Direktur Bahana TCW, Budi Hikmat : SBN Menarik Bagi Pegawai Swasta Hingga PNS

SBN tidak hanya punya credit risk terendah sehingga aman, tapi juga tingkat kupon lebih tinggi dari deposito
Jumat, 21 Februari 2020 16:23:34 WIB Martina Priyanti
Image
Ilustrasi pegawai swasta yang berinvestasi di SBN ritel (shutterstock)

Bareksa.com - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyatakan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat untuk turut menyokong pembiayaan untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Makanya, lewat DJPPR Kementerian Keuangan, pemerintah menerbitkan berbagai instrumen Surat Berharga Negara (SBN) antara lain Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST).

Bagai dayung bersambut, langkah pemerintah menerbitkan instrumen investasi yang bisa dibeli masyarakat disambut baik. DJPPR Kementerian Keuangan mencatat, jika melihat profil investor berdasarkan profesi yang membeli instrumen investasi keluaran pemerintah, beragam sektornya.

Sebagai gambaran, profil investor pembeli SBN ritel pertama yang diterbitkan pemarintah pada 2020 yakni SBR009, dari sisi profesi terbanyak adalah pegawai swasta (36,52 persen) dan wiraswasta (19,34 persen). Kemudian, disusul PNS/TNI/Polri (10,97 persen), ibu rumah tangga (9,43 persen), dan pelajar/mahasiswa (8,53 persen).


Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan  

Kepala Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, mengatakan ada banyak interpretasi sekaligus manfaat jika melihat data tersebut. Hal itu tak lain karena ada sejumlah keunggulan SBN sebagai sebuah instrumen investasi.

"SBN tidak hanya punya credit risk paling rendah sehingga aman, tapi tingkat kupon lebih tinggi ketimbang deposito. Market volatility dan perlambatan ekonomi meningkatkan daya tarik SBN. Kalau pegawai swasta dan wiraswasta yang beli, apakah ini indikasi temporary placement memanfaatkan dana bisnis mereka?," kata Budi Hikmat kepada Bareksa, kemarin.

Budi mengatakan meskipun ada anggapan SBN sebagai pemicu crowding-out effect karena bersaing dengan bank dalam memperebutkan dana masyarakat.

"Sebetulnya fenomena crowding-out effect dengan pemerintah relatif temporer. Sebab perolehan dana masyarakat itu bisa langsung dibalikkan ke perekonomian sebagai belanja pemerintah," lanjut Budi.

Sukuk Ritel Seri SR012

Kementerian Keuangan meluncurkan Sukuk Ritel seri SR012. Sukuk Ritel seri terbaru ini adalah instrumen investasi aman yang dijamin pemerintah khusus untuk pemodal individu dan bisa dibeli secara online selama masa penawaran 24 Februari - 18 Maret 2020.

Sukuk Ritel diterbitkan oleh pemerintah sebagai bentuk penyertaan terhadap aset negara. Masyarakat bisa membeli SR012 dengan modal mulai dari Rp1 juta, kelipatan Rp1 juta hingga Rp3 miliar per orang selama masa penawaran.

Keuntungan atau imbal hasil yang diberikan adalah berupa uang sewa (ujrah) dengan persentase tertentu sesuai dengan prinsip syariat Islam yang tidak mengandung unsur riba. Imbal hasil sukuk ini juga akan dibayarkan secara rutin tiap bulan.

Sukuk Ritel adalah instrumen investasi yang 100 persen dijamin oleh negara. SR012 memiliki jangka waktu tiga tahun tetapi bisa dijual sebelum jatuh tempo dan diperdagangkan di pasar sekunder (tradable).

Setelah masa penawaran 24 Februari - 18 Maret 2020, investor masih harus memegang SR012 selama masa tunggu (holding period) hingga pembayaran kupon tiga kali. Setelah itu, investor bisa menjualnya di pasar sekunder mulai 11 Juni 2020.

Pasar sekunder ini adalah kegiatan jual beli SR012 setelah masa penawaran. Bila investor membeli SR012 pertama kali di Bareksa saat masa penawaran, dia bisa menjualnya lagi melalui Bareksa nanti.

Karena bisa diperdagangkan di pasar sekunder, harga SR012 bisa naik dan turun tergantung permintaan di pasar. Misal, ketika investor membeli Rp1 juta, dia bisa menjual kembali seharga Rp1,1 juta dengan mempertimbangkan besaran kupon yang bisa diterima hingga jatuh tempo nanti. Selisih harga penjualan dibandingkan modal Rp100.000 ini yang disebut dengan capital gain.

Perlu diingat, capital gain ini adalah penghasilan yang terkena pajak 15 persen. Jadi kalau kita dapat capital gain Rp100.000, setelah dipotong pajak kita mendapatkan keuntungan bersih Rp85.000.

Kalau kita sebagai investor tetap ingin memegang SR012 hingga jatuh tempo pada Maret 2023 nanti, itu sah-sah saja. Bahkan, kita mendapatkan keuntungan pasti berupa kupon tetap (fixed rate) yang dibayar secara bulanan.

(AM)

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pemerintah berencanakan menerbitkan Sukuk Ritel seri SR012 mulai 24 Februari 2020. Masa penawaran investasi syariah itu hingga 18 Maret 2020. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER