Seberapa Kokoh Posisi ‘Trio Macan Istana’ dalam Perombakan Kabinet Mendatang

Reshuffle kabinet disebut-sebut akan dilakukan setelah Lebaran nanti. Siapa terpental, siapa bertahan?
Kamis, 14 Mei 2015 14:03:02 WIB Yudi S.A.
Image
Menteri Negara BUMN Rini Soemarno (kiri) dan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan sebelum sidang kabinet paripurna di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 7 November 2015 (Antara Foto/Widodo S. Jusuf)

Bareksa.com - Setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia diumumkan melemah, di bawah 5 persen, ada tiga hal yang dapat membantu munculnya kembali sentimen positif bagi pasar -- salah satunya adalah perombakan kabinet.

Dua hal lainnya adalah perkembangan peningkatan nilai investasi asing yang masuk ke Indonesia dan dimulainya berbagai proyek infrastruktur seperti yang dijanjikan Presiden Joko Widodo saat kampanye. Sayangnya, dua hal ini bukan sesuatu yang dapat dilakukan dalam hitungan minggu, apalagi hari.

Tapi, untuk perombakan kabinet, Jokowi dapat melakukannya segera. Reshuffle kabinet bisa memunculkan harapan baru adanya perbaikan performa Kabinet Kerja ke depan, di tengah sorotan tajam investor terhadap kinerja mengecewakan dari sejumlah kementerian dan lembaga.

Lalu, bagaimana skenario perombakan kabinet yang paling mungkin terjadi?

Pertama-tama soal tiga menteri dan pejabat setingkat menteri yang sangat dekat dengan Jokowi, yaitu Kepala Staf Kepresidenan Luhut Pandjaitan, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno, dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto.

Tiga orang ini sering dijuluki 'Trio Macan Istana' dan kerap dituding oleh beberapa elit Partai Demokrasi Indonesia - Perjuangan (PDI-P), salah satunya oleh Eva Kusuma Sundari, sebagai sumber hambatan komunikasi antara Jokowi dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri maupun elit partai lainnya.

Luhut pernah menjadi rekan kongsi bisnis Jokowi. Perusahaan patungan mereka masih berjalan sampai sekarang, di bawah bendera PT Rakabu Sejahtera. Awal dibentuknya Rakabu adalah karena perusahaan mebel yang dimiliki Jokowi membutuhkan pasokan bahan baku kayu yang bersertifikasi ramah lingkungan sehingga produknya bisa diekspor ke Eropa.

Dinilai dari tingkat hubungan antar-person, hubungan rekan bisnis dapat lebih dekat daripada hubungan sahabat, apalagi sekadar hubungan teman satu partai politik. Biasanya, bila dua orang menjadi rekan bisnis, satu sama lain sudah memiliki tingkat kepercayaan yang besar, layaknya dua saudara. Rekan bisnis malahan bisa berarti kedua pihak sudah 'telanjang' satu sama lain, dalam hal pengelolaan keuangan perusahaan.

Selain itu, Luhut juga selama ini menjadi penghubung Jokowi yang handal ke pihak oposisi di bawah Koalisi Merah Putih yang dimotori Prabowo Subianto, temannya sesama militer.

Dari situ, agaknya bisa diproyeksikan Luhut tidak akan terdepak dari kabinet, jika perombakan jadi dilakukan.

Bagaimana dengan Rini Soemarno?

Awalnya, Rini adalah salah satu orang yang paling dipercaya Megawati. Di periode awal saat Jokowi menyeleksi menteri, Rini lah yang menjadi penyambung lidah Megawati ke Jokowi. Calon menteri yang diajukan Rini, dianggap mewakili kemauan Megawati.

Tapi, saat muncul dinamika sejumlah nama calon menteri ditandai 'merah-kuning-putih' dengan melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lembaga anti pencucian uang PPATK, Rini dianggap tidak lagi rajin melaporkan perkembangannya ke Megawati. Sejumlah sumber Bareksa mengungkapkan dia mulai mengajukan calon baru atas pilihannya sendiri, tanpa berkonsultasi dengan Megawati.

Rini tidak mengangkat telepon dan menjawab SMS saat dikonfirmasi soal ini.

Namun demikian, memburuknya hubungan Rini dengan Megawati ini tampaknya justru akan menjadi faktor pendorong Jokowi untuk tetap mempertahankan Rini di kabinet.

Rini kini telah beralih posisi menjadi loyalis Jokowi. Awalnya, Rini merupakan salah satu tokoh di lingkaran terdekat Megawati yang tidak setuju dengan pencalonan Jokowi sebagai calon presiden PDI-P dan Jokowi mengetahui  soal ini.

Saat ini hubungan Jokowi-Megawati berada di titik yang paling rendah dalam sejarah  hubungan mereka. Kejadian di Kongres PDI-P di Bali bulan April lalu menjadi acuan ukuran yang cukup  valid. Saat itu Jokowi “dipermalukan” di mana Megawati saat berpidato kembali menyinggung soal “kepatuhan petugas partai” dan bahwa saat itu Presiden Jokowi bahkan tidak dipersilakan untuk berpidato — tak seperti saat dia mendapat penghormatan yang layak sebagai Presiden saat menghadiri Rakernas PAN dan Munas Partai Demokrat.

Karena itulah, Jokowi perlu mempertahankan sejumlah tokoh kunci yang loyal kepadanya, di lingkaran terdekat kekuasaannya.

Alasan lain bahwa Rini kelihatannya masih akan kukuh di kabinet Jokowi adalah ini: Hubungan Rini yang pernah sangat dekat dengan Megawati selama bertahun-tahun, membuat Rini juga terlanjur berpengaruh dan memiliki hubungan yang teramat kental dengat banyak elit PDI-P. Sampai sekarang, terbukti Rini masih intensif berkomunikasi dengan mereka. Hubungan kental itu telah dilalui dengan banyak episode "saling membantu" di antara mereka.

Ini merupakan aset berharga Rini yang tampaknya bakal sulit diabaikan Jokowi.

Karena itulah, Rini diperkirakan juga tidak akan masuk daftar mereka yang digusur dari kabinet.

Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Menko Perekonomian Sofjan Djalil (kedua kanan), Seskab Andi Widjajanto (kiri) serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani (kanan) berdialog dengan pengusaha Malaysia yang tergabung di Kuala Lumpur Business Club di Istana Merdeka, Jakarta, 15 April 2015 (Antara Foto/Yudhi Mahatma)

Dari kiri ke kanan: Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Presiden Jokowi, Menko Perekonomian Sofjan Djalil, dan Kepala BKPM Franky Sibarani saat berdialog dengan pengusaha Malaysia di Istana Merdeka, Jakarta, 15 April 2015 (Antara Foto/Yudhi Mahatma)

Anggota ketiga ‘Trio Macan Istana’ adalah Andi Widjajanto.

Untuk Andi, sejumlah narasumber Bareksa menilai posisinya cukup rawan. Insiden salah sebut Indonesia masih memiliki utang IMF dan pernyataan terbukanya ke media bahwa pidato Jokowi pada Konferensi Asia Afrika -- yang dipuji berbagai kalangan -- disusun oleh sebuah tim di mana dia termasuk di dalamnya, dianggap sebagai blunder.

Tambahan lagi, kian hari tekanan dari elit-elit PDI-P terhadap Andi Widjajanto — yang memang bukan seorang kader partai, meski ayahnya, Theo Syafei, adalah tokoh PDI-P yang sangat berpengaruh — terus bertambah kuat.

Nama Andi -- ahli pertahanan dan keamanan -- muncul ke permukaan saat Megawati membentuk Tim 11, yang terdiri dari sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat sipil, untuk memberi masukan kepada partai  dalam menentukan siapa calon presiden dan wakil Presiden yang paling patut diajukan oleh PDI-P. Andi saat itu merupakan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebelum akhirnya mengundurkan diri untuk fokus bekerja dalam Tim 11 bentukan Megawati ini.

Andi juga dikenal merupakan salah satu loyalis Jokowi dan tokoh sentral di Tim Sukses Jokowi saat kampanye Pemilihan Presiden lalu. Setelah Jokowi terpilih, bersama Rini Soemarno, dia memimpin Tim Transisi -- yang belakangan diketahui didirikan tanpa sepengetahuan dan restu Megawati. Saat pembentukan kabinet, nama Andi sempat terpental. Dia nyaris "berlibur" ke Australia, sebelum dicegah Jokowi yang lalu menempatkannya di posisi Sekretaris Kabinet.

Ada kemungkinan, perombakan kabinet akan menggulung satu dari ‘Trio Macan Istana’. Namun, tentu saja, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi seiring tarik-menarik yang mulai kian mengeras.

Lalu, bagaimana dengan posisi menteri-menteri lainnya? (Bersambung) (kd)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER