BeritaArrow iconBareksa InsightArrow iconArtikel

Bareksa Insight: IHSG Anjlok, Cermati Reksadana Pasar Uang

30 Oktober 2026
Tags:
Bareksa Insight: IHSG Anjlok, Cermati Reksadana Pasar Uang
Ilustrasi investasi di reksadana pasar uang. (Shutterstock)

IHSG anjlok 3,49% di tengah pasar bergejolak. Simak reksadana pasar uang rupiah dan dolar AS untuk kebutuhan likuiditas, serta risiko USDT.

Bareksa – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,49% ke level 5.098,06 pada Kamis (29/10/2026). Menurut data BEI, seluruh sektor berakhir di zona merah dengan 653 saham melemah. Sepanjang Oktober, IHSG sudah terkoreksi sekitar 16% dari posisi 6.071 pada akhir September, menurut data Investing.com.

Dari Amerika Serikat, Bank Sentral AS (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% pada Rabu (28/10) waktu setempat. The Fed menyebut inflasi masih tinggi, dan dua anggota komite justru memilih kenaikan suku bunga. Di tengah volatilitas seperti ini, menjaga sebagian dana tetap likuid dan terdiversifikasi dalam rupiah maupun dolar AS dapat membantu investor tetap fleksibel menghadapi perubahan kondisi pasar.

Ringkasan Penting untuk Investor

Aspek
Ringkasan

Yang terjadi

IHSG anjlok 3,49% ke 5.098,06; seluruh sektor melemah.

Penyebab utama

Tekanan jual meluas di seluruh sektor, sejalan dengan pelemahan Shanghai, Hang Seng, dan KOSPI; The Fed menahan suku bunga di level tinggi.

Yang perlu dicermati

Volatilitas IHSG dan pergerakan kurs rupiah yang berada di kisaran Rp18.100 per dolar AS.

Yang dapat dipertimbangkan

Reksadana pasar uang IDR dan USD, serta USDT sebagai alternatif diversifikasi mata uang.


Promo Terbaru di Bareksa

Ringkasan Data Pasar

Indikator
Data Terakhir
Perubahan

IHSG

5.098,06

-3,49% (harian); -16,03% sejak 30 Sep

Kurs USD/IDR

Rp18.130

-0,28% (rupiah menguat tipis); +1,43% sejak 30 Sep

Suku bunga The Fed

3,75%–4,00%

Ditahan

S&P 500

7.720,39

-0,30%

Nasdaq Composite

26.184,72

-1,38%

Sumber: Investing.com, Yahoo Finance, The Federal Reserve. Data penutupan 29 Oktober 2026.

Illustration

Grafik 1. Pergerakan IHSG sepanjang Oktober 2026. Sumber: Investing.com, diolah Bareksa.

Mengapa Likuiditas Penting Saat Ini?

Pertama, volatilitas pasar saham domestik sedang tinggi. Selain penurunan 3,49% pada Kamis, IHSG sempat turun 11,57% dalam sehari pada 16 Oktober 2026 sebelum memantul 5,65% pada 20 Oktober, menurut data Investing.com. Karena itu, dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat lebih sesuai ditempatkan pada instrumen berfluktuasi rendah.

Kedua, dolar AS cenderung kuat dalam setahun terakhir. Kurs USD/IDR naik dari sekitar Rp16.560 pada akhir Oktober 2025 menjadi Rp18.130, atau menguat sekitar 9%, berdasarkan data Yahoo Finance dan Investing.com. Sepanjang Oktober, dolar AS menguat 1,43% terhadap rupiah.

Illustration

Grafik 2. Pergerakan kurs USD/IDR sepanjang Oktober 2026. Sumber: Investing.com, diolah Bareksa.

Ketiga, keputusan The Fed menahan suku bunga di 3,75%–4,00% menjaga imbal hasil instrumen pasar uang dolar AS tetap relatif tinggi. Namun, inflasi AS yang masih tinggi membuat arah suku bunga ke depan belum pasti.

Apa Artinya bagi Investor?

Bagi investor dengan kebutuhan dana jangka pendek, instrumen pasar uang dapat menjadi tempat menempatkan dana sambil menunggu pasar lebih stabil. Diversifikasi ke aset berdenominasi dolar AS juga dapat dipertimbangkan oleh investor yang memiliki kebutuhan dana dalam dolar, dengan memperhatikan risiko nilai tukar. Pilihan instrumen perlu disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko.

Reksadana Pasar Uang IDR

​Reksadana pasar uang berinvestasi pada deposito dan surat utang bertenor di bawah satu tahun, sehingga fluktuasi nilai investasinya relatif rendah dibandingkan reksadana saham.

Produk
1 Bln
3 Bln
1 Thn
Keterangan

Insight Money

0,45%

1,39%

5,13%

Dana kelolaan sekitar Rp474 miliar

Syailendra Sharia Money Market Fund Kelas A

0,45%

1,40%

4,43%

Berbasis syariah; dana kelolaan sekitar Rp892 miliar

Sumber: Bareksa, per 29 Oktober 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

Reksadana Pasar Uang USD

​Reksadana pasar uang USD berinvestasi pada instrumen pasar uang berdenominasi dolar AS, sehingga dapat menjadi alternatif diversifikasi mata uang.

Produk
3 Bln
6 Bln
1 Thn
Keterangan

Bahana Liquid USD

0,62%

1,30%

2,61%

Dana kelolaan setara sekitar Rp1,07 triliun

TRIM Kas USD

0,62%

1,28%

1,28% (6 bulan)

Dana kelolaan setara sekitar Rp105,07 miliar

Sumber: Bareksa, per 29 Oktober 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

USDT sebagai Alternatif Diversifikasi Dolar AS

USDT (Tether) adalah stablecoin, yaitu aset kripto yang dirancang mempertahankan nilai 1:1 terhadap dolar AS. Nilainya dalam rupiah umumnya sejalan dengan kurs USD/IDR.

Indikator
Data
Keterangan

Kurs USDT/IDR

Rp18.139

Indodax, 30 Okt 2026 pukul 08.16 WIB

Kenaikan USD/IDR 1 tahun

Sekitar 9%

Yahoo Finance & Investing.com, Okt 2025–Okt 2026

Sumber: Indodax, Yahoo Finance, Investing.com

Faktor Risiko

  • Risiko pasar: IHSG masih bergerak sangat volatil dan dapat berbalik arah dengan cepat.

  • Risiko nilai tukar: return reksadana USD dan USDT dalam rupiah dipengaruhi pergerakan kurs; penguatan rupiah dapat mengurangi nilai investasi saat dikonversi.

  • Risiko suku bunga: perubahan arah kebijakan The Fed dan Bank Indonesia dapat memengaruhi imbal hasil instrumen pasar uang.

  • Risiko stablecoin: USDT memiliki risiko penerbit dan risiko kehilangan patokan nilai (depeg).

Kesimpulan

Pasar masih bergejolak. Reksadana pasar uang IDR dapat dipertimbangkan untuk dana jangka pendek dalam rupiah, sementara reksadana pasar uang USD dan USDT dapat dicermati sebagai alternatif diversifikasi mata uang, dengan memperhatikan risiko masing-masing.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Perdagangan aset kripto memiliki risiko tinggi. Harga dapat naik dan turun secara signifikan. Pastikan kamu memahami risikonya sebelum bertransaksi. Seluruh rangkaian proses transaksi aset kripto melalui sistem PT Tiga Inti Utama (TRIV). TRIV Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pertanyaan Umum

Mengapa IHSG anjlok pada 29 Oktober 2026?

Tekanan jual meluas ke seluruh sektor, sejalan dengan pelemahan sejumlah bursa Asia seperti Shanghai, Hang Seng, dan KOSPI.

Apa keputusan The Fed pada Oktober 2026?

The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4% dan menyebut inflasi AS masih tinggi.

Apa itu reksadana pasar uang?

Reksadana yang berinvestasi pada deposito dan surat utang bertenor di bawah satu tahun.

Apa beda reksadana pasar uang USD dan USDT?

Reksadana pasar uang USD dikelola manajer investasi dan diawasi OJK sebagai produk reksadana, sedangkan USDT adalah aset kripto stablecoin yang nilainya dirancang setara 1 dolar AS.

Apakah reksadana pasar uang bebas risiko?

Tidak. Risikonya relatif rendah, tetapi tetap ada risiko suku bunga, risiko kredit, dan untuk produk USD, risiko nilai tukar.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.254,05

Up0,05%
Up3,54%
Up3,95%
Up5,09%
Up23,22%
Up17,93%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.209,85

Up0,11%
Up3,27%
Up4,73%
Up5,58%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.220,79

Up0,48%
Up1,71%
Up3,04%
Up4,01%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.024,78

Down-1,31%
Down-2,32%
Down-2,18%
Down-0,18%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua