BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

BBNI (BNI) Cetak Laba Rp5,66 Triliun di Q1 2026, Pendapatan Bunga Moncer

Abdul Malik29 April 2026
Tags:
BBNI (BNI) Cetak Laba Rp5,66 Triliun di Q1 2026, Pendapatan Bunga Moncer
Gedung kantor pusat PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau Bank BNI di Jakarta. (Shutterstock)

BNI (BBNI) cetak laba bersih Rp5,66 triliun Q1 2026, naik 5,2% YoY. Pendapatan bunga tumbuh 13,7%. Simak analisis kinerja lengkapnya.

Bareksa - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan ke entitas induk Rp5,66 triliun pada kuartal pertama 2026, tumbuh 5,2% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp5,38 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan interim tidak diaudit yang disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi BEI (29/4), pendapatan bunga menjadi penopang utama, tercatat Rp18,99 triliun pada Q1 2026, naik 13,7% dari Rp16,71 triliun di Q1 2025. Beban bunga juga meningkat menjadi Rp7,97 triliun dari Rp6,88 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih (NII) mencapai sekitar Rp11,03 triliun.

Laba sebelum pajak tercatat Rp6,88 triliun, naik dari Rp6,52 triliun pada Q1 2025. Total aset BBNI tumbuh signifikan menjadi Rp1.426,76 triliun per 31 Maret 2026, dari Rp1.362,05 triliun per 31 Desember 2025, mencerminkan ekspansi bisnis yang berlanjut di awal tahun. BBNI merupakan emiten sektor perbankan yang dikendalikan oleh Pemerintah Indonesia.

Promo Terbaru di Bareksa

Kredit dan Pendanaan Jadi Mesin Pertumbuhan

Total pinjaman yang diberikan mencapai Rp919,32 triliun (pihak ketiga + berelasi, sebelum CKPN), tumbuh dari Rp899,53 triliun pada akhir 2025. Dana pihak ketiga dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito juga meningkat; deposito berjangka pihak ketiga naik tajam menjadi Rp228,25 triliun dari Rp188,21 triliun. Pertumbuhan kredit ini menjadi perhatian pasar karena mencerminkan permintaan pembiayaan yang masih solid di awal 2026.

Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas pinjaman tercatat Rp36,61 triliun, naik dari Rp35,86 triliun di akhir 2025, seiring pembentukan provisi kredit Rp2,42 triliun selama Q1 2026 — naik dari Rp1,76 triliun pada Q1 2025. Ini mencerminkan sikap kehati-hatian manajemen dalam menghadapi potensi risiko kredit.

Laba per saham dasar (EPS) tercatat Rp152 per saham di Q1 2026, naik dari Rp144 per saham pada Q1 2025, menjadi indikator positif bagi pemegang saham.

Tekanan dari Sisi OCI dan Ekuitas

Total ekuitas BBNI tercatat Rp165,91 triliun per 31 Maret 2026, turun dari Rp176,34 triliun pada akhir 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran dividen kas Rp13,03 triliun, pembelian saham treasuri senilai Rp75 miliar, serta kerugian pada penghasilan komprehensif lain (OCI) akibat perubahan nilai wajar aset keuangan negatif Rp3,62 triliun. Total penghasilan komprehensif untuk Q1 2026 tercatat Rp2,67 triliun, lebih rendah dibanding Rp6,10 triliun di Q1 2025, terutama karena tekanan OCI tersebut.

Arus kas dari aktivitas operasi sangat kuat, mencapai Rp40,90 triliun di Q1 2026, jauh meningkat dari Rp12,99 triliun pada Q1 2025, didorong oleh pertumbuhan simpanan nasabah yang signifikan. Kas dan setara kas akhir periode mencapai Rp185,66 triliun, naik dari Rp152,85 triliun pada awal tahun.

Ringkasan Kinerja Keuangan Q1 2026

Indikator
Q1 2026
Q1 2025
Perubahan

Pendapatan Bunga

Rp18,99 T

Rp16,71 T

+13,7%

Beban Bunga

Rp7,97 T

Rp6,88 T

+15,9%

Laba Sebelum Pajak

Rp6,88 T

Rp6,52 T

+5,6%

Laba Bersih (ke Induk)

Rp5,66 T

Rp5,38 T

+5,2%

EPS Dasar

Rp152

Rp144

+5,6%

Total Aset

Rp1.426,76 T

vs Rp1.362,05 T (Des 2025)

Total Ekuitas

Rp165,91 T

vs Rp176,34 T (Des 2025)

Total Kredit (bruto)

Rp919,32 T

vs Rp899,53 T (Des 2025)

Arus Kas Operasi

Rp40,90 T

Rp12,99 T

+214,9%

Sumber: BBNI. diolah

Hal Penting yang Dicermati Investor

  • Penopang utama: Pertumbuhan pendapatan bunga +13,7% YoY menjadi motor laba

  • Kredit tumbuh: Pinjaman bruto naik ~2,2% dari akhir 2025

  • Tekanan OCI: Kerugian nilai wajar aset keuangan menekan total comprehensive income

  • Provisi naik: Pembentukan CKPN meningkat 37,4% YoY, mencerminkan sikap konservatif

  • Dividen besar: Kas dividen Rp13,03 T menekan ekuitas di Q1 2026

  • Likuiditas kuat: Arus kas operasi melonjak signifikan, kas akhir periode tumbuh pesat

  • EPS naik: Rp152/saham vs Rp144/saham, potensi menjadi perhatian valuasi

Kesimpulan

Kinerja BBNI pada kuartal pertama 2026 mencerminkan pertumbuhan profitabilitas yang stabil dengan laba bersih tumbuh 5,2% YoY, ditopang ekspansi kredit dan pendapatan bunga yang solid. Penurunan ekuitas lebih bersifat teknis akibat distribusi dividen besar dan tekanan OCI, bukan indikasi pelemahan fundamental. Investor perlu memperhatikan perkembangan kualitas kredit dan tren pembentukan provisi ke depan, mengingat CKPN meningkat cukup signifikan di awal tahun.

FAQ

1. Berapa laba bersih BNI (BBNI) di Q1 2026?
Laba bersih yang dapat diatribusikan ke entitas induk tercatat Rp5,66 triliun, naik 5,2% dibandingkan Q1 2025 Rp5,38 triliun.

2. Berapa EPS BNI di kuartal I 2026?
Laba per saham dasar (EPS) BBNI tercatat Rp152 per saham di Q1 2026, meningkat dari Rp144 per saham pada Q1 2025.

3. Mengapa ekuitas BNI turun di Q1 2026?
Ekuitas turun terutama karena pembayaran dividen kas Rp13,03 triliun dan kerugian OCI dari perubahan nilai wajar aset keuangan, bukan karena penurunan kinerja operasional.

4. Apa penopang utama kinerja BBNI di Q1 2026?
Pendapatan bunga yang tumbuh 13,7% YoY menjadi penopang utama, didukung oleh ekspansi kredit dan pertumbuhan simpanan nasabah.

5. Apakah laporan keuangan ini sudah diaudit?
Tidak. Laporan keuangan ini merupakan laporan interim yang tidak diaudit (unaudited), disampaikan sesuai ketentuan OJK untuk periode kuartal I yang berakhir 31 Maret 2026.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.211,21

Up0,78%
Up1,50%
Up0,40%
Up7,56%
Up20,28%
Up14,56%

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.200,25

Up0,44%
Up2,26%
Up1,30%
Up7,90%
--

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.171,52

Up0,68%
Up2,23%
Up1,41%
Up7,64%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.049,08

Up0,45%
Up2,19%
Up0,14%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua