Rupiah Mulai Bangkit Setelah Tembus Rp16.500 per Dolar AS

Sebabnya, sentimen pelaku pasar yang mulai membaik setelah pemerintah AS menggelontorkan stimulus besar-besaran
Kamis, 26 Maret 2020 13:47:23 WIB Arief Budiman
Image
Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.

Bareksa.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot hari ini (Kamis, 26/03/2020). Mengutip Reuters, hingga pukul 12.00 WIB mata uang Garuda berada di level Rp16.237 per dolar AS, menguat 1,6 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di level Rp16.500 per dolar AS.


Sumber: Reuters

Setelah libur Hari Raya Nyepi pada Rabu (25/03/2020), rupiah langsung menguat tajam di awal perdagangan hari ini. Sebabnya, sentimen pelaku pasar yang mulai membaik setelah pemerintah AS menggelontorkan stimulus besar-besaran.

Hal itu dikarenakan investor bergairah karena pemerintah dan Senat AS dikabarkan telah menyepakati paket stimulus bernilai US$2 triliun atau seitar Rp32.907,12 triliun.

Mengutip CNBC Indonesia, pada Selasa lalu Pemerintah dan Senat AS telah mencapai kesepakatan untuk menggelontorkan stimulus senilai US$2 triliun untuk penanganan wabah virus corona (COVID-19), yang merupakan terbesar sepanjang sejarah.

Sebagai gambaran, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2019 adalah Rp15.833,9 triliun. Artinya, stimulus yang bakal dikucurkan pemerintahan Presiden Donald Trump bernilai lebih dari dua kali lipat nilai seluruh perekonomian Indonesia.

Kesepakatan tersebut saat ini masih dalam tahap Rancangan Undang-Undang (RUU) dan harus divoting terlebih dahulu di Kongres AS, sebelum ditandatangani Presiden AS, Donald Trump.

Dengan gelontoran stimulus tersebut, perekonomian Negeri Paman Sam diharapkan masih bisa berputar di tengah hantaman badai pandemi COVID-19, dan akan berakselerasi cepat begitu COVID-19 berhasil dihentikan.

Adanya sentimen tersebut direspons positif oleh pelaku pasar yang tercermin dari rally bursa saham global dalam dua hari beruntun. Indeks Dow Jones di bursa saham AS bahkan mencatat kenaikan 11 persen di hari Selasa, menjadi kenaikan harian terbesar dalam 87 tahun terakhir.

Kemudian pada Rabu atau dini hari tadi waktu Indonesia, bursa saham New York ditutup cenderung menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 2,39 persen, kemudian S&P 500 bertambah 1,15 persen, namun Nasdaq Composite masih terkoreksi 0,45 persen.

Berakhirnya bursa saham AS di zona hijau menandakan bahwa kepercayaan investor untuk memburu aset bersiko sedang tinggi, yang membuatnya meninggalkan aset safe haven seperti dolar AS untuk sementara waktu.

Selain itu, greenback juga sedang mengalami tekanan setelah bank sentral AS (The Fed) mengumumkan stimulus moneter yang masif pada hari Senin waktu setempat.

The Fed mengumumkan akan melakukan program pembelian aset atau quantitative easing (QE) dengan nilai tak terbatas guna membantu perekonomian Negeri Paman Sam menghadapi tekanan dari COVID-19.

Bank sentral yang dikomandoi oleh Jerome Powell itu mengatakan akan melakukan QE seberapapun yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar serta transmisi kebijakan moneter yang efektif di segala kondisi finansial dan ekonomi.

Nilai yang tak terbatas tersebut seolah menggambarkan bahwa The Fed akan membeli berapapun aset yang diperlukan guna menyediakan likuiditas di pasar. Banjir likuiditas tersebut tentu membuat dolar AS melemah karena banyaknya supply, dan dengan sentimen pelaku pasar yang membaik, maka rupiah akhirnya bisa kembali menguat.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER