Terdorong Sektor Energi dan Komoditas, Ini Potensi Kinerja Reksadana Syariah

Reksadana saham syariah di Bareksa ada yang mencatat return 10 persen setahun terakhir
Hanum Kusuma Dewi • 07 Jun 2022
cover

Ilustrasi investor analis melihat grafik harga saham yang naik dengan gambar panah hijau menunjuk ke atas di layar monitor. (shutterstock)

Bareksa.com -Reksadana syariah memiliki karakter berbeda dengan reksadana konvensional, karena isi dalam portofolionya. Dikelola dengan prinsip syariah dengan batasan-batasan tertentu, reksadana syariah memiliki potensi menarik seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Berikut ulasan reksadana syariah dari Tim Analis Bareksa. 

Pascalibur Lebaran 2022, pasar saham dan pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan karena sejumlah isu global. Namun, tingginya optimisme investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia mendorong pembalikan arah pasar keuangan menjadi positif dari periode 13 Mei hingga 3 Juni 2022.

Penguatan tersebut turut menopang kenaikan reksadana saham maupun reksadana pendapatan tetap. Tidak hanya jenis konvensional, tetapi juga reksadana syariah melaju seiring dengan kenaikan indeks saham syariah (Jakarta Islamic Index/JII) dan indeks obligasi syariah (Indonesia Sukuk Index Composite/ISIXC).

Kinerja Reksadana Saham Syariah

Pada periode tiga pekan tersebut (13 Mei-3 Juni 2022), kinerja indeks LQ45 memang sedikit lebih unggul dibandingkan JII karena porsi sektor keuangan yang lebih besar. Sebagai catatan, saham-saham perbankan konvensional tidak masuk dalam daftar efek syariah sehingga tidak ada dalam portofolio reksadana syariah

Kinerja Pasar Keuangan Indonesia


13 Mei - 3 Juni 2021

Indeks LQ45

4,77%

Indeks JII

4,23%

Indeks Obligasi (ICBI)

2,92%

Indeks Obligasi Syariah (ISIXC)

1,55%

Indeks RD Saham

4,55%

Indeks RD Saham Syariah

4,64%

Indeks RD Pendapatan Tetap

2,22%

Indeks RD Pendapatan Tetap Syariah

1,38%

Sumber: Bareksa Research Team, PHEI, IDX

Meskipun demikian, menurut Tim Analis Bareksa, Indeks Reksadana Saham Syariah bisa naik lebih tinggi karena didorong oleh kinerja sektor barang baku (basic materials) dan sektor energi yang memiliki porsi besar di JII, seperti terlihat pada grafik di bawah. JII sendiri umumnya dijadikan sebagai acuan (benchmark) dari reksadana saham syariah.

Grafik Komposisi Indeks Saham LQ45 dan JII


Sumber: Bareksa Research Team, IDX

Menurut data Bursa, sektor energi dan barang baku yang berbasis saham komoditas merupakan 5 besar sektor dengan kinerja terbaik selama periode 13 Mei hingga 3 Juni 2022. Harga komoditas dunia yang masih berada pada level tinggi turut menyebabkan kenaikan harga saham energi, yang positif bagi reksadana saham syariah.

Tabel Kinerja Sektor Saham di Bursa Efek Indonesia

Sektor IDX-IC

Kinerja 13 Mei - 3 Juni 2022

Transportasi & Logistik

20,79%

Teknologi

14,91%

Energi

10,62%

Industri

5,78%

Barang Baku

5,37%

Konsumer Non-Siklikal

4,75%

Keuangan

3,69%

Konsumer Siklikal

2,92%

Properti

1,89%

Kesehatan

1,35%

Infrastruktur

1,25%

Sumber: Bareksa Research Team, IDX

Baca juga Bareksa Insight : China Siap Buka Lockdown, Potensi Cuan Reksadana Berbasis Saham Energi

Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap Syariah

Selain reksadana saham syariah, reksadana pendapatan tetap syariah juga tidak kalah menarik. Dalam periode yang sama (13 Mei-3 Juni 2022), Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Syariah naik hingga 1,38 persen. 

Kinerja 3 pekan terakhir ini tentu cukup besar dibandingkan kinerja 3 bulan indeks tersebut yang masih negatif, yakni minus 0,93 persen. Perbaikan kinerja ini tidak lepas dari penurunan imbal hasil (yield) obligasi acuan pemerintah, dari level tertinggi di kisaran 7,4-7,5 persen hingga saat ini menguat ke level 6,9-7,00 persen.

Sebagai catatan, pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi di pasar. Jadi, saat yield obligasi turun, harganya menguat di pasar sehingga menopang kinerja reksadana pendapatan tetap, yang berbasiskan obligasi. 

Berkaitan dengan pasar obligasi, investor biasa mengacu pada indeks obligasi yang dikeluarkan oleh Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI). Indeks Obligasi Gabungan (Indonesia Composite Bond Index) dihitung dengan harga-harga obligasi negara (SBN), obligasi korporasi, obligasi syariah atau sukuk negara (SBSN) dan sukuk korporasi dengan komposisi sebagai berikut. 

Tabel Komposisi Indeks Obligasi 

Komposisi Indeks Obligasi (ICBI)

Obligasi Negara (SBN)

93,75%

Obligasi Korporasi

6,25%

Sukuk Negara

18,54%

Sukuk Korporasi

0,29%

Sumber: Bareksa Research Team, PHEI

Seperti terlihat dalam tabel di atas, porsi Sukuk Negara & Sukuk Korporasi lebih rendah dibandingkan SBN dan obligasi korporasi konvensional. Hal ini menyebabkan fluktuasi harga Sukuk biasanya lebih rendah dibandingkan obligasi konvensional, apalagi sukuk korporasi yang porsinya paling rendah dibandingkan jenis obligasi lainnya.

Baca juga Bareksa Insight : Banjir Dana Asing Buat IHSG Meroket, Cuan Reksadana Ini Terbang

Selain itu, serupa dengan indeks saham syariah, komposisi terbesar dari Indeks Sukuk Korporasi saat ini terdiri dari obligasi emiten sektor energi yang memiliki bobot hingga 54 persen. Artinya, kinerja harga komoditas cukup memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan reksa dana pendapatan tetap basis sukuk korporasi.

Grafik Komposisi Indeks Obligasi dan Sukuk Korporasi


Sumber: Bareksa Research Team, PHEI

Sehingga, melihat sejumlah faktor di atas, investor dapat mempertimbangkan investasi di reksadana syariah, baik jenis reksadana saham maupun reksadana pendapatan tetap. Selain itu, smart investor juga perlu melakukan diversifikasi yang cukup, dengan menyesuaikan profil risiko di reksadana pasar uang syariah.

Berikut daftar reksadana syariah di Bareksa yang dapat dipertimbangkan investor.

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Saham

YtD

1 Tahun

Batavia Dana Saham Syariah

10,48%

9,96%

TRIM Syariah Saham

7,44%

7,41%

Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A

10,70%

10,44%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

2,86%

24,32%

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G

3,04%

22,69%

Mandiri Investa Dana Syariah

4,24%

16,87%

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

4,50%

18,62%

Syailendra Sharia Money Market Fund

4,21%

16,65%

Trimegah Kas Syariah

3,45%

13,17%

Sumber: Bareksa Research Team, Return per NAV 3 Juni 2022

Baca juga Rutin atau Baru Investasi Pakai Robo Advisor Bareksa, Raih Reksadana hingga Rp50 Ribu

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS


DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.