Wujudkan Bisnis Berkelanjutan, OVO Kurangi Sebagian Beban Operasional

Perseroan mengenakan biaya transfer sesuai arahan regulator yaitu Bank Indonesia
Rabu, 06 November 2019 14:20:38 WIB Abdul Malik
Image
Pegawai OVO sedang menjelaskan fitur-fitur OVO kepada pelanggan pada acara Indonesia FinTech Summit & Expo 2019 di JCC, Jakarta (23/09/2019). (Bareksa/AM)

Bareksa.com - Platform penyedia layanan pembayaran, rewards, dan layangan keuangan terbesar, PT Visionet Internasional (OVO) menargetkan untuk mewujudkan bisnis berkelanjutan dengan mengurangi sebagian beban operasional. OVO akan menerapkan biaya transfer ke rekening bank senilai Rp2.500 per transaksi mulai pertengahan November 2019.

Direktur OVO, Harianto Gunawan, mengatakan pemungutan biaya transfer dilakukan untuk mengurangi sebagian beban operasional perusahaan. Dia menjelaskan, penerapan biaya transfer itu merupakan arahan dari pihak regulator, yaitu Bank Indonesia. Biaya transfer ini juga salah satu cara untuk menjaga agar bisnis digital payment OVO terus berkelanjutan.

"Sesuai arahan regulator, OVO sedang bergerak ke arah sustainable business. Ini penting supaya kami bisa terus berinovasi dan melakukan edukasi agar visi cashless society bisa diwujudkan," ucap Harianto dikutip tempo.co (5/11/2019).

Harianto menjelaskan keputusan ini sudah berlaku sejak pertengahan November 2019. Dia menambahkan, biaya Rp 2.500 yang dikenakan oleh OVO dalam transfer ke bank lain sangatlah terjangkau, kompetitif, dan real time transfer.

"Dapat dilihat biaya transfer tersebut tetap lebih murah dibandingkan dengan biaya transfer yang ada di market saat ini," katanya.

Saat ini biaya transfer uang antar bank konvensional Rp6.500, baik lewat SMS banking, internet banking maupun ATM. Sedangkan biaya transfer uang lewat kliring Rp5.000.

Berdasarkan laman informasi pada aplikasi OVO, selama ini transfer ke bank tidak dikenai biaya untuk sepuluh transaksi pertama setiap bulannya. Transfer dapat dilakukan kepada semua bank. Dengan catatan besar nominal transfer minimum adalah Rp10.000 per transaksi. Konfirmasi transfer dapat dilihat pada informasi status transfer. Rincian transfer bisa dilihat di laman history di aplikasi OVO.

OVO memang menargetkan semakin memperluas bisnis keuangannya. Setelah menorehkan catatan gemilang di bisnis uang digital, perseroan menargetkan semakin memperluas dan memperkuat bisnis asuransi dan wealth management. Menurut Harianto, sekitar lima tahun mendatang, OVO ingin melayani seluruh masyarakat Indonesia, termasuk bagi yang unbanked dan underserved.

Sehingga OVO akan fokus dalam pengembangan produk dan layanan finansial untuk memastikan pemerataan akses keuangan. Harianto mencontohkan produk yang akan hadir di OVO seperti pembayaran, pinjaman, asuransi, dan wealth management untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Meski begitu, perseroan masih optimistis bisnis uang digital akan terus berkembang. Hal itu mengingat OVO membukukan lonjakan monthly active user hingga 400 persen pada 2018. Lonjakan ini berpotensi terus berkembang seiring berjalannya waktu. Karena itu OVO hadir untuk mempercepat inklusi keuangan melalui platform pembayarannya dan menghadirkan layanan keuangan yang dapat mempermudah transaksi seluruh masyarakat.

Awal Oktober lalu, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, menyatakan, OVO bergabung di jajaran unicorn asal Indonesia, sebagai perusahaan pembayaran dan layanan keuangan digital pertama.

Dalam laporan CB Insights bertajuk The Global Unicorn Club disebutkan OVO memiliki valuasi US$2,9 miliar atau setara Rp40,6 triliun. Unicorn merupakan julukan bagi startup yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar atau Rp14 triliun. CB Insights menyatakan OVO menyandang status unicorn sejak 14 Maret 2019. Pertumbuhan valuasi OVO dinilai cukup cepat bahkan melampaui valuasi Traveloka dan Bukalapak yang sudah lebih dahulu menyandang status unicorn.

Daftar Unicorn RI

1. GO-JEK dengan valuasi US$10 miliar (Rp140 triliun)
2. Tokopedia dengan valuasi US$7 miliar (Rp98 triliun)
3. OVO dengan valuasi US$2,9 miliar (Rp40,6 triliun)
4. Traveloka dengan valuasi US$2 miliar (Rp28 triliun)
5. Bukalapak dengan valuasi US$1 miliar (Rp14 triliun).

(*)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER