Berita Hari Ini : Neraca Dagang Surplus US$540 Juta, Utang Luar Negeri Rp5.480 T

MI ramai terbitkan ETF, PLN emisi global bond US$1 miliar, capex AALI Rp1,7 triliun, ADHI garap tol Yogya - Solo
Selasa, 16 April 2019 08:01:47 WIB Gita Rossiana
Image
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara (ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan)

Bareksa.com - Berikut kami sajikan informasi terkini mengenai ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi yang disarikan dari informasi keterbukaan Bursa Efek Indonesia dan berita media massa, Selasa, 16 April 2019 :

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Maret 2019 mencapai US$14,03 miliar sedangkan nilai impor mencapai US$13,49 miliar. Hal ini menyebabkan neraca perdagangan Maret 2019 mengalami surplus US$540 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan dengan realisasi ekspor dan impor maka terjadi surplus untuk dua bulan berturut-turut. Di Februari 2019 terjadi surplus US$330 juta dan Maret 2019 US$540 juta.

Bank Indonesia

Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia per akhir Februari 2019 tercatat US$388,7 miliar atau naik 8,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Jika dirupiahkan total utang luar negeri mencapai Rp5.480 triliun (asumsi kurs Rp14.100 per dolar AS).

Posisi ULN pada Februari juga tercatat tumbuh lebih kencang dibanding bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 7,2 persen yoy.

Menurut Bank Indonesia (BI), peningkatan tersebut utamanya berasal dari ULN pemerintah. Posisi ULN pemerintah per akhir Februari 2019 naik US$3,68 miliar menjadi US$190,8 miliar atau tubuh 7,3 persen yoy.

Angka pertumbuhan tersebut jauh meningkat dibanding periode Januari yang mana kala itu ULN pemerintah hanya naik 3,85 persen yoy,

Penyebab utama peningkatan ULN adalah arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Nasional (SBN) domestik sepanjang Februari. Tercatat investor asing melakukan beli bersih SBN domestik Rp32,8 triliun atau setara dengan US$2,27 miliar.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)

Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyebut PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan segera merilis obligasi global atau global bond dengan jumlah pokok US$1 miliar pada Mei 2019.

“Perusahaan Listrik Negara [PLN] di Mei 2019 (akan menerbitkan) global bond, itu rencana sampai US$1 miliar,” ujar Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro di Jakarta, Senin (15/4/2019).

Sebelumnya, Direktur Keuangan Perusahaan Listrik Negara Sarwono mengungkapkan perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun pada 2019.

Separuh dari kebutuhan tersebut rencananya akan dipenuhi melalui fund raising atau penggalangan dana. “Fund raising sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun,” ujarnya.

Sarwono mengatakan 50 persen dari kebutuhan belanja modal digunakan untuk investasi pembangkit. Sisanya atau sebesar 50 persen digunakan untuk pengembangan transmisi dan distribusi.

Bursa Efek Indonesia

Banyaknya permintaan terhadap produk reksadana ETF (Exchange Traded Fund) mendorong para manajer investasi untuk agresif menerbitkan produk tersebut pada tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, per 12 April 2019 terdapat reksadana ETF sebanyak 27 produk yang tercatat di Bursa. Adapun sepanjang tahun berjalan, produk baru yang diluncurkan tercatat sebanyak tiga produk atau lebih banyak ketimbang periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 2 produk.

Terbaru, Philip Asset Management resmi meluncurkan produk reksadana ETF pertamanya dengan nama Reksa Dana Indeks ETF Phillip MSCI Indonesia Equity Index (XPMI).

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp1,6 triliun hingga Rp1,7 triliun tahun ini. Belanja modal AALI tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

"Suka tidak suka, belanja modal Astra Agro tidak bisa menurun drastis, " terang Direktur Umum Astra Agro Lestari Santoso, Senin (15/4).

Informasi saja, tahun lalu total belanja modal perusahaan perkebunan milik Grup Astra mencapai Rp1,6 triliun.

Belanja modal Astra Agro Lestari sebagian besar digunakan untuk memelihara tanaman yang belum menghasilkan. Belanja modal juga akan dimanfaatkan untuk perawatan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan peralatan operasional.

Sumber pendanaan belanja modal berasal dari kas internal. "Tentu modal utama kami adalah internal cash flow," terang Santosa. Jika kas tidak mencukupi, Santosa mengatakan, AALI masih memiliki fasilitas pendanaan yang belum digunakan.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI)

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berencana menggarap proyek jalan tol yang akan menghubungkan DI Yogyakarta dengan Solo. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp21 triliun.

Direktur Utama ADHI, Budi Harto mengatakan ADHI akan bekerja sama dengan Gama Grup dalam proyek jalan tol yang panjangnya mencapai 160 kilometer.

“Sudah siap desain dari kamp dan tinggal tunggu tendernya saja. Nanti ADHI dapat keistimewaan. Tahun ini tendernya,” ujar Budi di Jakarta, Senin (15/4).

Menurutnya, ADHI sudah melakukan pengajuan usulan terkait rencana dan desain proyek ini kepada pemerintah. Nanti pihak pemerintah yang akan membuka tender untuk menggarap proyek ini.

Sekadar informasi, ADHI sendiri menargetkan kontrak proyek baru di tahun ini Rp30 triliun. Proyek besar lainnya yang akan digarap adalah loop line jalur KRL yang akan memindahkan jalur kereta KRL dalam kota Jakarta menjadi layang.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER