Rupiah Ambyar Dihajar Corona, Begini Potensi Investasi di SBN

Berasarkan update terakhir pada subuh hari ini (Jumat, 20 Maret 2020) sudah 160 negara terpapar COVID-19
Jumat, 20 Maret 2020 10:48:18 WIB Arief Budiman
Image
Petugas memeriksa uang rupiah di 'cash center' Plaza Mandiri, Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bareksa.com - Kurs rupiah dibuat tak berdaya melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun ini akibat pandemi virus corona (COVID-19) yang memicu gejolak pasar keuangan global sehingga terjadi capital outflow yang besar dari dalam negeri.

Mata uang Garuda sebenarnya mengawali tahun 2020 dengan ciamik. Pada 24 Januari lalu, rupiah sempat berada di level Rp 13.565 per dolar AS, menguat 2,29 persen dan mendekati level terkuat dalam dua tahun terakhir. Saat itu rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia melawan dolar AS.

Capital inflow yang deras masuk ke Indonesia membuat rupiah kokoh, sebabnya prospek pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi membaik tahun ini.

Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu), sejak akhir 2019 hingga 24 Januari 2020 terjadi inflow Rp30,16 triliun di pasar obligasi, di mana kepemilikan asing atas SBN Rp1.061,86 triliun per 31 Desember 2019, menjadi Rp1.092,02 triliun per 24 Januari 2020, level tersebut sekaligus yang tertinggi sepanjang sejarah.

Para pelaku pasar memburu aset-aset dengan imbal hasil tinggi di emerging market, dan rupiah salah satunya. Selain itu, stabilitas dalam negeri yang terus membaik membuat investor merasa nyaman berinvestasi di Indonesia.

Akan tetapi semua seolah buyar, tatkala COVID-19 muncul di China dan terus menyebar ke seluruh dunia hingga akhirnya ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).


Sumber: Johns Hopkins Uniersity & Medicine

Berasarkan update terakhir pada subuh hari ini (Jumat, 20 Maret 2020) sudah 160 negara terpapar COVID-19, dengan kasus yang terkonfirmasi lebih dari 242.000 orang, dengan 9.843 orang kehilangan nyawanya.

Hal tersebut membuat banyak negara kini menerapkan kebijakan penguncian wilayah (lockdown), pengurangan interaksi sosial (social distancing), isolasi, dan lain-lain yang akhirnya membuat kegiatan ekonomi menjadi menurun drastis, dan pertumbuhan ekonomi berisiko melambat, bahkan terancam mengalami resesi global.

Di Indonesia, hingga Kamis (19/03/2020) COVID-19 sudah terjadi 309 kasus positif, dengan 25 orang meninggal dunia, dan 15 orang dinyatakan sudah pulih.

Kegiatan ekonomi yang turun drastis akibat COVID-19 membuat pelaku pasar cemas yang berakibat kaburnya mereka dari pasar keuangan domestik.
Di pasar saham, mengacu kepada data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak awal tahun hingga Kamis (19/03/2020) investor asing sudah tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp9,45 triliun.

Sementara di pasar obligasi, mengacu kepada data DJPPR, sejak awal tahun hingga Rabu (18/03/2020) kepemilikan investor asing atas SBN sudah tercatat menyusut Rp86,49 triliun.

Pergerakan rupiah memang sangat rentan oleh keluar masuknya aliran modal (hot money) sebagai sumber devisa. Hal tersebut karena pos pendapatan devisa lain yakni transaksi berjalan (current account), belum bisa diandalkan. Sejak tahun 2011 transaksi berjalan RI sudah mengalami defisit. Alhasil, pasokan valas hanya dari hot money, yang sifatnya sangat dinamis karena mudah masuk dan keluar.


Sumber: Reuters

Melansir data Reuters, Kamis (19/03/2020), di pasar spot rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp15.900 per dolar AS, jatuh 4,48 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang di level Rp15.218 per dolar AS.

Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 18 Juni 1998, kala itu rupiah menyentuh level terlemah intraday Rp16.200 per dolar AS. Adapun rekor terlemah rupiah secara intraday Rp16.800 per dolar AS pada 17 Juni 1998.

Adapun sejak awal tahun hingga kemarin, rupiah sudah ambles 14,53 persen year to date (YTD) melawan dolar AS. Dengan pelemahan 14,53 persen tersebut, kinerja rupiah menjadi yang terburuk dibandingkan mata uang utama Asia lainnya.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Masa penawaran Sukuk Ritel seri SR012 yang dimulai 24 Februari 2020 telah berakhir 18 Maret 2020. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER