Berita / SBN / Artikel

ST008 Sedang Ditawarkan, Begini Perjalanan SBSN dan Tujuan Penerbitan Green Sukuk

Dengan investasi di sukuk, bisa ikut berpartisipasi membangun negeri dan menjaga bumi
Abdul Malik • 10 Nov 2021
cover

Ilustrasi berinvestasi di SBN Ritel syariah atau SBSN Ritel seperti Sukuk Ritel, Sukuk Tabungan di antaranya ST008. (Shutterstock)

Bareksa.com - Investor terus memborong Green Sukuk Ritel - Sukuk Tabungan seri ST008 . Pada Selasa pagi atau memasuki hari kesembilan masa penawaranya (5/11/2021), nilai pemesanan sudah mencapai Rp4 triliun. Nilai itu semakin mendekati target penerbitan pemerintah yang senilai Rp5 triliun.

Dengan demikian kuota pemesanan hanya tersisa Rp1 triliun dari target. Padahal masa penawaran masih berlangsung 8 hari lagi, atau saat ini sudah menjelang pekan terakhir masa penawaran, hingga ditutup pada 17 November 2021. 

ST008 merupakan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel keenam sekaligus terakhir yang diterbitkan pemerintah pada tahun ini. ST008 dapat dibeli dengan mudah melalui 30 mitra distribusi, salah satunya Bareksa.

Tertarik berinvestasi di ST008? Jika iya, sebaiknya segera lakukan pemesanan, sebab pemerintah menerapkan aturan khusus pada penawaran ST008. Yakni kuota pemesanan per harinya dibatasi, sehingga investor yang melakukan pemesanan dengan cepat, dialah yang dapat.

Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan, Dwi Irianti dalam BareksaTalk bertajuk Green Sukuk, Investasi Sekarang untuk Masa Depan, Senin malam (8/11/2021), menjelaskan ada 2 jenis SBSN untuk investor individu, yakni Sukuk Tabungan (ST) dan Sukuk Ritel (SR).

Dibandingkan sejumlah negara, Indonesia memang agak terlambat menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Pemerintah telah menerbitkan Sukuk Tabungan pada 2006 dan Sukuk Ritel pada 2009. Sukuk Tabungan dan Sukuk Ritel adalah bagian dari SBSN.

"Jika dibandingkan negara lain cukup tertinggal untuk memulai, bahkan kita tertinggal dari salah satu negara bagian di Jerman, sudah menerbitkan tahun 2004 dan yang lebih duluan pasti negara-negara Timur Tengah dan Malaysia," kata Dwi.

Dia menjelaskan penyebabnya adalah karena Indonesia menganut city law, di mana untuk membuat kebijakan itu harus hitam di atas putih.

"Sementara kita belum memiliki satu undang-undang yang mengcover penggunaan underlying asset pendanaan milik negara saat itu dan juga proyek-proyek yang bisa dijadikan underlying asset," lanjutnya.

Hingga kemudian, payung hukum yang dinantikan terbit. Indonesia kemudian bak lari kencang dengan berbagai instrumen, misalnya sukuk proyek. Saat ini penerbitan Sukuk Negara untuk pasar domestik dilakukan dengan lelang dan placement.

"Lelang dua minggu sekali, tapi alhamdulilah biasanya awal Desember baru selesai, tetapi saat ini sudah kita tutup karena kebutuhannya sudah kita penuhi. Kemarin penerimaan negara di atas ekspektasi atau proyeksi," kata Dwi.

Meski begitu, kata Dwi, pemerintah mengetahui jika pasar masih membutuhkan pasokan SBN, namun penerbitan dari lelang sudah terpenuhi.

"Bagaimana kita harus terus berkomunikasi dengan market akhirnya untuk stakeholder yang masih memerlukan produk ini harus ke secondary market. Nanti mereka bisa jual belikan sukuk sehingga dengan adanya jual beli ini sukuk jadi lebih liquid," paparnya.

Green Sukuk

Dwi menyatakan di pasar global, Indonesia jadi penerbit sukuk terbesar dan menjadi frequent issuer sejak 2009, kemudian selama 5 tahun terakhir jadi penerbit sukuk terbesar di dunia. Adapun Indonesia mulai menerbitkan green sukuk sejak 2018.

Dia menjelaskan berbeda dengan sukuk konvensional, pada green sukuk, seluruh hasil penerbitan digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang ramah lingkungan. Untuk green sukuk, Dwi mengatakan pemerintah wajib membuat laporan green impact report yang diterbitkan setiap tahun.

Dalam laporan tersebut harus disajikan mengenai proyek ramah lingkungan yang jadi underlying asset, dan harus dihitung berapa dampaknya untuk mengurangi emisi karbon.

"Nah karena Indonesia sudah meratifikasi Paris Agreement yang berjanji akan menurunkan emisi karbon 29 persen itu dengan usaha sendiri," ungkap Dwi.

Sementara, kata Dwi, Indonesia juga berjanji menurunkan emisi lebih dari 41 persen. "Ini bagian dari green financing, gimana kita ingin menjaga bumi. Nanti hasil penerbitan akan digunakan untuk membangun proyek ramah lingkungan," ujar Dwi.

Ia melanjutkan semua proyek yang dibiayai harus bertanggung jawab tidak hanya bangunan jadi, namun pemerintah juga berharap bisa menghadirkan atau mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul.

Makanya, dana SBSN juga disalurkan ke lembaga pendidikan antara lain ke Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta yang sudah beberapa kali mendapatkan pembiayaan SBSN. Pembiayaan SBSN kepada UIN seluruh Indonesia akan dilanjutkan pada tahun depan.

"Kita juga bangun kampus umum seperti Universitas Jendral Soedirman, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung dan lainnya. Kalau ada yang bilang jika syariah hanya untuk Islam, tentu tidak. Melalui sukuk itu syariah rahmatan lil alamin," kata Dwi.

Partisipasi Membangun Negeri

Dwi menyampaikan inovasi Sukuk Ritel telah dilakukan sejak 2009. Tujuannya, pemerintah ingin mengajak masyarakat shifting dari saving ke investment oriented.

"Kalau uang hanya ditaruh di bank hanya tidur, sementara investasi dapat imbalan lebih besar. Dengan investasi di sukuk, bisa ikut berpartisipasi membangun negeri, tidak hanya bangun kampus, ada jembatan, asrama haji, kantor urusan agama (KUA), jalan, embung di Gunung Kidul dan ada tempat research, serta masih banyak sektor yang kita bangun melalui sukuk," kata Dwi.

Dia menjelaskan saat ini sudah ada 3.447 proyek yang dibangun sejak 2013 hingga kini. "Terus menerus akan kita tingkatkan dan kementerian atau lembaga yang sudah ikut berpartisipasi yang ikut mencarikan pendanaan atau membangun proyeknya melalui SBN itu sudah ada 12," lanjutnya.

Dwi menjelaskan penggunaan dana melalui SBSN dilakukan secara mudah namun penuh tanggung jawab. "Ini bisa dilihat dari pembangunan proyek tahun 2020 lalu, meski ada pembatasan, namun proyek selesai di bulan Desember sudah 90,6 persen dan masih ada kesempatan untuk luncur selama tiga bulan, at the end 100 persen selesai," kata Dwi.

Pemerintah, kata Dwi juga selalu melakukan inovasi. "Dengan kondisi masyarakat yang idle money (uang mengendap) bertambah karena spending turun, perlu instrumen yang aman namun likuid. Jadi tahun 2021, kita terbitkan sukuk yang tradable dua kali, biasanya cuma sekali karena kita tahu pandemi itu belum tahu selesainya, saat nanti selesai bisa langsung dijual lagi dan masyarakat bisa lanjutkan agenda yang tertunda," papar Dwi.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Green Sukuk Ritel ST008 ditawarkan 1-17 November 2021. Investasi mulai dari Rp1 juta dan maksimal Rp1 miliar. ST008 merupakan salah satu jenis SBN Ritel syariah dengan fitur tidak bisa diperdagangkan dengan tenor investasi 2 tahun dan kupon bersifat mengambang dengan batas minimal.

Dengan berinvestasi di SBN Ritel kita tidak hanya mendapatkan imbal hasil tetapi juga membantu pembiayaan anggaran untuk pembangunan negara.

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN Ritel? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN Ritel di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan SBN ritel seri berikutnya.

PT Bareksa Portal Investasi atau Bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel atau SBN Ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.