target produksi tambang hingga akhir tahun.

“Nanti kita akan tambahkan produksinya di RKAB, belum ada angkanya tapi gambaran permintaanya sudah 150 juta [ton], itu yang bicara angka Jerman kalau yang saya tahu,” kata Ridwan saat ditemui selepas acara Pengarahan Kepada Penjabat Gubernur dan Penjabat Bupati/Penjabat Walikota di kantor Kementerian Dalam Negeri, Kamis (16/6/2022) seperti dilansir dari Bisnis.

Ridwan memastikan kapasitas produksi di dalam negeri relatif stabil hingga akhir tahun seiring dengan permintaan yang signifikan dari sejumlah negara non tradisional. Menurut dia, cadangan batu bara dari sejumlah perusahaan besar seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) terbilang cukup besar untuk memenuhi permintaan baru tersebut.

“Sumber batu bara dari kita masih cukup kok, termasuk yang besar-besar. Termasuk PTBA dan lain-lain masih cukup kita,” tuturnya.

Adapun realisasi produksi batu bara hingga pertengahan tahun ini masih relatif rendah akibat gangguan cuaca pada awal tahun ini. Selain itu, pendanaan yang seret dari perbankan turut memengaruhi kegiatan eksplorasi pada hulu tambang batu bara.

Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia per Jumat (17/6/2022), realisasi produksi batu bara baru mencapai 271,78 juta ton. Sementara realisasi ekspor menyentuh di angka 95,79 juta ton dan domestik berada di kisaran 72,65 juta ton. Di sisi lain, pemenuhan pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) sudah mencapai 54,03 juta ton. 

Reksadana dengan Underlying Asset Saham PTBA

Melihat adanya sentimen positif pada saham PTBA, maka menarik untuk mengetahui kira-kira produk reksadana apa saja yang memiliki saham ini dalam portofolionya. 

Berikut reksadana di Bareksa yang tercatat menjadikan saham PTBA sebagai underlying asset dalam portofolionya.

Sumber : Bareksa

Berdasarkan penelusuran Bareksa dari fund fact sheet yang ada, setidaknya terdapat 19 produk reksadana yang tercatat memiliki saham PTBA dalam portofolionya, di mana produk tersebut terdiri dari reksadana saham dan reksadana campuran.

Reksadana tersebut di antaranya Bahan Icon Syariah, BNP Paribas Solaris, Cipta Syariah Equity, HPAM Syariah Ekuitas, Krena Flexima, Manulife Saham SMC Plus, Mega Asset Infrastructure, Pinnacle Strategic Equity Fund, Principal Islamic Equity Growth Syariah, Sucorinvest Equity Fund, hingga TRIM Syariah Saham. 

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.