CEO Eastspring, Alan T Darmawan: Pasar Sangat Murah, Peluang Investasi Bertahap

Selain telah menelan banyak korban jiwa, pandemi COVID-19 telah membuat pasar keuangan global terguncang
Selasa, 31 Maret 2020 20:39:37 WIB Abdul Malik
Image
Alan T. Darmawan, CEO PT Eastspring Investments Indonesia (Eastspring Investments). (Dok. Eastspring)

Bareksa.com - Pandemi virus korona atau Covid-19 terus meluas dan telah menjangkiti 202 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam sepekan terakhir, episentrum Covid-19 juga beralih dari sebelumnya di China, kini berada di Amerika Serikat dan Eropa. Hingga Selasa (31/03/2020) siang, COVID-19 telah menginfeksi 786.291 orang dengan korban jiwa mencapai 37.820. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan status COVID-19 sebagai "pandemi".

Selain telah menelan banyak korban jiwa, pandemi COVID-19 juga membuat pasar keuangan global terguncang. Beberapa bank sentral dunia bahkan memutuskan untuk melakukan pemotongan suku bunga darurat demi menopang perekonomian. Sentimen negatif dari makin meluasnya wabah virus Covid-19 di dunia dan Indonesia juga menghantam pasar modal nasional.

Tercatat Indeks Harga Saham Gabungan anjlok signifikan. Pelemahan IHSG akibat wabah virus Covid-19 ini sudah terjadi sejak 24 Januari 2020. Pada saat itu, IHSG masih bertengger di level 6.244,11. Namun dua bulan kemudian, yakni pada 23 Maret 2020, IHSG terjun bebas ke level 3.989,52. Pada hari ini (31/3/2020), IHSG ditutup menguat 2,82 persen ke level 4.538 dari penutupan hari sebelumnya.

Pelemahan juga dicatatkan oleh rupiah terhadap dolar AS. Kurs tengah Bank Indonesia mencatat rupiah di level Rp13.895 per dolar AS pada 1 Januari 2020 dan anjlok jadi Rp16.637 per dolar AS kemarin (31/3/2020).


Sumber : Bareksa

Fluktuasi pasar modal juga berdampak pada industri reksadana. Tercatat berdasarkan data Bareksa, secara year to date, tiga indeks reksadana mencatatkan return negatif, dan hanya indeks reksadana pasar uang yang mencatatkan kenaikan 0,38 persen.

Direktur Utama PT Eastspring Investments Indonesia, Alan T Darmawan, menyatakan perseroan juga tidak terlepas dari dampak wabah corona yang mengguncang pasar modal. Tercatat dana kelolaan perseroan per Februari 2020 menurun dibandingkan Januari. Ini karena penurunan nilai asset dasar pada reksadana berbasis saham turun tajam seiring dengan penurunan IHSG.

"Produk dana kelolaan berbasis saham merupakan salah satu kontribusi terbesar dari total dana kelolaan dari Eastspring Investments Indonesia, penurunan drastis harga saham akan berdampak juga pada posisi kami di papan ranking. Namun ketika pasar mengalami pemulihan dan kondisi investasi kembali kondusif, kami yakin dana kelolaan dan papan ranking akan menyesuaikan," ujarnya dalam keterangan tertulisnya kepada Bareksa (31/3/2020).

Meski begitu, Alan yakin asset under management Eastspring akan tetap tumbuh tahun ini seiring membaiknya kondisi pasar modal, ketika wabah Covid-19 mulai teratasi nantinya. Secara rata-rata per tahun (CAGR) dana kelolaan perseroan tumbuh 16 persen sejak 2013. Akhir tahun lalu, Eastspring berhasil membukukan total dana kelolaan Rp92,08 triliun. Adapun dana kelolaan reksadana perseroan per Februari 2020 senilai Rp19,93 triliun, sedikit menurun dari Januari. 


Sumber : Bareksa

Menurut Alan, seiring anjloknya kinerja pasar saham beberapa waktu terakhi, maka pasar ekuitas telah terkoreksi cukup tajam ke level yang sangat murah. "Peluang ini dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan membeli dengan melakukan dollar cost averaging atau investasi secara bertahap," ungkapnya.

Seperti apa strategi Eastspring tetap tumbuh di tengah wabah corona dan bagaimana saran Alan kepada investor di tengah kondisi saat ini? Berikut petikan wawancara tertulis Abdul Malik dari Bareksa dengan Alan (31/3/2020) : 

Bagaimana strategi Eastspring Investment agar kinerja tetap bertumbuh di tengah gejolak pasar saat ini akibat meluasnya wabah corona?

Eastspring Investments Indonesia menawarkan rangkaian lengkap pilihan produk investasi dalam berbagai kelas aset, tergantung pada profil risiko dan tujuan investasi nasabah, melalui 9 reksa dana. Pasar ekuitas saat ini berada di bawah tekanan yang ekstrim seiring dengan meluasnya wabah corona yang dikhawatirkan akan berdampak pada ekonomi global.

Sebagai pandangan kami, pasar akan kembali pulih ke nilai fundamentalnya berdasarkan koreksi-koreksi yang pernah terjadi sebelumnya. Sementara itu, kami juga memiliki pilihan 4 reksadana pendapatan tetap dan 2 reksadana pasar uang, dengan dana kelolaan terbesar di kelasnya. Kami mengelola dana investasi kami dengan manajemen risiko yang baik dengan tujuan memberikan yang terbaik bagi kepentingan nasabah kami.

Bagaimana dampak anjloknya pasar modal saat ini terhadap kinerja perseroan?

Kedua reksadana saham kami (Alpha Navigator dan Value Discovery) mewakili sekitar 20 persen dari total reksadana AUM kami per 31 Desember 2019. Tentu saja dengan koreksi pasar yang dalam akan berdampak pada penurunan dana kelolaan. Penurunan saat ini lebih disebabkan oleh turunnya nilai pasar namun bukan dari adanya arus keluar/redemption nasabah kami. Tim penjualan dan distribusi kami terus melakukan pembaharuan terkait dengan kondisi pasar dan ekonomi terkini, baik kepada nasabah maupun saluran distribusi kami.

Berapa target dana kelolaan tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu?

Kami tidak memiliki target dana kelolaan, sejauh ini dana kelolaan kami tumbuh baik sebanyak CAGR 16 persen sejak 2013 hingga saat ini. Seiring dengan kondisi saat ini tentunya akan sulit untuk mempertahankan tingkat dana kelolaan yang sama, tetapi kami akan terus bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan nasabah kami.

Bagaimana prospek reksadana saham tahun ini? Apa saja sentimen penggeraknya?

Tahun ini merupakan tahun yang penuh tantangan bagi reksadana saham. Sentimen terkait ketidakpastian politik, perang dagang dan wabah virus corona turut menekan kinerja indeks global dan domestik. Valuasi IHSG pada saat ini diperdagangkan pada level yang sangat murah dalam 10 tahun terakhir, atau berada pada level PE 9.8x dibanding rata-rata di 15x.

Sentimen terkait penyebaran virus dan penanggulangannya akan menjadi fokus utama ke depannya. Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah baik stimulus dan kebijakan penurunan suku bunga diharapkan dapat menopang ekonomi dan pertumbuhan laba perusahaan di tahun ini.

AUM reksadana Eastspring pada Februari 2020 menurun sehingga mengakibatkan ranking turun di posisi 10 dari 9 pada Januari, apa penyebabnya?

Penurunan nilai asset dasar pada reksadana berbasis saham turun tajam  seiring dengan penurunan IHSG. Produk dana kelolaan berbasis saham merupakan salah satu kontribusi terbesar dari total dana kelolaan dari Eastspring Investments Indonesia, penurunan drastis harga saham akan berdampak juga pada posisi di papan ranking. Namun ketika pasar mengalami pemulihan dan kondisi investasi kembali kondusif, kami yakin dana kelolaan dan papan ranking akan menyesuaikan.

PT Eastspring Investments merupakan salah satu perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia dengan dana kelolaan mencapai lebih dari Rp92,08 triliun per 31 Desember 2019.

Apa saja produk-produk penopang kinerja perseroan di 2019?

Tahun 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri reksadana. Kami dengan bangga melaporkan bahwa Reksa Dana Eastspring Investments Alpha Navigator kami mencatat kinerja yang lebih tinggi dari tolok ukurnya IHSG. Dana kelolaanpun tumbuh baik seiring dengan kinerja yang baik. Reksadana pendapatan tetap kami juga mencatat kinerja yang baik atau tumbuh dua digit pada tahun 2019 dibandingkan dengan totok ukurnya.

Pada tahun 2019, kami juga untuk pertama kalinya merilis sejumlah reksadana terproteksi bagi nasabah ritel dan institusi yang cukup berkontribusi terhadap pertumbuhan AUM kami.

Berapa produk baru yang diluncurkan sepanjang 2019 dan berapa rencana tahun ini? Untuk jenis produk apa saja?

Tahun 2019 kami telah meluncurkan sebanyak 5 produk reksadana terproteksi dan terkait rencana penerbitan produk pada tahun 2020 masih akan tetap mengikuti kebutuhan nasabah dalam hal memberikan pilihan produk yang sesuai dan beragam.

Bagaimana bapak melihat kondisi pasar modal saat ini? Berapa target IHSG, SBN, pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga BI dan rupiah versi perseroan? Apakah ada revisi seiring gejolak pasar saat ini?

Kita tidak mengeluarkan target indeks dan lainnya kepada publik. Untuk saat ini kami melihat  kondisi investasi di Indonesia masih sangat baik didukung oleh valuasi yang murah. Makro ekonomi Indonesia dinilai masih baik dibandingan dengan negara berkembang lainnya dan masih memberikan potensi investasi yang menjanjikan kedepannya.

Apa saran bagi investor reksa dana, baik investor pemula maupun investor advance dalam menghadapi kondisi pasar saat ini?

Jangan panik, tetap tenang dan terus berinvestasi. Pasar ekuitas terkoreksi cukup dalam ke level yang sangat murah. Peluang ini dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan membeli dengan melakukan dollar cost averaging atau investasi secara bertahap.

Dengan menerapkan strategi investasi yang tepat dan memilih manajer investasi yang terbukti berpengalaman maka kami yakin secara jangka panjang tujuan investasi investor kami akan tercapai.

(*)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER