Kasus Jiwasraya dan Ancaman Perang Dunia III, Niat Investasi Jangan Mundur!

Disiplin dalam berinvestasi menjadi kunci
Kamis, 09 Januari 2020 14:46:23 WIB Martina Priyanti
Image
Ilustrasi sejumlah milenial yang berinvestasi di reksadana secara online (Shutterstock)

Bareksa.com - Pemberitaan di media massa maupun pembicaraan di media sosial akhir-akhir ini ramai soal ancaman perang dunia ketiga (world war III) menyusul ketegangan Amerika Serikat dan Iran dan kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya yang melibatkan belasan manajer investasi.

Banyak pihak menyebut jika benar world war III terjadi, maka akan berdampak pada perekonomian dunia mapun Indonesia. Tidak berbeda, kasus Jiwasraya juga berisiko sistemik. Sehingga dunia investasi tampak suram jika mempertimbangkan dua hal tersebut.

Namun menurut perencana keuangan, Prita Hapsari Ghozie, bagi seorang investor termasuk investor pemula, mesti bisa membedakan mana investasi dengan spekulasi.

"Investasi itu berproses dan butuh waktu untuk mencapai hasil yang diinginkan. Artinya, jangka panjang. Maka itu, kasus Jiwasraya seharusnya tidak memiliki dampak besar bagi investor dalam jangka panjang," kata Prita ketika dihubungi Bareksa (9/1/2020).

Prita mengatakan dalam berinvestasi hal penting pertama yang harus diperhatikan ialah soal tujuan berinvestasi.

"Selalu tentukan tujuan berinvestasi, baru pilih produknya. Kemudian, pahami setiap produk punya potensi hasil dan risiko berbeda," lanjutnya.

Hal penting lainnya, ia melanjutkan soal disiplin dalam berinvestasi. Karena itu, jangan sampai mengalokasikan sebagian dari pendapatan untuk dialokasikan di investasi, tidak rutin setiap bulannya. "Disiplin berinvestasi jadi kunci," imbuh Prita.

Sementara itu soal bentuk atau produk investasi yang dipilih, Prita mengatakan hal itu kembali disesuaikan dengan tujuan berinvestasi serta lamanya jangka waktu investasi. Ia mencontohkan, emas batangan baiknya ditujukan untuk investasi yang sifatnya jangka panjang yakni di atas 5 tahun.

Logam mulia atau emas batangan yang dikeluarkan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, pada hari ini (9/1) mengalami penurunan harga hingga Rp17.000 per gram menjadi Rp782.000 per gram, dari posisi sebelumnya yakni Rabu (8/1) yang mencapai Rp799.000 per gram.

Penurunan harga logam mulia itu mengikuti penurunan harga emas global. Nah, sejumlah pengamat menilai naik turunnya emas beberapa waktu belakangan ini terutama dipengaruhi oleh harga emas global perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Investasi Reksadana

Selain emas batangan, reksadana bisa menjadi bentuk investasi yang dapat dipertimbangkan investor. Reksadana ialah salah satu instrumen investasi yang terdiri dari berbagai aset di dalamnya, seperti saham, obligasi atau surat utang dan deposito. Reksadana mengumpulkan uang dari banyak investor yang dikelola oleh manajer investasi supaya nilainya bisa berkembang.

Sebagai bentuk investasi, reksadana mengandung risiko sehingga nilainya bisa naik atau turun dalam jangka pendek. Tapi, jangan khawatir, produk ini resmi dan semua yang terkait seperti manajer investasi, bank kustodian dan agen penjualnya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ada empat jenis reksadana yang tersedia bagi masyarakat umum, yakni reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham. Bila kita memiliki tujuan jangka pendek sekitar setahun, kita bisa memilih reksadana pasar uang. Untuk investasi dalam jangka menengah sekitar tiga tahun, reksadana pendapatan tetap bisa dipilih.

Sementara itu reksadana campuran bisa menjadi alternatif investasi jangka menengah hingga panjang (sekitar tiga hingga lima tahun). Kemudian, reksadana saham cocok untuk investasi jangka panjang karena berpotensi memberikan keuntungan maksimal.

Jika kita mendefinisikan diri kita sebagai investor pemula, ada baiknya kita coba dulu investasi jangka pendek di reksadana pasar uang, yang cocok untuk profil risiko kita.

Seiring dengan berjalannya waktu, jika kita sudah bisa paham tentang pergerakan nilai reksadana, maka bisa mulai memilih reksadana dengan risiko lebih tinggi sehingga bisa mendapatkan potensi keuntungan lebih besar.

Sebelum memutuskan untuk membeli reksadana, sebaiknya kita harus mengetahui tidak hanya jenis-jenis reksadana tetapi juga isi portofolio yang membentuk reksadana tersebut. Selain itu, kita juga perlu mengenal manajer investasi yang mengelola produk reksadana itu.

Segala informasi yang berkaitan dengan suatu produk reksadana, mulai dari manajer investasi, bank kustodian, hingga kebijakan investasi, telah tertera dalam prospektus reksadana. Selain itu, ada juga fund fact sheet yang diperbaharui tiap bulan berisi tentang informasi dana kelolaan, isi portofolio dan pembanding kinerja reksadana.

Ayo mulai berinvestasi reksadana sekarang juga agar tujuan keuangan kita di masa depan bisa tercapai.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER