Suku Bunga Acuan BI Naik Jadi 4,75%, Begini Potensi Cuan 4 Jenis Reksadana

Hingga Oktober, total kenaikan suku bunga acuan BI sepanjang 2022 mencapai 1,25%
Abdul Malik • 20 Oct 2022
cover

Ilustrasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang berpengaruh terhadap kinerja pasar saham, SBN dan reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Oktober 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 50 basis poin (bps) atau 0,5% dari sebelumnya 4,25% jadi 4,75%. BI sudah menaikkan suku bunga acuan dalam 3 bulan beruntun sejak Agustus 2022. 

Hingga Oktober, total kenaikan suku bunga acuan BI sepanjang 2022 mencapai 1,25% dari level 3,5% yang merupakan level terendah sepanjang sejarah dan sudah bertahan dalam 18 bulan hingga Juli 2022. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility 50 bps jadi 4% dan suku bunga Lending Facility  50 bps jadi 5,5%. 

BI menyatakan keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loaded, pre-emptive dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting). 

“Juga untuk memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3±1% lebih awal yaitu di paruh pertama 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat semakin kuatnya mata uang dolar AS dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat,” ungkap Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam keterangannya (20/10/2022). 

BI menyatakan terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi, di antaranya memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang, sesuai dengan kenaikan suku bunga BI7DRR untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasarannya lebih awal. 

BI juga memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, dengan tetap berada di pasar sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi, terutama imported inflation, melalui intervensi di pasar valas baik melalui transaksi spot, domestic non deliverable forward (DNDF), serta pembelian/penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. 

Jaga Spread dengan Fed Rate

Menurut Tim Analis Bareksa, kenaikan suku bunga BI 0,75% pada Oktober juga di atas proyeksi konsensus pelaku pasar. Langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan inflasi dalam negeri, menjaga stabilitas rupiah, serta untuk menjaga selisih (spread) dengan bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate), agar suku bunga di dalam negeri tetap atraktif. 

Menyusul pengumuman kenaikan suku bunga BI tersebut, pasar obligasi merespons negatif dengan yield (imbal hasil) SBN acuan naik hingga 7,5%. Adapun pasar saham yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merespons positif dan ditutup melonjak 1,75% di level 6.980, yang juga karena ada teknikal rebound. 

BI sebelumnya mengimbau agar perbankan tidak langsung ikut menaikkan suku bunga kreditnya, karena likuiditas masih tinggi, sehingga kenaikan bunga acuan BI diprediksi baru akan kelihatan dalam 3 - 6 bulan mendatang.

Tim Analis Bareksa memperkirakan fluktuasi pasar masih akan tinggi, sehingga Smart Investor disarankan untuk bisa mendiversifikasi investasinya di reksadana pasar uang

Untuk reksadana pendapatan tetap, Smart Investor perlu mencermati terlebih dahulu pergerakan yield SBN acuan, jika sampai di kisaran 7,5 - 7,6%, maka diproyeksi bisa menjadi titik balik. Namun mempertimbangkan suku bunga BI yang naik di atas ekspektasi, maka Smart Investor disarankan untuk wait and see (menanti) terlebih dahulu. 

Adapun untuk reksadana saham dan reksadana indeks, Smart Investor bisa memanfaatkan teknikal rebound IHSG untuk investasi jangka pendek. Target konsensus di akhir 2022 untuk IHSG di kisaran 7.300 - 7.500. 

(Sigma Kinasih/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.