Apakah Berinvestasi di Reksadana Saham akan Mendapatkan Dividen?

NAB reksadana akan dihitung dari nilai aset yang ada dalam portofolio dan dikurangi oleh biaya-biaya
Senin, 08 Juli 2019 17:10:44 WIB Arief Budiman
Image
Ilustrasi investor perempuan yang berinvestasi di reksadana (shutterstock)

Bareksa.com - Dalam berinvestasi saham, selain berharap keuntungan dari selisih kenaikan harga saham (capital gain), investor juga mengharapkan adanya dividen yang dibagikan oleh emiten kepada para pemegang sahamnya.

Emiten yang memiliki kinerja cemerlang biasanya akan membagikan dividen kepada pemegang saham setiap tahunnya. Besarannya memang tidak tetap setiap tahunnya, bergantung dari persentase pembagian dividen (divident payout ratio/DPR) yang ditentukan oleh perusahaan tersebut dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).

Jika berinvestasi pada saham akan mendapatkan dividen, lantas apakah berinvestasi di reksadana saham juga akan memperoleh dividen?

Lantaran dividen dibagikan kepada investor perorangan maupun institusi yang memiliki saham perusahaan, maka reksadana saham pun akan mendapatkan dividen. Namun yang membedakan adalah dividen ini tidak dibagikan langsung kepada investor, tetapi akan masuk ke dalam perhitungan nilai aktiva bersih (NAB) per unit reksadana tersebut.

NAB reksadana akan dihitung dari nilai aset yang ada dalam portofolio dan dikurangi oleh biaya-biaya dari reksadana tersebut. Nah, perolehan dividen dari saham yang diinvestasikan kepada portofolio saham tersebut masuk ke dalam perhitungan nilai aset dari reksadana.

Tidak hanya saham, imbal hasil dari instrumen investasi lainnya yang ada dalam portofolio reksadana, juga masuk dalam perhitungan nilai reksadana. Karena itu investor tidak memperoleh imbal hasil secara langsung, tapi sudah terakumulasi dalam NAB per unit reksadana tersebut.

Contoh Perhitungan NAB per unit Reksadana


Sumber : Bareksa

Pada tabel tersebut tampak ilustrasi dari proses pembentukan NAB per unit suatu reksadana. Misalnya portofolio suatu reksadana saham terdiri atas 80 persen saham, 10 persen obligasi, dan 10 persen instrumen pasar uang berupa deposito. Total aset yang dimiliki reksadana saham tersebut pada saat baru terbentuk Rp400 juta.

Dengan asumsi tidak adanya biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaan reksadana karena reksadana baru dibentuk, maka diperoleh NAB reksadana Rp400 juta dan NAB per unit Rp1.000 dengan asumsi jumlah unit penyertaan reksadana 400.000 unit.

Setahun kemudian, reksadana saham tersebut akan memperoleh imbal hasil dari instrumen yang diinvestasikan dalam portofolio reksadana tersebut. Misalnya saja jumlah dividen yang diterima dari investasi saham sekitar Rp9,6 juta. Adapun kupon yang diterima dari obligasi 10 persen per tahun atau Rp4 juta. Selanjutnya untuk instrumen deposito mendapat bunga 6 persen per tahun atau Rp2,4 juta. Alhasil total nilai aset reksadana saham tersebut RpRp416 juta.

Kemudian total nilai aset tersebut dikurangi biaya yang timbul dari pengelolaan reksadana (biaya manajemen, biaya kustodian, biaya transaksi, dan lain sebagainya) misalkan sebesar Rp3 juta, maka NAB dari reksa dana tersebut menjadi Rp413 juta atau sekitar Rp1.032,5 per unit.

Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan investor tidak secara langsung mendapatkan imbal hasil dari instrumen-instrumen investasi yang ada dalam portofolio reksadana. Imbal hasil tersebut telah terakumulasi dalam NAB reksadana.

Hal yang dapat memengaruhi naik turunnya NAB per unit reksadana adalah adanya kenaikan atau penurunan aset yang berasal dari pergerakan instrumen dalam portofolio reksadana atau pun adanya tambahan imbal hasil dari instrumen tersebut.

Selain itu, adanya pembelian (subscription) atau penjualan (redemption) oleh investor juga ikut mempengaruhi naik turunnya NAB per unit reksadana, apalagi nominal transaksi tersebut tergolong besar.

Jadi, dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa keuntungan yang diperoleh investor reksadana hanya berasal dari return NAB reksa dana yang berasal dari pergerakan harian reksadana tersebut, dan tidak ada imbal hasil tambahan yang diperoleh investor secara langsung dari investasi instrumen dalam portofolio reksadana tersebut.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER