Bareksa Insight : Harga Komoditas Meroket, Reksadana Ini Makin Cemerlang

IHSG kembali ditutup dengan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di 7,275.29 pada perdagangan kemarin
Abdul Malik • 19 Apr 2022
cover

Ilustrasi kenaikan harga minyak dan komoditas mendorong optimisme investor terhadap pasar keuangan RI, sehingga mendongkrak kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup dengan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di 7,275.29 pada perdagangan kemarin, Senin (19/4/2022).  

Menurut analisis Bareksa, lonjakan IHSG menyusul rilis data neraca dagang Indonesia per Maret 2022 yang mencatat surplus US$4,53 miliar, di atas konsensus dan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. 

Konflik Rusia - Ukraina yang berkepanjangan mendorong kenaikan harga komoditas sebagai salah satu barang ekspor terbesar Indonesia. Meroketnya harga komoditas menjadi salah satu penopang utama kinerja pasar saham Tanah Air dan turut mendongkrak kinerja mayoritas reksadana berbasis saham.

Sementara itu, melihat pergerakan pasar obligasi yang cenderung turun dalam sebulan terakhir, Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) hingga Rp32 triliun untuk periode yang sama.

Kebijakan tersebut dilakukan untuk menopang kinerja pasar obligasi serta sebagai antisipasi tingginya imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mendorong aliran dana asing keluar dari SBN. 

Analisis Bareksa memandang, ekonomi Indonesia yang masih cukup kuat diproyeksikan turut menjaga kinerja obligasi serta reksadana pendapatan tetap hingga akhir tahun 2022.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Reksadana saham diproyeksikan masih bergerak positif setelah rilis neraca dagang RI di atas ekspektasi. Sementara reksadana pendapatan tetap diperkirakan bergerak terbatas karena investor obligasi masih menanti keputusan BI terkait suku bunga acuan (BI 7 day Reverse Repo Rate) pada rapat dewan gubernur bulan ini.

Di sisi lain, harga emas global kembali mengalami penguatan seiring berlanjutnya ketidakpastian konflik Ukraina dan Rusia yang mendorong kekhawatiran tingginya inflasi akibat naiknya harga komoditas. 

Analisis Bareksa memperkirakan harga emas Pegadaian akan berada di level Rp910.000 hingga Rp940.000 per gram dan dapat dipertimbangkan investor untuk menjadi instrumen diversifikasi investasi.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Investor dengan profil agresif dan moderat bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana indeks, reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap dengan kinerja cemerlang berikut ini : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 18 April 2022)

Reksadana Indeks

Principal Index IDX30 Kelas O : 16,52 persen
RHB SRI KEHATI Index Fund : 15,91 persen

Reksadana Saham

BNP Paribas Solaris : 8,52 persen
Schroder Dana Istimewa : 7,95 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 18 April 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 5,74 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 5,59 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.