BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

IHSG Tanpa Saham HSC Bisa Tembus 6.120? Ini Simulasinya

02 November 2026
Tags:
IHSG Tanpa Saham HSC Bisa Tembus 6.120? Ini Simulasinya
Ilustrasi simulasi IHSG dengan atau tanpa saham HSC. (Shutterstock)

SSI Research menghitung IHSG tanpa saham HSC secara teoretis berada di 6.120, dengan PER turun ke 9,8 kali. Simak perubahan bobot BBCA, BBRI, dan BMRI.

Bareksa – Bagaimana jika saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) tidak lagi masuk perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)? Simulasi Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) Research menunjukkan nilai indeks secara teoretis bisa mencapai 6.120, sekitar 20,1% lebih tinggi dibandingkan level 5.098 pada 29 Oktober 2026.

Bukan hanya angka indeks yang berubah. Valuasi berdasarkan price to earnings ratio (PER) juga diperkirakan turun dari 12,4 kali menjadi 9,8 kali, atau lebih rendah 21%. Namun, angka tersebut bukan prediksi IHSG akan menguat 20,1%.

Perhitungan SSI Research menggambarkan bagaimana nilai dan komposisi indeks berubah apabila kelompok saham HSC dikeluarkan dari simulasi.

Promo Terbaru di Bareksa

Simulasi IHSG Tanpa Saham HSC: Naik 20,1%

Dalam laporan bertajuk JCI: Improved Performance & Lower Valuations Without HSC Stocks, SSI Research menunjukkan dua perubahan utama pada indeks setelah saham HSC dikecualikan.

Indikator
IHSG 29 Oktober
Simulasi Tanpa HSC
Perubahan

Nilai indeks

5.098

6.120

+20,1%

PER indeks

12,4 kali

9,8 kali

-21,0%

Bobot 10 saham terbesar

41,11%

48,06%

+6,95 poin persentase

Sumber: Bloomberg, SSI Research. Simulasi menggunakan batas bobot maksimum 9% untuk saham dalam kelompok bobot terbesar.

Illustration

Sumber: SSI Research

Mengapa nilai indeks justru lebih tinggi ketika sejumlah saham dikeluarkan?

Hasil tersebut berasal dari perhitungan ulang komposisi indeks dalam skenario penelitian. Karena itu, perbandingan 5.098 dan 6.120 tidak dapat dibaca seperti perubahan IHSG dari satu hari perdagangan ke hari berikutnya.

Adapun PER yang lebih rendah menunjukkan bahwa, berdasarkan pendekatan penelitian tersebut, kumpulan saham yang tersisa memiliki valuasi agregat lebih rendah dibandingkan indeks awal. PER 9,8 kali juga tidak otomatis berarti saham-saham tersebut murah. Investor tetap perlu mempertimbangkan pertumbuhan laba, kualitas perusahaan, dan prospek bisnis.

Bobot BBCA dan BBRI Naik ke 9%, BMRI Melonjak

Perubahan komposisi indeks membuat bobot saham yang tersisa meningkat. Namun, SSI Research menggunakan batas bobot maksimum 9% agar saham tertentu tidak terlalu mendominasi indeks.

Berikut 10 saham dengan bobot terbesar dalam simulasi.

Saham
Bobot Awal
Bobot Tanpa HSC
Perubahan

BBCA

8,92%

9,00%

+0,08 pp

BBRI

8,21%

9,00%

+0,79 pp

BMRI

5,88%

7,37%

+1,49 pp

ASII

3,77%

4,73%

+0,96 pp

TLKM

3,62%

4,53%

+0,92 pp

AMMN

2,82%

3,54%

+0,72 pp

SMMA

2,80%

3,51%

+0,71 pp

BBNI

2,11%

2,65%

+0,54 pp

CASA

1,60%

2,00%

+0,40 pp

UNTR

1,38%

1,73%

+0,35 pp

Total

41,11%

48,06%

+6,95 pp

Sumber: SSI Research. pp = poin persentase. Perubahan dibulatkan dari data penelitian.

Saham bank menjadi salah satu kelompok yang mendapat kenaikan bobot paling besar. BBCA hanya naik tipis dari 8,92% menjadi 9% karena sudah mendekati batas maksimum. BBRI meningkat dari 8,21% menjadi 9%.

Sementara itu, BMRI mencatat tambahan bobot paling besar di antara 10 saham tersebut, dari 5,88% menjadi 7,37%, atau sekitar 149 basis poin. ASII dan TLKM juga memperoleh bobot lebih besar, masing-masing menjadi 4,73% dan 4,53%.

Perubahan ini berarti pergerakan saham tersebut berpotensi memberikan pengaruh relatif lebih besar terhadap indeks hasil simulasi.

Konsentrasi Indeks Justru Meningkat

Ada temuan lain yang menarik. Mengeluarkan saham HSC tidak otomatis membuat komposisi indeks menjadi lebih tersebar. SSI Research menghitung bobot 10 saham terbesar justru meningkat menjadi 48,06%, dibandingkan 41,11% sebelumnya.

Sementara itu, 45 saham terbesar akan menguasai 75,69% dari total bobot indeks dalam skenario pembatasan 9%. Dengan kata lain, sekitar tiga perempat pergerakan indeks hasil simulasi akan ditentukan oleh 45 saham terbesar.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kompromi dalam penyusunan indeks. Pengecualian saham berkepemilikan terkonsentrasi tinggi dapat mengubah karakteristik valuasi indeks, tetapi di sisi lain meningkatkan bobot relatif saham-saham besar yang tersisa.

Apa Itu Saham HSC?

High Shareholding Concentration atau HSC merujuk pada kondisi ketika kepemilikan saham terkonsentrasi pada sejumlah pihak tertentu. Konsentrasi kepemilikan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan dan karakteristik likuiditas di pasar.

Dalam perkembangan reformasi pasar modal Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menaruh perhatian pada transparansi struktur kepemilikan dan pengawasan perdagangan. Namun, status HSC tidak dengan sendirinya membuktikan adanya manipulasi harga atau pelanggaran hukum.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?

Temuan SSI Research bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memahami karakteristik indeks dan perubahan bobot saham, tetapi tidak cukup digunakan sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi.

Investor perlu memperhatikan tiga hal.

Pertama, jangan menganggap IHSG akan otomatis naik 20,1%. Angka 6.120 merupakan hasil simulasi, bukan target pergerakan pasar.

Kedua, perhatikan perubahan bobot saham besar. Kenaikan bobot BMRI, ASII, dan TLKM menunjukkan bahwa pengaruh relatif saham-saham tersebut dapat meningkat dalam skenario perubahan komposisi indeks.

Ketiga, nilai fundamental tetap penting. Valuasi indeks yang lebih rendah belum tentu berarti seluruh saham menjadi lebih menarik. Prospek laba, kualitas bisnis, risiko pasar, dan likuiditas tetap perlu diperhatikan.

Investor reksadana saham dan ETF berbasis indeks juga perlu mencermati metodologi indeks acuannya. Perubahan komposisi indeks, apabila benar-benar diberlakukan, dapat memengaruhi penyesuaian portofolio produk yang mengikuti indeks tersebut.

Catatan Penting untuk Investor

  • SSI Research mensimulasikan IHSG tanpa saham HSC berada di 6.120, dibandingkan 5.098 pada 29 Oktober 2026.

  • PER indeks secara simulasi turun 21%, dari 12,4 kali menjadi 9,8 kali.

  • Dengan batas bobot 9%, BBCA dan BBRI masing-masing berbobot 9%, sedangkan BMRI naik menjadi 7,37%.

  • Bobot 10 saham terbesar meningkat dari 41,11% menjadi 48,06%.

  • Angka 6.120 bukan proyeksi kenaikan IHSG ataupun hasil kebijakan resmi BEI.

Kesimpulan

Simulasi SSI Research menunjukkan bahwa pengecualian saham HSC berpotensi mengubah gambaran IHSG secara signifikan, baik dari sisi nilai indeks, valuasi, maupun distribusi bobot saham. Dalam skenario tersebut, indeks secara teoretis berada di level lebih tinggi dengan PER lebih rendah. Namun, bobot saham-saham besar juga menjadi semakin terkonsentrasi. Bagi investor, temuan ini lebih tepat digunakan untuk memahami bagaimana metodologi dan komposisi indeks memengaruhi gambaran pasar, bukan sebagai sinyal otomatis untuk membeli saham.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

***

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Benarkah IHSG bisa naik 20,1% tanpa saham HSC?

SSI Research menghasilkan nilai indeks 20,1% lebih tinggi dalam simulasi. Itu bukan prediksi kenaikan harga IHSG di pasar.

Apa itu HSC dalam saham?

HSC adalah kondisi konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi pada sejumlah pihak tertentu.

Mengapa PER IHSG bisa turun menjadi 9,8 kali?

Menurut simulasi SSI Research, saham HSC yang dikecualikan memiliki PER relatif lebih tinggi, sehingga valuasi agregat indeks hasil simulasi menjadi lebih rendah.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.252,43

Down-0,17%
Up3,50%
Up3,81%
Up4,98%
Up23,07%
Up17,78%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.208,89

-
Up3,24%
Up4,65%
Up5,48%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.220,99

Up0,48%
Up1,72%
Up3,06%
Up4,02%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.022,79

Down-1,56%
Down-2,52%
Down-2,37%
Down-0,32%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua