Bareksa Insight : Data Ekonomi RI Stabil, Reksadana Ini Bakal Makin Cuan

Investor akan mencermati rilis data neraca perdagangan Indonesia pekan ini yang diperkirakan surplus sekitar US$2,89 miliar
Abdul Malik • 18 Apr 2022
cover

Gedung bertingkat memantulkan cahaya matahari di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (15/3). Stabilnya data ekonomi dalam negeri diprediksi akan mendorong kinerja pasar modal, termasuk IHSG, reksadana dan SBN. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHGS) naik tipis sekitar 0,34 persen sepanjang pekan lalu ditutup di 7.235,53 pada Kamis (14/4/2022), atau merupakan pekan perdagangan kedua April 2022 pasar saham nasional. Kenaikan tipis itu karena minimnya sentimen dari dalam maupun luar negeri. 

Menurut analisis Bareksa, investor akan mencermati rilis data neraca perdagangan Indonesia pekan ini yang diperkirakan surplus sekitar US$2,89 miliar ditopang kenaikan harga komoditas. Meski diproyeksikan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sekitar US$3,89 miliar, namun capaian surplus tersebut menunjukkan fundamental Indonesia yang masih stabil dan dapat menopang kinerja pasar keuangan.

Sementara itu, pasar obligasi domestik masih cenderung mengalami penurunan terbatas karena terdampak tingginya imbal hasil (yield) acuan obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang naik hingga 2,8 persen pekan lalu. 

Analisis Bareksa melihat, kondisi ini turut menekan kinerja mayoritas reksadana pendapatan tetap melemah. Di sisi lain, Bank Indonesia diproyeksikan belum akan menaikkan suku bunga acuannya karena inflasi RI belum naik signifikan.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 14/04/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 7 persen pada 14 April 2022.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa memandang reksadana saham akan kembali bergerak terbatas, mengingat investor akan memantau pertumbuhan ekonomi China kuartal I 2022 ini yang diekspektasi mencapai 4,2 persen secara tahunan. 

Sejumlah harga komoditas yang mulai bergerak lebih normal dan masih berada di level tinggi juga menopang surplus neraca perdagangan Indonesia. Sehingga, investor masih dapat mempertimbangkan investasi di reksadana saham, jika IHSG mengalami penurunan di kisaran level 7.000 - 7.100.

Adapun reksadana pendapatan tetap hari ini diperkirakan juga akan bergerak terbatas, seiring investor masih menanti arah keputusan BI terkait suku bunga acuannya.

Investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks dengan kinerja cuan menggiurkan berikut ini : 

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Imbal Hasil 1 Tahun (per 14 April 2022)

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 15,4 persen
RHB SRI KEHATI Index Fund : 15,13 persen

Reksadana Saham

BNP Paribas Solaris : 7,34 persen|
Schroder Dana Istimewa : 6,87 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 14 April 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G : 24,11 persen
Ganesha Abadi Kelas G : 17,94 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.