Harga Rokok Sudah Naik Bertahap, Yakin Belum Mau Berinvestasi?

Kalau masih mau tetap jadi perokok aktif, bakal makin banyak pengeluaran uang rokok lho
Selasa, 03 Desember 2019 08:58:59 WIB Martina Priyanti
Image
Deretan sejumlah rokok di salah satu gerai rawalaba di Yogyakarta. (Rembolle / Shutterstock)

Bareksa.com - Tarif cukai rokok dan harga eceran rokok baru bakal resmi mulai berlaku 1 Januari 2020 atau 29 hari lagi. Akan tetapi, Badan Pusat Statistik atau BPS pada Senin (2/12/19) menyampaikan telah menemukan adanya kenaikan harga rokok secara bertahap di 50 kota di Indonesia.

Suhariyanto, Kepala BPS seperti dikutip Detik Finance, mengatakan rokok masuk dalam kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau yang mencatat inflasi (kenaikan harga) sebesar 0,25 persen dengan andil 0,04 persen sepanjang November 2019. Di sana, rokok kretek dan rokok kretek filter, masing-masing menyumbang inflasi 0,01 persen.

Hasil pemantauan BPS menyebutkan, kenaikan harga jual rokok telah terjadi di Sibolga (Sumatera Utara) khususnya rokok filter yang naik 0,70 persen kemudian antara lain, di Tegal (Jawa Tengah), Madiun (Jawa Timur), dan Pontianak (Kalimantan Barat) yang naik 2 persen.

BPS menilai temuan adanya kenaikan harga rokok sebagai bentuk antisipasi pedagang jelang pemberlakuan secara resmi kenaikan tarif cukai rokok. "Jadi sudah mulai naik pelan-pelan selama beberapa bulan terakhir," katanya.

Terhitung mulai 1 Januari 2020, pengenaan tarif cukai rokok akan naik rata-rata 21,56 persen, dengan kenaikan harga jual eceran (HJE) rokok rata-rata sebesar 35 persen. Kebijakan baru tersebut, tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 152 tahun 2019 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Detik Finance mencatat, kenaikan tarif cukai rokok terbesar bakal terjadi pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) yaitu sebesar 29,96 persen. Kemudian pada cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), akan naik sebesar 25,42 persen, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49 persen, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) 12,84 persen. Baca juga..

Menteri Keuangan Sri Mulyani menetapkan, bahwa tarif cukai dan harga jual eceran yang sudah tertera tidak boleh lebih rendah dari peraturan tersebut. Disebutkan, kegiatan penyediaan pita cukai juga harus segera dilaksanakan setelah PMK 152/2019 diundangkan paling lambat 1 Februari 2019.

Uang Rokok untuk Investasi

Kalau ingin diibaratkan, bisa jadi kan ada 1001 alasan mengapa seseorang memilih untuk menjadi perokok aktif dan sulit untuk berhenti merokok. Sejumlah alasan merokok antara lain, biar diterima lingkungan sosial, terpengaruh lingkungan baik pertemanan atau sering melihat orang tua merokok, iseng-iseng, biar terlihat keren, biar terlihat dewasa, biar mudah diterima lingkungan, dan sudah kecanduan. Ada pula yang beralasan, ingin menolong kehidupan para petani tembakau dan juga membantu negara dari sisi penerimaan negara dari cukai rokok.

Apapun alasan merokok, yakin kah kamu wahai perokok kan tetap terus menerus membeli rokok meski harganya naik? Jika kamu memutuskan untuk serius berhenti merokok dan atau mau mulai belajar berhenti merokok, coba alihkan dana untuk penggeluaran beli rokok ke dalam salah satu bentuk investasi.

Misalkan saja, kamu telah memutuskan untuk berinvestasi di reksadana pasar uang syariah yang tersedia di marketplace investasi Bareksa.com. Jika sebelumnya, kamu mengalokasikan Rp300.000 per bulan atau setara Rp10 ribu per hari, dengan adanya kenaikan harga jual rokok maksimal 35 persen, pengeluaran rokokmu akan membengkak jadi Rp405.000 per bulannya, atau Rp13.500 per hari.

Selanjutnya, jika pengeluaran rokok bulananmu itu dikalikan 12 untuk menghitung total pengeluaran rokok dalam 1 tahun, hasilnya Rp4.860.000. Misalkan saja kamu memutuskan untuk menyimpan uang untuk membeli rokok setiap bulannya ke dalam reksadana pasar uang Capital Sharia Money Market, yang secara historikal mengantongi imbal hasil (return) 6,58 persen dalam satu tahun terakhir (per 1 Desember 2019).

Berdasarkan hasil simulasi Bareksa (1 Januari 2018 hingga 2 Desember 2018), nilai investasi kamu berpotensi meraih imbal hasil Rp124.218. Sehingga total dana pokok dan imbal hasil investasi yang akan kamu dapatkan mencapai Rp4.984.000.

Asumsi perhitungan di atas dalam 1 tahun saja, sehingga bisa dibayangkan kan jika kamu memperluas lamanya waktu kamu berinvestasi. Konsistensi dalam mengalokasikan dana khusus untuk nabung reksadana, selain bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang kamu harapkan, juga bisa jadi gambaran berapa banyak uangmu yang 'menguap' dari setiap hembusan rokok yang kamu hisap.

(hm)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER