BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

Data KSEI: 199 Emiten, Pemegang Saham Besar Kuasai 95%

05 November 2026
Tags:
Data KSEI: 199 Emiten, Pemegang Saham Besar Kuasai 95%
Ilustrasi seorang investor memantau pergerakan harga saham dan IHSG di layar perdagangan Bursa Efek Indonesia. (Shutterstock)

Data KSEI per Oktober 2026: 199 emiten mencatat akumulasi saham minimal 95% pada pemegang ≥1%. Mengapa angka ini bukan ukuran free float?

Bareksa – Sebanyak 199 emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat akumulasi kepemilikan saham sedikitnya 95% pada investor yang masing-masing memiliki minimal 1% saham. Angka tersebut berdasarkan pengolahan Bareksa terhadap laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Oktober 2026.

Menariknya, hasil pengolahan data September menunjukkan jumlah yang sama, yakni 199 emiten. Jadi, belum ada peningkatan jumlah emiten dalam kelompok tersebut selama Oktober.

Meski demikian, data ini relevan untuk memahami struktur kepemilikan saham di tengah reformasi transparansi pasar modal dan perhatian MSCI terhadap kualitas data pasar Indonesia.

Promo Terbaru di Bareksa

Bagaimana Perubahan Kepemilikan September–Oktober?

Dari 961 emiten yang tercakup dalam masing-masing laporan, berikut perbandingan akumulasi persentase saham yang tercatat pada investor dengan kepemilikan individual minimal 1%.

Akumulasi Kepemilikan
September
Oktober

Minimal 90%

414 emiten

406 emiten

Minimal 95%

199 emiten

199 emiten

Minimal 99%

31 emiten

31 emiten

Sumber: KSEI, laporan kepemilikan saham ≥1% per 30 September dan 30 Oktober 2026, diolah Bareksa.

Jumlah emiten dengan akumulasi minimal 90% turun delapan. Namun, kelompok minimal 95% dan 99% tidak berubah. Perubahan tersebut menggambarkan pergeseran dalam pengelompokan berdasarkan ambang kepemilikan, bukan bukti bahwa saham publik otomatis bertambah atau berkurang.

Saham Apa yang Mencatat Persentase Tertinggi?

Saham
Akumulasi Kepemilikan
Jumlah Pemegang ≥1%

IBST

99,99%

1

EDGE

99,98%

3

SUPR

99,98%

2

DCII

99,85%

10

BNLI

99,71%

4

Sumber: KSEI, 30 Oktober 2026, diolah Bareksa.

Contohnya, pada IBST hampir seluruh saham tercatat pada satu pemegang saham yang memenuhi ambang pengungkapan. Sebaliknya, akumulasi pada DCII tersebar pada sepuluh pemegang saham. Perbedaan ini penting: persentase akumulasi yang sama-sama tinggi belum tentu berarti struktur kepemilikannya sama terkonsentrasi pada sedikit pihak.

Apakah Artinya Free Float 199 Emiten di Bawah 5%?

Tidak. Perhitungan dalam laporan ini menjumlahkan kepemilikan investor yang masing-masing memiliki minimal 1% saham berdasarkan laporan KSEI. Sementara itu, free float mengikuti definisi dan ketentuan resmi BEI.

Investor yang memiliki saham minimal 1% belum tentu tergolong pengendali atau afiliasi pengendali. Sebagian tetap dapat masuk kelompok pemegang saham publik sesuai ketentuan. Karena itu, mengurangkan akumulasi kepemilikan tersebut dari 100% tidak menghasilkan angka free float resmi. Hasil pengolahan ini juga bukan daftar High Shareholding Concentration (HSC) yang ditetapkan BEI.

Mengapa Penting di Tengah Reformasi Pasar Modal?

OJK, BEI, dan KSEI memperluas transparansi kepemilikan saham sebagai bagian dari reformasi pasar modal. Langkahnya mencakup pengungkapan pemegang saham di atas 1%, informasi status pengendali dan afiliasinya, klasifikasi investor yang lebih terperinci, serta penguatan aturan free float.

Namun, laporan KSEI sendiri menjelaskan bahwa informasi status pengendali bersumber dari pelaporan emiten periode sebelumnya. Status tersebut mungkin belum mencerminkan perubahan paling mutakhir.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?

Data kepemilikan dapat menjadi titik awal untuk meneliti struktur saham suatu emiten. Investor perlu melengkapinya dengan informasi free float resmi, pengumuman HSC, volume transaksi, nilai perdagangan, serta selisih harga beli-jual di pasar.

Saham dengan struktur kepemilikan tertentu dapat memiliki karakteristik likuiditas berbeda. Namun, data kepemilikan saja tidak cukup untuk memprediksi arah harga saham.

Catatan Penting untuk Investor

  • Sebanyak 199 emiten mencatat akumulasi kepemilikan minimal 95% pada investor yang masing-masing memiliki sedikitnya 1%.

  • Jumlah tersebut tidak berubah dibandingkan September.

  • Kelompok akumulasi minimal 90% berkurang dari 414 menjadi 406 emiten.

  • Akumulasi kepemilikan ≥1% bukan ukuran resmi free float maupun penetapan HSC.

Kesimpulan

Laporan KSEI memberi transparansi tambahan mengenai pemegang saham perusahaan tercatat. Namun, investor perlu membedakan data kepemilikan individual, pengendali, free float, dan konsentrasi kepemilikan yang dinilai melalui mekanisme resmi bursa.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

***

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Berapa emiten yang mencatat akumulasi kepemilikan minimal 95%?

Sebanyak 199 emiten per September dan Oktober 2026.

Apakah angka tersebut meningkat pada Oktober?

Tidak. Jumlahnya tetap 199 emiten.

Apakah 199 emiten itu melanggar aturan free float?

Tidak dapat disimpulkan dari data ini. Perhitungan free float memiliki kriteria tersendiri.

Apa perbedaan data KSEI dan HSC?

Data KSEI mencatat posisi kepemilikan, sedangkan HSC merupakan pengungkapan khusus mengenai konsentrasi kepemilikan berdasarkan mekanisme BEI.

Apakah data ini bisa digunakan untuk memilih saham?

Bisa menjadi bahan analisis tambahan, tetapi tetap perlu dikombinasikan dengan fundamental, valuasi, dan likuiditas.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.252,94

Down-0,27%
Up3,50%
Up3,85%
Up5,02%
Up23,12%
Up17,90%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.208,02

Down-0,16%
Up3,30%
Up4,57%
Up5,38%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.222,15

Up0,50%
Up1,75%
Up3,15%
Up4,03%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.018,31

Down-2,21%
Down-2,60%
Down-2,79%
Down-0,71%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua