Bareksa Insight: Yield Obligasi AS Naik, Cermati Reksadana Pasar Uang Jelang Pengumuman BI Rate
Yield obligasi AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007, sementara harga minyak kembali ke sekitar US$91 per barel. Menjelang keputusan BI Rate, investor dapat menjaga likuiditas melalui reksadana pasar uang, serta mencermati reksa dana pendapatan tetap dan emas untuk diversifikasi.

Yield obligasi AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007, sementara harga minyak kembali ke sekitar US$91 per barel. Menjelang keputusan BI Rate, investor dapat menjaga likuiditas melalui reksadana pasar uang, serta mencermati reksa dana pendapatan tetap dan emas untuk diversifikasi.
Bareksa.com - Yield obligasi AS melonjak dan harga minyak kembali naik menjelang keputusan Bank Indonesia (BI), sehingga pasar global memasuki mode risk off.
Namun, kondisi domestik masih relatif tangguh: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,75%, rupiah cenderung datar, dan yield SBN 10 tahun masih lebih rendah dibandingkan akhir Juli.
Dengan momentum ini, reksa dana pasar uang (RDPU) bisa dpertimbangkan jadi tempat menjaga dana jangka pendek, sedangkan reksadana pendapatan tetap (RDPT) dan emas dapat dicermati sebagai diversifikasi dengan pembelian bertahap sesuai profil risiko.
Promo Terbaru di Bareksa
Yield Obligasi AS Melonjak, Risiko Inflasi Lebih Lama
Mengutip Reuters, Yield US Treasury (UST) tenor 30 tahun menyentuh 5,327% pada 18 Agustus 2026, tertinggi sejak 2007. Di tenor 10 tahun, yield berada di sekitar 4,71% dan sempat mencapai 4,75%. Kenaikan yield jangka panjang mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kombinasi harga energi, risiko fiskal AS, dan besarnya penerbitan surat utang baru.
Tekanan berawal dari ketidakpastian di Selat Hormuz. Brent bertahan di sekitar US$91 per barel setelah perundingan AS-Iran tidak menunjukkan kemajuan. Sebelum konflik, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur ini. Jika gangguan berlanjut, pasar dapat kembali menaikkan ekspektasi inflasi dan mempertahankan yield obligasi pada level tinggi.
Efeknya terlihat di Wall Street. Nasdaq 100 turun 1,7%, S&P 500 melemah 0,7%, dan indeks semikonduktor Philadelphia anjlok 5%. Jadi, pelemahan saham AI dan emas terjadi bersamaan.
Pasar Domestik Masih Tahan, tetapi Perlu Waspada
Berbeda dengan Wall Street, IHSG naik 0,75% ke 6.449,83 pada 18 Agustus dan sempat menyentuh 6.490,65. Secara teknikal sederhana, posisi IHSG masih di atas rata-rata 5, 10, dan 20 hari. Area 6.490–6.500 menjadi resistensi terdekat yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi kelanjutan penguatan.
Rupiah juga relatif stabil di Rp17.819 per dolar AS, hanya bergerak sekitar 0,02%. Meski demikian, rentang intraharinya mencapai Rp17.807–Rp17.924,8 per dolar AS. Artinya, penutupan terlihat datar, tetapi volatilitas belum sepenuhnya hilang.
Di pasar obligasi, yield SBN 10 tahun naik 3,8 basis poin dari 7,062% pada 14 Agustus menjadi 7,1% pada 18 Agustus. Kenaikan harian ini menekan harga obligasi, tetapi yield masih sekitar 23,7 basis poin lebih rendah dibandingkan akhir Juli. Selisih yield SBN 10 tahun terhadap UST 10 tahun sekitar 239 basis poin.
Pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 19 Agustus. Konsensus memperkirakan BI Rate dipertahankan di 5,75%. Keputusan sesuai konsensus dapat menjaga stabilitas, tetapi respons pasar akan bergantung pada panduan BI mengenai rupiah, inflasi akibat energi, dan ruang kebijakan berikutnya.
Reksadana Pasar Uang untuk Menjaga Likuiditas
Dalam kondisi global risk off dan menjelang keputusan BI, reksadana pasar uang relevan untuk dana jangka pendek karena berinvestasi pada instrumen pasar uang dan surat utang berjatuh tempo pendek. Volatilitasnya umumnya lebih rendah daripada reksadana pendapatan tetap, tetapi tetap memiliki risiko kredit, likuiditas, dan perubahan tingkat imbal hasil.
Berikut beberapa produk reksadana pasar uang yang bisa dicermati:
Produk | Kinerja 1 tahun |
Insight Money | 5,24% |
Syailendra Dana Kas | 4,67% |
Bahana Liquid USD | 2,76% |
Mandiri Money Market USD | 2,64% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 18/8/2026
Reksadana pasar uang USD bisa dipertimbangkan oleh investor yang memiliki kebutuhan atau tujuan dalam dolar AS. Investor perlu mencocokkan mata uang produk dengan mata uang kebutuhan.
Reksadana Pendapatan Tetap: Cermati Durasi
Kenaikan yield SBN 10 tahun dari 7,062% menjadi 7,1% merupakan tekanan jangka pendek bagi obligasi berbasis SBN. Karena harga obligasi bergerak berlawanan dengan yield, reksadana pendapatan tetap berdurasi lebih panjang umumnya lebih sensitif terhadap perubahan ini.
Namun, kenaikan tersebut belum membalikkan seluruh tren penurunan yield sejak akhir Juli. Karena itu, reksadana pendapatan tetap masih dapat dicermati untuk tujuan menengah-panjang.
Produk | Kinerja 1 Bulan | Kinerja 1 Tahun |
Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A | 1% | 1,06% |
BNP Paribas Prima II Kelas RK1 | 1% | 0,97% |
Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A | 0,21% | 1,92% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 1,07% | - |
Sumber: Bareksa, kinerja per 18/8/2026
Dalam tekanan yield global saat ini, produk berdurasi pendek atau dengan sensitivitas suku bunga lebih rendah cenderung lebih defensif. Produk berdurasi panjang menawarkan peluang lebih besar jika yield turun kembali, tetapi risikonya juga lebih tinggi apabila yield naik.
Harga Emas Terkoreksi: Uji Support US$4.333
Emas spot turun sekitar 2% pada 18 Agustus ke kisaran US$4.329–4.334 per troy ounce. Harga dibuka di US$4.426,08, sempat mencapai US$4.436,15, lalu ditutup di US$4.329,13, hanya sekitar 1,7% dari rentang harian di atas titik terendah US$4.327,28. Pola ini menunjukkan tekanan jual jangka pendek masih kuat.
Secara teknikal, area US$4.333 menjadi support pertama. Karena penutupan berada sedikit di bawah area tersebut, support berikutnya berada di US$4.262 dan US$4.205. Untuk memperbaiki momentum, emas perlu kembali di atas US$4.333 lalu menembus resistensi US$4.448. Jika berhasil, sasaran teknikal berikutnya berada di US$4.518 dan US$4.596.
Skenario emas | Level penting | Keterangan |
Rebound awal | Kembali di atas US$4.333 | Tekanan jual mulai mereda, tetapi belum menjadi konfirmasi tren naik baru |
Konfirmasi lebih kuat | Tembus US$4.448 | Membuka ruang menuju US$4.518 lalu US$4.596 |
Koreksi berlanjut | Turun di bawah US$4.262 | Risiko pelemahan menuju US$4.205 meningkat |
Sumber: Investing, diolah
Sejak 20 Juli–18 Agustus menunjukkan harga emas masih sekitar 6,2% di atas level 20 hari sebelumnya dan di atas rata-rata 20 hari sekitar US$4.208. Namun,harga sudah berada di bawah rata-rata 5 hari sekitar US4.378 dan rata-rata 10 hari sekitar US$4.348.
Artinya, tren menengah belum sepenuhnya rusak, tetapi momentum jangka pendek melemah. Melansir Kitco News, Wells Fargo Investment Institute masih memperkirakan emas berada di US$4.900–US5.100 pada akhir 2026. Proyeksi itu ditopang permintaan investor Asia, pembelian bank sentral, dan fungsi diversifikasi emas. Namun, Wells Fargo juga menilai jalur kenaikannya tidak akan lurus dan risiko penurunan tetap ada.
Bagi investor, emas dapat digunakan sebagai alternatif diversifikasi dengan mencermati akumulasi bertahap saat koreksi atau metode dollar cost averaging (DCA), bukan mengambil posisi besar pada satu harga. Porsinya perlu disesuaikan dengan profil risiko, horizon, dan komposisi aset lain.
Harga Beli Emas Digital
Platform | Harga beli per gram* |
Pegadaian | Rp2.605.000 |
Treasury | Rp2.566.465 |
Indogold | Rp2.587.224 |
Sumber: fitur Bareksa Emas per 19/8/2026 pagi
Kesimpulan
Lonjakan yield obligasi AS menunjukkan pasar sedang meminta kompensasi lebih besar atas risiko inflasi, minyak, dan fiskal. Kondisi itu menekan saham teknologi, obligasi berdurasi panjang, dan momentum jangka pendek emas. Meski demikian, IHSG dan rupiah memperlihatkan ketahanan relatif menjelang keputusan BI. Reksadana pasar uang dapat dicermati untuk menjaga likuiditas. Reksadana pendapatan tetap masih relevan untuk horizon menengah-panjang. Emas bisa untuk diversifikasi melalui strategi DCA saat koreksi.
Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Pertanyaan Umum
Mengapa yield obligasi AS naik menjadi perhatian investor Indonesia?
Yield obligasi AS yang tinggi dapat membuat aset dolar lebih menarik,
menekan arus modal ke pasar berkembang, dan meningkatkan volatilitas
rupiah serta SBN. Dampaknya juga dapat merambat ke saham dan emas
melalui perubahan ekspektasi suku bunga.
Apakah reksadana pasar uang cocok menjelang keputusan BI Rate?
Reksadana pasar uang dapat dicermati untuk menjaga likuiditas karena
durasinya relatif pendek dan volatilitasnya umumnya lebih rendah
daripada reksadana pendapatan tetap. Namun, reksadana pasar uang tetap
memiliki risiko investasi.
Apakah kenaikan yield SBN negatif bagi reksadana pendapatan tetap?
Dalam jangka pendek, kenaikan yield biasanya menekan harga obligasi dan
NAB reksadana pendapatan tetap, terutama yang berdurasi panjang. Untuk
horizon lebih panjang, yield yang lebih tinggi juga dapat membuka titik
masuk baru apabila kemudian stabil atau turun.
Kapan emas menarik dicermati setelah koreksi?
Investor dapat memantau kemampuan emas bertahan atau kembali di atas
US$4.333. Jika tekanan berlanjut, support berikutnya berada di US$4.262
dan US$4.205. Akumulasi bertahap atau strategi DCA dapat membantu
mengurangi risiko salah memilih satu titik harga.
Apa perbedaan reksadana pasar uang rupiah dan dolar AS?
Reksadana pasar uang rupiah cocok untuk kebutuhan dalam rupiah,
sedangkan reksadana pasar uang USD lebih relevan untuk tujuan dalam
dolar AS. Investor berbasis rupiah perlu memperhitungkan perubahan kurs
karena return produk USD tidak langsung sama dengan hasil dalam rupiah.
Profil Penulis

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.241,33 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.196,27 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.206,53 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.037,42 | - | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.


