Bareksa Insight : IMF Prediksi Badai Resesi Global, Ini Dampak ke RI dan Kinerja Reksadana

AS, Eropa dan China diproyeksikan mengalami perlambatan ekonomi terdalam, hingga potensi resesi
Abdul Malik • 13 Oct 2022
cover

Ilustrasi investor yang tengah berjuang agar investasinya tetap mendulang cuan di tengah ancaman badai resesi. IMF memprediksi banyak negara di dunia, utamanya AS, Eropa dan China akan mengalami perlambatan ekonomi terdalam hingga potensi resesi di 2023, yang bisa berpengaruh ke kinerja pasar modal termasuk IHSG, SBN dan reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporannya (11/10/2022) mengindikasikan jika beberapa negara di dunia seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China akan mengalami perlambatan ekonomi terdalam, bahkan berpotensi masuk ke jurang resesi. Sejumlah negara tersebut menyumbang sekitar sepertiga dari ekonomi global, sehingga dampaknya akan meluas. 

Namun menurut Tim Analis Bareksa, tentu efek yang dirasakan tiap negara akan berbeda, tergantung seberapa kuat ekonomi di negara tersebut. Indonesia misalnya, selama harga batu bara masih berada di level tinggi karena meningkatnya kebutuhan energi di Eropa, maka neraca perdagangan dalam negeri diprediksi masih akan surplus.

IMF pada Selasa (11/10/2022) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia jadi 2,7% pada 2023, dari proyeksi sebelumnya 2,9%. Untuk 2022 ini, IMF tetap mempertahankan proyeksi ekonomi global tumbuh 3,2%. 

Baca juga : Bareksa Insight : IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global, Ini Jurus Agar Investasi Cuan Terus

Menurut Tim Analis Bareksa, efek potensi resesi tersebut ke pasar modal Tanah Air hingga saat ini masih relatif terjaga. Tren penurunan di pasar saham beberapa pekan terakhir cenderung bertahap, sehingga investor masih memiliki cukup waktu untuk mengatur alokasi portofolio di aset yang lebih rendah fluktuasi. 

Sementara itu, pergerakan pasar obligasi dalam negeri juga masih cenderung stagnan, meski terdapat pelemahan, namun terbatas dan masih bisa diantisipasi dampaknya di portofolio investasi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (12/10/2022) turun 0,43% ke level  6.909,21. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 12/10/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 7,4%.

Lihat juga : Bareksa Insight : Indeks Keyakinan Konsumen Turun, Emas dan Reksadana Ini Prospektif

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Di tengah potensi resesi global yang diperkirakan oleh IMF, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor mencermati dua hal ini agar kinerja investasinya di reksadana tetap maksimal

1. Menurut konsensus, inflasi AS diperkirakan masih akan tinggi di kisaran 8% karena penguatan data tenaga kerja. Sehingga potensi pelemahan pasar obligasi dalam negeri juga masih terbuka. Smart Investor dapat kembali mempertimbangkan untuk berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis Surat Berharga Negara (SBN), jika imbal hasil (yield) acuan Obligasi Negara dapat bergerak ke level 7,5%.

2. Sentimen dari dalam negeri masih terbatas karena pelaku pasar menunggu rilis laporan keuangan kuartal III 2022 emiten nasional. Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase penurunan, sehingga Smart Investor dapat mempertimbangkan untuk kembali masuk ke reksadana saham dan reksadana indeks, jika IHSG sudah mencapai level yang lebih stabil. Untuk saat ini, level support IHSG berada di kisaran 6.700 - 6.900.

Simak juga : Bareksa Insight : Ekonomi AS Membaik Dorong Suku Bunga Terus Naik, Reksadana Ini Bakal Ciamik

Beberapa produk reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko konservatif, moderat dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 12 Oktober 2022)

Reksadana Pasar Uang

Capital Money Market Fund : 17,11%
Sucorinvest Sharia Money Market Fund : 17,01%

Reksadana Pendapatan Tetap

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 18,57%
Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 31,06%

Imbal Hasil 1 Tahun (per 12 Oktober 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 12,46%
Allianz SRI KEHATI Index Fund : 12,29%

Reksadana Saham

Batavia Dana Saham Syariah : 8,83%
Sucorinvest Maxi Fund : 16,09%

Baca juga : Bareksa Insight: Cadangan Devisa Diperkirakan Kuat, Reksadana Ini Bisa Mencuat

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Lihat juga : Bareksa Insight : Harga BBM Naik, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.