Tokopedia akan Genjot Investor Ritel Reksadana

Selain berencana IPO, Tokopedia juga membangun kedekatan dengan pelaku industri pasar modal
Selasa, 19 November 2019 11:39:08 WIB Abdul Malik
Image
Logo Tokopedia (Bareksa/Lancester)

Bareksa.com - AVP of Fintech Tokopedia, Samuel Sentana, mengatakan selama dua tahun dalam bisnis penawaran produk investasi reksadana, Tokopedia telah bermitra dengan berbagai mitra, mulai manajer investasi hingga Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI).

"Model bisnisnya kami ambil fee dari manajer investasi, jadi tidak dibebankan langsung ke customer. Kami menyadari selama dua tahun ini, minat investasi meningkat," ujar Samuel, di Jakarta dilansir Investor Daily (19/11/2019).

Minat itu terlihat dari Tokopedia Reksadana yang mencatatkan kenaikan jumlah transaksi dan pengguna pada kuartal III 2019. Transaksi dan jumlah pengguna Tokopedia Reksadana melonjak 1,5 kali pada September 2019 dibandingkan Maret 2019. 

Samuel menyatakan saat ini dua manajer investasi yang menjadi mitra perseroan adalah PT Syailendra Capital dengan produk Syailendra Dana Kas dan PT Mandiri Manajemen Investasi dengan produk Mandiri Pasar Uang Syariah Ekstra.

Tokopedia tidak menutup kemungkinan untuk menggandeng lebih banyak manajer investasi yang kredibel di masa mendatang. "Untuk produk baru reksadana, akan ada satu hingga dua lagi sampai akhir tahun ini. Setelah itu kami akan fokus peningkatan transaksi," ungkap Samuel.

Samuel mengakui fee yang diraih perseroan dari transaksi reksadana online merupakan salah satu bentuk diversifikasi pendapatan. Meskipun saat ini kontribusinya masih sangat kecil, namun Tokopedia juga tidak melihat banyak persaingan antara pelaku online marketplace yang terjun ke bisnis ini.

Ketua Presidium Dewan APRDI, Prihatmo Heri Muljanto mengatakan pertumbuhan investasi reksadana semakin menarik yang tercermin dari jumlah dana kelolaan mencapai Rp551 triliun per 14 November 2019 dengan jumlah investor reksadana menembus 1,5 juta single investor identification (SID). Namun kompisisinya masih dikuasi investor institusional.

"Komposisi investor memang masih didominasi institusi. Padahal investor ritel merupakan segmen yang sangat strategis ke depan," ungkap Prihatmo.

Berdasarkan data OJK, total produk reksadana di pasar mencapai 2.165 produk. Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Sujanto, menyatakan dengan jumlah penduduk Indonesia 260 juta jiwa, maka rasio jumlah investor masih tergolong rendah, yakni 0,8 persen dari total penduduk. Padahal negara lain sudah mencapai 20 persen.

"Saya harap kampanye APRDI dan Tokopedia bisa sampai ke pelosok Indonesia untuk meningkatkan jumlah investor," ungkapnya.

Rencana IPO

Tokopedia membuka wacana untuk menggelar penawaran umum perdana saham/initial public offering (IPO) di masa mendatang. Namun hingga saat ini belum ada target waktu spesifik kapan IPO Tokopedia digelar. Namun persiapan untuk go public terus dimatangkan. Chief Executive Officer Tokopedia, William Tanuwijaya, mengatakan setelah 10 tahun berdiri, perseroan menargetkan untuk mencapai break event point tahun depan.

Gross merchandise value (GMT) Tokopedia ditargetkan tumbuh tiga kali lipat menjadi US$16 miliar atau sekitar Rp222 troliun pada tahun ini. Serta pihak penjual (seller) ditargetkan menjadi 6,4 juta pada 2019 dari 5 juta pada 2018. "Dual listing kemungkinan besar akan menjadi pendekatan kami," ungkap William.

Tokopedia pada awal Maret 2018 resmi mengumumkan kerja sama dengan Bareksa dalam menyediakan fasilitas pembelian reksa dana online, yang bertujuan mempermudah akses masyarakat dalam berinvestasi. Awal kerjasama dimulai sejak Februari 2018.

Keunggulan Tokopedia Reksadana adalah likuiditas, yang memungkinkan pencairan instan pada hari yang sama di waktu transaksi, atau disebut dengan T+0 yang merupakan inovasi pertama di Indonesia.

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER