Berita Hari Ini: Arus Investasi Emas Mengalir Deras,Target Penjualan ORI017 Naik

Sri Mulyani cerita krisis era Jokowi & SBY, lelang SBSN diprediksi menurun, outflow BEI Rp1,59 T, cadangan emas menyusut
Senin, 06 Juli 2020 06:57:33 WIB Abdul Malik
Image
Ilustrasi kenaikan harga emas di pasar spot. (Shutterstock)

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin, 6 Juli 2020 :

Arus Investasi Emas

Maraknya investor yang berburu emas di pasar spot membuat permintaan akan emas fisik oleh pembeli ritel tradisional di China dan India menurun tajam akibat harga yang terlampau tinggi.

Seperti dilansir dari Bloomberg, arus investasi ke emas exchange traded fund (ETF) terutama di Amerika Utara dan Eropa terus mengalir deras, sejalan dengan investor yang mencari aset safe haven di tengah tekanan wabah Covid-19.

Di saat yang sama, permintaan emas di China dan India yang merupakan pasar emas batangan, emas koin, dan perhiasan terbesar di dunia terpantau sangat rendah akibat penutupan mal dan pembatasan impor akibat pandemi.

Kondisi tersebut juga diperparah oleh harga yang terus meroket, sehingga membuat minat masyarakat menurun. Buntutnya, perdagangan emas fisik sulit untuk normal kembali meski aktivitas perdagangan mulai berangsur normal.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, sokongan terhadap kenaikan harga emas akan hilang karena arus investasi di pasar ETF turun atau, kedua, sebaliknya harga emas bisa naik lebih tinggi jika permintaan di China dan India pulih.

Head of Commodities and Portfolio Manager DWS Investment Management Americas Inc. Darwei Kung memproyeksikan investor AS dan Eropa bakal tetap tertarik pada emas, terlepas dari melemahnya permintaan di Asia.

"Namun, jika pola pembelian China dan India naik seiring dengan kenaikan harga di pasar ETF, harga emas akan naik lebih tinggi lagi," papar dia seperti dilansir Bisnis.com, Minggu (5/7/2020)

Berdasarkan riset Goldman Sachs, permintaan investasi akibat kekhawatiran akan gejolak pasar alias mencari aset safe haven telah berkontribusi hingga 18 persen terhadap kenaikan harga emas tahun ini.

Di sisi lain, pembelian yang lebih rendah oleh konsumen di negara berkembang menyumbang sekitar 8 persen. Adapun, pemulihan ekonomi dan pelemahan dolar berpotensi menyokong kenaikan permintaan.

Meski begitu, analis Commerzbank AG Carsten Fritsch menyebut kenaikan harga emas yang terus menerus tetap akan memperburuk permintaan di Asia dan membuat harga emas semakin tergantung pada investor di Barat.

Bloomberg mencatat, harga emas spot telah meningkat 17 persen tahun ini, menutup kuartal kedua dengan dengan reli terbesar dalam lebih dari empat tahun. Bahkan pada Selasa (30/6/2020) emas berjangka di Comex mencapai level US$1.800 per troy ounce untuk pertama kalinya sejak 2011.

Kenaikan ini tak memberikan dorongan yang signifikan pada para investor di Asia, meskipun di saat yang sama perekonomian telah dibuka kembali. Pasalnya, lockdown membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan pelemahan ekonomi membuat masyarakat menahan pengeluaran.

Konsultan logam mulia Metals Focus Ltd. memperkirakan penurunan 23 persen untuk konsumsi perhiasan emas Cina pada 2020, sementara permintaan India diperkirakan turun 36 persen.

Sebaliknya, permintaan emas ETF melonjak karena kekhawatiran atas prospek ekonomi, peringkat negatif dan penurunan nilai mata uang setelah langkah-langkah stimulus global besar-besaran mendorong investor mencari safe haven.

Berdasarkan data Bloomberg, total kepemilikan emas fisik dalam ETF telah meningkat lebih dari 600 ton tahun ini, dan arus masuk ke pasar ETF melampaui pembelian ritel di Cina dan India pada kuartal pertama untuk pertama kalinya sejak 2009.

ORI017

Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI) seri ORI017 ternyata laris manis diburu para investor. Bahkan, penjualan obligasi ritel yang menawarkan kupon 6,4 persen ini telah melebihi target yang ditetapkan pemerintah. Adapun pemerintah sebelumnya mematok target penjualan ORI017 sebesar Rp10 triliun. Namun, hingga 3 Juli 2020 rupanya target tersebut sudah terlewati. Padahal, masa penutupan penjualan ORI017 masih pada 9 Juli mendatang.

“Total keseluruhan completed order sampai dengan 3 Juli 2020 telah mencapai Rp11,4 triliun (tepatnya Rp11.404.030.000.000) dari target awal kami Rp10 triliun,” ujar Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Deni Ridwan dilansir Kontan.co.id, Sabtu (4/7).

Deni menjelaskan, dari jumlah itu, investor terbesar datang dari kalangan wiraswasta yang mencapai 45,1 persen. Kemudian disusul  pegawai swasta 22,7 persen dan ibu rumah tangga 12,7 persen. Kemudian 19,5 persen sisanya merupakan investor dengan pekerjaan selain ketiga di atas.

Dengan tingginya animo investor, Deni mengaku bahwa pemerintah saat ini tengah mempertimbangkan untuk meningkatkan (upsize) target penerbitan ORI017. “Namun terkait berapa target penjualan ORI017 yang baru, sejauh ini masih proyeksi internal, kami belum bisa published,” pungkas Deni.

Penjualan ORI017 sejauh ini telah berhasil melampaui penjualan seri sebelumnya, yakni ORI016. Saat itu, ORI016 hanya terjual Rp8,21 triliun. Dengan masih tersisa 3 hari lagi sebelum penutupan, ORI017 juga berpotensi bisa melampaui penjualan sukuk ritel seri SR012 yang berhasil mengantongi Rp 12,14 triliun pada Februari silam.

Lelang SBSN

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan akan mengadakan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Selasa (7/7). Dalam lelang kali ini pemerintah memasang target indikatif Rp7 triliun.

Lelang SBSN sebelumnya (23/6) berhasil kantongi hasil yang memuaskan setelah dana penawaran yang masuk mencapai Rp38,85 triliun, atau yang tertinggi selama kuartal II 2020.

Namun, para analis menyebut lelang SBSN Selasa (7/7) akan mengalami sedikit penurunan, baik dari segi peminat ataupun jumlah penawaran yang akan masuk. Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, peminat lelang SBSN masih akan cukup ramai walau kemungkinan dari jumlah permintaan tidak akan seramai sebelumnya.

“Melihat situasi saat ini, minat lelang SBSN masih akan cukup tinggi walau cenderung terbatas. Salah satu sebabnya adalah jumlah kasus positif virus corona yang masih tinggi dan performa instrumen investasi lain saya pikir akan cukup memengaruhi minat, khususnya investor domestik,” ujar FIkri dilansir Kontan.co.id (21/6).

Senada, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto memperkirakan jumlah penawaran yang masuk pada lelang SBSN besok akan cenderung turun. Ramdhan menyebut, kondisi pasar yang tertekan belakangan ini akan cukup memengaruhi minat investor untuk masuk ke lelang.

“Selain kasus corona dalam negeri, secara global kasus positif juga masih terus bertambah. Belum lagi ketegangan geopolitik beberapa negara beberapa waktu terakhir juga menambah kekhawatiran terlihat dari pelemahan rupiah dan penguatan harga emas,” kata Ramdhan.

Dengan kondisi investor asing yang masih akan ragu masuk, Ramdhan melihat pasar domestik akan kembali menunjang lelang SBSN besok. Terlebih, kondisi di pasar saat ini menunjukkan likuiditas yang cukup baik.

Karena itu, Ramdhan memperkirakan dana penawaran yang akan masuk berada di kisaran Rp20 triliun. Sementara Fikri masih lebih optimistis dengan memproyeksikan dana penawaran yang masuk mencapai Rp30 triliun.

Arus Dana Asing

Dalam sepekan terakhir Bursa Efek Indonesia mencatat aliran modal asing masih terus keluar. Investor asing membukukan aksi jual bersih Rp1,59 triliun pada sepekan terakhir. Head of Research Analyst FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan, aliran dana asing masih sangat volatil dalam jangka pendek seiring dengan ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Hanya saja, sambungnya, dalam jangka panjang investor asing dana asing masih akan masuk ke pasar saham bursa di regional Asia. Menurutnya, negara-negara di Asia termasuk Indonesia menarik menjadi tujuan investasi lantaran masih mencetak pertumbuhan yang tinggi.

"Kalau kita lihat Asia sendiri akan jadi pusat ekonomi global, yang mana pasar Eropa dan Amerika pertumbuhannya sudah tidak signifikan," ujarnya ketika dilansir Kontan, Minggu (5/7).

Ia bilang, untuk pasar Indonesia sendiri aliran dana asing masih mudah berubah, akan tetapi arus dana asing yang keluar saat ini memang tak begitu besar ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Jika dihitung dari awal tahun, investor asing sudah mencetak aksi jual bersih senilai Rp16,17 triliun. Investor asing kemungkinan mengalihkan dananya ke beberapa instrumen investasi yang lebih aman.

Adapun beberapa indikator pasar modal Indonesia terbilang menarik salah satunya karena negara emerging market memiliki return atau imbal hasil yang meningkat. Kemudian, Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia.

"Kalau kita lihat secara historikal, pertumbuhan dari pasar modal ini sebenarnya refleksi dari perekonomian, dimana Indonesia konsisten di tumbuh di atas 5 persen," tambahnya.

Kementerian Keuangan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja meluncurkan buku berjudul 'Terobosan Baru Atas Perlambatan Ekonomi', Sabtu (4/7/2020). Dalam buku itu, Ia menceritakan mengenai pandemi Covid-19 yang membuat semua negara bisa menuju krisis.

Cerita dalam buku ini dituliskan oleh Sri Mulyani berdasarkan pengalaman saat menjadi menkeu dalam dua pemerintahan presiden yakni era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi). Diketahui, Sri Mulyani menjabat menkeu era SBY pada 7 Desember 2005-20 Mei 2010 dan menkeu era Jokowi sejak 27 Juli 2016 hingga saat ini.

"Pada saat kita sibuk menjalankan institusi dan menjalankan undang-undang, jangan lupa at the end fiscal policy is about economic policy. Dan ekonomi itu nggak jalan linier dan mulus. Seperti yang terjadi hari ini," kata Sri Mulyani dilansir CNBC Indonesia.

Dalam periode 2004-2009 misalnya, dia menyebut harga minyak dunia melonjak drastis dari yang tadinya US$30 per barel jadi US$100 per barel. Alhasil, subsidi minyak yang tadinya dipatok Rp90 triliun bengkak menjadi Rp350 triliun setahun.

"APBN kita goyang, bagaimana kita mengolahnya dan mengelolanya. Kalau kita harus membuat reform di bidang subsidi berarti masyarakat harus menanggung harga BBM yang lebih tinggi," ujar Sri Mulyani.

Namun di sisi lain, dia menegaskan pemerintah saat itu berupaya agar angka kemiskinan tidak naik. Karenanya, pilihan-pilihan tersebut menurutnya jadi kesulitan yang luar biasa dalam menentukan kebijakan fiskal.

"Lalu jangan lupa kita terkena tsunami Aceh [26 Desember 2004] waktu itu, dan berbagai episode waktu itu 2008 terjadinya global financial crisis. Bagian itulah bagaimana fiskal bisa tegar tetap menjadi apa yang disebut tempat atau policy untuk negara melakukan adjusment [penyesuaian] pada saat shock itu terjadi, baik dari dalam, dari luar, maupun dari natural disaster seperti tsunami. Itu peran fiskal menjadi luar biasa," katanya.

Kini, di era Jokowi, Sri Mulyani dihadapkan dengan tantangan berbeda. Dia menjelaskan pemerintah tengah sibuk-sibuknya menggencarkan industrialisasi 4.0. "Waktu saya kembali semua orang excited untuk berbicara tentang ekonomi digital, digitalisasi, transformasi terhadap artificial intelligence. Kita sedang sibuk untuk membangun pilar-pilar SDM-nya harus diperbaiki, lingkungan investasi harus dipermudah, kebijakan perdagangan harus kompetitif, produktivitas harus naik, infrastruktur harus dikejar," ujar Sri Mulyani.

Namun lagi-lagi, semua kesibukan tersebut dikejutkan dengan munculnya pandemi Covid-19. Praktis, kebijakan fiskal juga mau tak mau mengalami perubahan. "Lagi kita sibuk begitu kita tiba-tiba kena shock Covid-19 ini. Ini juga mengubah dan me-reset semuanya," kata Sri Mulyani.

Apalagi, situasi pandemi seperti saat ini, menurut dia, belum ada contoh di masa sebelumnya. Pun demikian mengenai skema penentuan kebijakan fiskal yang terbaik. "Even dengan pengalaman yang banyak pun kita akan dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang kadang-kadang tidak pernah ada presedennya," ujar Sri Mulyani.

"Covid bisa dikatakan extraordinary dan unprecedented [belum pernah terjadi sebelumnya]. Karena presedennya adalah 100 tahun yang lalu. Dan saya enggak tahu kebijakan fiskal 100 tahun yang lalu. Yang jelas Indonesia 100 tahun yang lalu masih dalam penjajahan Belanda," lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.

Cadangan Emas

Bos induk perusahaan holding tambang BUMN memperkirakan cadangan emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus menurun, menyusul belum adanya tambahan eksplorasi baru yang signifikan. Belum bisakah PT Freeport Indonesia dilibatkan mengatasi persoalan ini?

Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak mengungkapkan Holding Industri Pertambangan BUMN memiliki target laba Rp2,1 triliun di 2020, yang salah satu penyumbangnya adalah Antam, dari produk unggulan emas. Namun ada tantangan yang harus diwaspadai, yaitu soal cadangan.

"Antam untuk emas dalam dua-tiga tahun ini akan semakin berkurang reserve-nya," ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Komisi VII DPR RI, Selasa (30/6/2020) dilansir CNBC Indonesia.

Orias tidak menyebutkan besaran penurunan cadangan emas. Namun, dia mengingatkan perlunya eksplorasi serius antara Antam dengan perusahaan lainnya untuk mendongkrak cadangan emas tersebut. Mengutip data CEIC, cadangan tambang emas nasional memang cenderung menurun dalam 10 tahun terakhir, yakni dari posisi 3.000 metrik ton pada tahun 2010, menjadi 2.600 metrik ton pada tahun lalu. Artinya, terjadi penurunan 13 persen.

Penurunan terutama terjadi dalam tiga tahun terakhir, sejak tahun 2017. Dengan berkurang 500 metrik ton pada tahun tersebut menyusul kenaikan permintaan emas di tengah tingginya harga logam mulia tersebut. Pada tahun 2017, Antam mencatatkan penjualan emas Rp7,4 triliun, atau meroket 33 persen. Emas menyumbang 59 persen dari total penjualan perseroan pada tahun tersebut senilai Rp12,6 triliun.

Mengacu pada laporan tahunan perseroan per 31 Desember 2017, volume penjualan emas Antam saat itu menjadi 13.202 kilogram, naik dari volume penjualan setahun sebelumnya sebesar 10.227 kilogram. Produksi emas Antam pada periode tersebut mencapai 1.967 kilogram yang berasal dari tambang Pongkor (Jawa Barat) dan Cibaliung (Banten), atau relatif tak berubah dari produksi 2016 sebesar 2.209 kilogram.

(*)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER