JPMorgan Prediksi IHSG Tembus 7.250 di 2020, Sentimen Positif dari Dalam Negeri

Pertumbuhan laba dan valuasi murah akan membawa asing kembali ke pasar saham
Selasa, 03 Desember 2019 10:44:54 WIB Issa Almawadi
Image
Karyawan berada di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (31/7). ANTARA FOTO/Reno Esnir

Bareksa.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir November 2019 terkoreksi secara year to date (ytd) 2,95 persen ke level 6.011,83. Bahkan, IHSG sempat bertengger di bawah level 6.000 atau mencapai level terendah 5.826,87 pada 17 Mei 2019.

Pasar saham Indonesia memang sedang dalam volatilitas tinggi. Sebab Indonesia tengah mendapat beberapa sentimen mulai dari isu politik hingga kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

Namun tahun 2019 yang tersisa kurang dari 1 bulan, justru membuat beberapa pihak menilai IHSG akan kembali menguat pada 2020 mendatang. Seperti proyek JPMorgan yang dikutip CNBCIndonesia, 27 November 2019.

JPMorgan memproyeksikan, IHSG bisa bangkit dan menyentuh level lebih dari 7.000 atau mencapai 7.250 pada akhir 2020.

EVP, Head of Wealth Management & Client Growth Commonwealth Bank Ivan Jaya menilai proyeksi dari JPMorgan cukup beralasan di mana IHSG telah melewati ketidakpastian kondisi politik pada 2019 setelah Pemilu berjalan aman dengan menghasilkan komposisi yang cukup solid di kursi DPR untuk mendukung pemerintahan kedua Jokowi.

Sementara itu, dengan konsensus yang memprediksi pertumbuhan laba dapat mencapai 12 persen pada tahun depan serta IHSG yang diperdagangkan pada valuasi yang cukup murah pada saat ini (P/E 19x) dengan rata-rata P/E selama 10 tahun di level 22x dapat membawa kembali dana asing yang saat ini keluar dari pasar saham Rp25 triliun di pasar reguler.

Di sisi lain, kata Ivan, kebijakan pemotongan suku bunga acuan Bank Indonesia sebanyak 100bps sepanjang tahun 2019 ini juga akan mulai berdampak positif pada pasar saham pada tahun depan setelah pada tahun ini menopang penurunan yield obligasi.

Net interest margin (NIM) bank dan pertumbuhan kredit diharapkan akan membaik pada tahun depan dan akan mendorong sektor perbankan, yang memiliki bobot besar di IHSG, tumbuh lebih baik pada 2020,” terang Ivan kepada Bareksa, Senin, 2 Desember 2019.

Ivan juga menjelaskan, yang dapat mendukung kenaikan IHSG mencapai level prediksi JPMorgan dari global adalah adanya pemilihan umum AS di 2020, di mana adanya kepentingan Presiden Trump untuk terpilih lagi. Diperkirakan Presiden Trump akan mengambil kebijakan yang lebih lunak terkait perang dagang dengan China.

“Kita tahu bahwa pasar saham Indonesia juga ikut terdampak negatif akibat perang dagang yang belum terselesaikan sepanjang 2019,” tambah dia.

Sebelumnya, Kepala Bidang Investasi Avrist Asset Management Tubagus Farash Akbar Farich mengaku cukup kesulitan mempredikasi target level IHSG tahun ini.

“Karena banyak sentimen eksternal jangka pendek ketimbang fundamental,” tutur Farash kepada Bareksa, Senin, 2 Desember 2019.

Tapi Farash melihat, rata-rata return wajar IHSG mencapai 10 persen sampai 12 persen per tahun selama lima tahun ke depan. Hal itu, kata Farash, ditopang normalisasi valuasi sekitar 1 persen, dividen 2 persen dan pertumbuhan laba 7 persen sampai 9 persen per tahun.

Lalu, bagaimana pengaruhnya terhadap reksadana saham?


Sumber: Bareksa.com

Reksadana Saham

Ivan menerangkan, IHSG yang merupakan benchmark pasar saham tentu sangat berpengaruh pada kinerja reksadana saham itu sendiri. “Apabila IHSG positif, maka kecenderungan reksadana saham pun akan bergerak positif,” imbuh Ivan.

Dengan beragam sentimen yang akan memengaruhi IHSG, Faras menilai, prospek reksadana saham secara jangka pendek pasti fluktuatif.

“Tapi kalau pilih reksadana dengan underlying portofolionya big caps dengan fundamental dan likuiditas baik, dalam jangka panjang pasti mendapat return yang optimal,” jelas dia.

Untuk itu, Farash menyarankan agar investor reksadana melakukan diversifikasi antara reksadana indeks saham seperti IDX30 dan LQ45 untuk jangka pendek dan ETF atau obligasi untuk jangka menengah.

“Kalau lihat tahun ini, obligasi positif. Sementara, return saham masih negatif,” tambah Farash.

Karena itu, Farash menegaskan diversifikasi lebih baik ke ETF dan obligasi. “Tapi, tetap ada reksadana saham untuk porsi keperluan investasi jangka panjang,” imbuhnya.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER