Bareksa Insight : China Siap Buka Lockdown, Potensi Cuan Reksadana Berbasis Saham Energi

Pencabutan kebijakan pembatasan wilayah di China memicu harapan impor kebutuhan energi di Negara Panda akan meningkat
Abdul Malik • 31 May 2022
cover

Ilustrasi lockdown di Shanghai, China. Pembukaan lockdown China diprediksi akan mendongkrak permintaan komoditas energi dan saham sektor komoditas energi turut prospektif, sehingga bisa mendorong kinerja reksadana berbasis saham sektor tersebut. (Shutterstock)

Bareksa.com - Sentimen positif bagi pasar modal datang dari China yang akan melonggarkan lockdown (pengendalian aktivitas masyarakat) di Shanghai dan Beijing akibat Covid-19, mulai 1 Juni 2022. 

Menurut analisis Bareksa, pencabutan kebijakan pembatasan wilayah di China memicu harapan impor kebutuhan energi di Negara Panda akan meningkat. Kondisi itu diproyeksikan akan mendongkrak kinerja saham sektor komoditas energi di pasar saham nasional. Hal tersebut berpotensi menopang kinerja reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor komoditas energi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 30 Mei 2022 kembali naik 0,16 persen ke level 7.037,56

Sementara itu, pasar obligasi nasional melanjutkan tren penguatan pada awal pekan ini dan mendorong imbal hasil (yield) acuan menguat hingga ke level 7 persen pada perdagangan kemarin. 

Tercatat selama 2 pekan terakhir yakni periode 13 - 27 Mei 2022, investor asing cenderung melakukan aksi beli di Obligasi Pemerintah (Surat Berharga Negara/SBN) mencapai Rp2,6 triliun. Aksi borong asing turut menopang penguatan pasar obligasi dan reksadana pendapatan tetap. 

Meski begitu, investor juga masih mencermati rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed pada pertengahan Juni 2022.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa memprediksi reksadana saham dan reksadana indeks akan bergerak terbatas setelah 2 pekan terakhir IHSG naik signifikan. Optimisme investor global sedikit meningkat karena harapan pemulihan ekonomi China setelah pelonggaran lockdown. Investor disarankan terus mencermati reksadana saham maupun reksadana indeks berbasis komoditas.

Untuk reksadana pendapatan tetap diprediksikan masih memiliki potensi penguatan, namun terbatas setelah kemarin pasar obligasi bergerak ditutup menguat signifikan. Analisis Bareksa melihat yield obligasi acuan Pemerintah Indonesia akan bergerak di rentang 7 - 7,15 persen pada pekan ini.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Beberapa produk reksadana indeks, reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko agresif dan moderat adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 30 Mei 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 22,83 persen
Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 19,33 persen

Reksadana Saham

Manulife Saham SMC Plus : 9 persen
Sucorinvest Sharia Equity Fund : 11,38 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 30 Mei 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 32,09 persen
TRAM Strategic Plus : 22,96 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.