BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

Daya Beli Masyarakat Dinilai Masih Lemah, Analis Pilih Saham ACES dan ERAL

29 Juni 2026
Tags:
Daya Beli Masyarakat Dinilai Masih Lemah, Analis Pilih Saham ACES dan ERAL
Salah satu gerai PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk atau AHI (ACES). (dok. Perusahaan)

Ciptadana Sekuritas menilai pelemahan daya beli masyarakat Indonesia telah merambah kebutuhan pokok. Simak prospek sektor ritel dan saham pilihan analis.

Bareksa - Pelemahan daya beli masyarakat Indonesia dinilai belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Bahkan, tekanan konsumsi kini tidak hanya terjadi pada barang-barang diskresioner, tetapi juga mulai merambah kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan tembakau.

Kondisi tersebut membuat Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor ritel, meski tetap melihat peluang pada beberapa emiten tertentu. Dalam risetnya (26/6), analis mengungkapkan Indeks Penjualan Riil (Retail Sales Index/RSI) Indonesia turun 3,2% secara tahunan (YoY) pada Mei 2026.

Yang lebih mengkhawatirkan, penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau turun 4% YoY selama dua bulan berturut-turut, menunjukkan pelemahan konsumsi telah menyentuh kebutuhan esensial masyarakat.Analis menilai kondisi tersebut bersifat struktural, bukan sekadar dampak musiman setelah Lebaran.

Promo Terbaru di Bareksa

Pelemahan Daya Beli Dinilai Bersifat Struktural

Menurut analis, kualitas pasar tenaga kerja menjadi penyebab utama lemahnya konsumsi domestik. Sekitar 65% lapangan kerja baru yang tercipta sepanjang 2019-2025 berasal dari kelompok berupah rendah dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp2,4 juta per bulan, sementara sektor informal masih mendominasi dan belum kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Di sisi lain, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus menurun menjadi 20,3% pada kuartal I 2026, berbeda dengan Vietnam yang justru meningkat menjadi 24,5%. Perbedaan struktur ekonomi tersebut tercermin pada pertumbuhan penjualan ritel riil, di mana Vietnam mencatat kenaikan 6,1% selama lima bulan pertama 2026, sedangkan Indonesia hanya 1,6%.

Stimulus Pemerintah Dinilai Belum Mampu Dorong Konsumsi

Pemerintah telah mengalokasikan berbagai stimulus senilai Rp26,3 triliun, terdiri atas bantuan pangan Rp18 triliun, program magang dan pelatihan vokasi Rp6,3 triliun, serta insentif transportasi Rp2 triliun. Namun, analis menilai dampaknya terhadap konsumsi masih terbatas.

Kecepatan perputaran uang (velocity of money) masih melemah menjadi 0,607 pada kuartal I 2026 dari 0,609 setahun sebelumnya. Selain itu, pertumbuhan kredit UMKM hanya 0,4% YoY pada April 2026, yang berpotensi membatasi penciptaan lapangan kerja baru mengingat sektor UMKM menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional.

Di sisi lain, Bank Indonesia memperpanjang relaksasi kartu kredit hingga 31 Desember 2026. Meski demikian, analis menilai kebijakan tersebut hanya memberikan dampak netral terhadap emiten ritel karena porsi penjualan secara cicilan relatif kecil.

ACES dan ERAL Jadi Saham Favorit

Di tengah prospek sektor yang masih menantang, analis lebih memilih emiten yang menyasar konsumen menengah atas karena dinilai memiliki daya beli lebih kuat.

ACES tetap menjadi pilihan utama berkat jaringan distribusi yang kuat, ekspansi di luar Pulau Jawa, serta kebijakan dividen yang menarik. Sementara itu, ERAL dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi melalui bisnis gaya hidup aktif, elektronik premium, hingga kendaraan listrik melalui merek XPENG.

Rekomendasi Saham Sektor Ritel Versi Ciptadana Sekuritas

Saham
Rekomendasi
Target Harga
Potensi Upside*​

ERAL

Buy

Rp440

59,4%

ACES

Buy

Rp400

18,3%

MAPI

Hold

Rp1.650

8,9%

ERAA

Hold

Rp400

9,9%

LPPF

Hold

Rp1.580

3,9%

RALS

Hold

Rp350

-4,9%

*Berdasarkan harga penutupan saat riset diterbitkan.
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Key Takeaways

  • RSI Indonesia turun 3,2% YoY pada Mei 2026.

  • Penjualan makanan, minuman, dan tembakau turun 4% YoY, menandakan pelemahan konsumsi sudah menyentuh kebutuhan pokok.

  • Ciptadana Sekuritas menilai lemahnya daya beli bersifat struktural akibat kualitas pasar tenaga kerja.

  • Stimulus pemerintah diperkirakan hanya memberi dampak terbatas terhadap konsumsi.

  • ACES dan ERAL menjadi saham ritel favorit Ciptadana.

Kesimpulan

Ciptadana Sekuritas menilai prospek sektor ritel Indonesia masih dibayangi tekanan daya beli yang bersifat struktural. Meski pemerintah telah meluncurkan berbagai stimulus konsumsi, perbaikan diperkirakan berlangsung bertahap. Dalam kondisi tersebut, emiten yang menyasar konsumen menengah atas dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik dibanding pelaku ritel yang bergantung pada konsumsi massal.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Mengapa Ciptadana mempertahankan rating Neutral untuk sektor ritel?

Karena pelemahan daya beli dinilai masih berlanjut dan bersifat struktural sehingga membatasi pertumbuhan penjualan ritel.

Mengapa penurunan penjualan makanan dan minuman menjadi perhatian?

Karena menunjukkan pelemahan konsumsi telah meluas ke kebutuhan pokok, bukan hanya barang diskresioner.

Saham ritel apa yang menjadi pilihan Ciptadana?

Ciptadana merekomendasikan Buy untuk ACES dan ERAL.

Mengapa ACES dan ERAL dipilih?

Keduanya dinilai lebih banyak melayani konsumen menengah atas yang relatif lebih tahan terhadap tekanan daya beli.

Apa risiko utama sektor ritel ke depan?

Risiko yang perlu dicermati antara lain pelemahan kualitas pasar tenaga kerja, inflasi yang masih tinggi, likuiditas yang lebih ketat, dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.225,99

Up0,98%
Up1,30%
Up1,62%
Up6,28%
Up20,47%
Up14,56%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.182,87

Up0,97%
Up1,92%
Up2,39%
Up6,44%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.028,42

Up0,97%
Down-2,34%
Down-1,83%
---

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.201,67

Up0,50%
Up1,08%
Up1,42%
Up5,32%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua