Inflasi RI pada Oktober Melandai, Robo Advisor Bareksa Terapkan Strategi Ini

Inflasi Indonesia pada Oktober 2022 naik 1,66% secara bulanan, atau lebih rendah dari perkiraan pasar
Abdul Malik • 01 Nov 2022
cover

Ilustrasi laju angka inflasi pada Oktober 2022 yang melandai dan lebih rendah dari perkiraan pelaku pasar, sehingga bisa jadi sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi. Robo Advisor Bareksa menyesuaikan strategi investasinya menyusulu rilis angka inflasi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Inflasi Indonesia pada Oktober 2022 naik 1,66% secara bulanan dan 5,71% secara tahunan, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya, karena efek dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah mereda. Laju inflasi tersebut lebih rendah dari perkiraan pelaku pasar. 

Hingga penutupan sesi I perdagangan pasar saham (1/11/2022), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cenderung mendatar dengan pelemahan terbatas. Sementara imbal hasil (yield) acuan Obligasi Pemerintah masih berada di kisaran 7,5%. 

Di sisi lain, Indeks Manufaktur Indonesia (PMI) tercatat menurun pada Oktober 2022 yakni 51,8 dari 53,7 pada September. Angka itu masih dinilai cukup baik dan dalam berada posisi pertumbuhan.

​Menurut Tim Analis Bareksa, kenaikan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan menjadi sentimen positif bagi pasar saham maupun obligasi, karena menandakan kenaikan harga barang dan jasa masih terkendali. 

Baca juga : BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Begini Jurus Investasi Robo Advisor Bareksa

Namun di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati rilis data suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) pekan ini, yang diproyeksikan masih agresif. Hal ini bisa menahan laju pasar saham dan obligasi dalam negeri. Sehingga diproyeksikan untuk pekan ini, pergerakan pasar modal masih akan cenderung mendatar. 

​Kenaikan suku bunga acuan AS yang diikuti dengan meningkatnya suku bunga acuan Indonesia dapat memengaruhi pelemahan yield acuan obligasi dalam negeri. 

Saat ini, produk reksadana pendapatan tetap di Robo Advisor Bareksa mayoritas berbasis obligasi korporasi. Namun jika yield Surat Berharga Negara (SBN) bisa mencapai level yang lebih atraktif, maka akan dipertimbangkan untuk menambah produk reksadana pendapatan tetap berbasis SBN guna mengoptimalisasi kinerja portofolio Robo Advisor Bareksa.

Lihat juga : Kinerja Robo Advisor Bareksa Solid di Tengah Fluktuasi Pasar, Terapkan Jurus Ini

Robo Advisor Bareksa adalah

Robo Advisor Bareksa adalah robo advisor pertama di Indonesia yang mendapatkan lisensi sebagai penasihat investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI. Izin ini dituangkan dalam Keputusan Dewan Komisioner OJK No. KEP-17/D.04/2021 tentang Pemberian Izin Usaha Penasihat Investasi Kepada PT Bareksa Portal Investasi tertanggal 20 April 2021.

Robo advisor adalah konsultan finansial yang memberikan saran investasi digital dan mengelola portofolio investasi investor dengan menggunakan algoritma khusus yang dibangun dengan teknologi terdepan. Robo advisor juga merupakan salah satu fasilitas yang sering digunakan dalam dunia investasi terutama di Amerika Serikat. Namun kini Bareksa telah menghadirkan robo advisor pertama yang berlisensi OJK. 

Keunggulan robo advisor yang dikembangkan Bareksa, ialah fitur ini menyediakan layanan perencanaan investasi otomatis, didukung oleh algoritma teori portofolio modern dan juga pengawasan manusia. Dengan pengawasan manusia inilah membuat Robo Advisor Bareksa bekerja sesuai dengan kondisi pasar terkini.

Baca juga : Pasca Kenaikan Harga BBM, Kinerja Robo Advisor Bareksa Tetap Moncer

(Sigma Kinasih/AM)

* * * 

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.