Index Fund Jadi Rekomendasi Investor Reksadana Saham, Ini Alasannya

Dana kelolaan reksadana indeks diprediksi akan terus tumbuh sepanjang tahun ini
Hanum Kusuma Dewi • 28 Jul 2022
cover

Ilustrasi investasi di reksadana indeks. (Shutterstock)

Bareksa.com - Dana kelolaan index fund atau reksadana indeks diyakini akan terus tumbuh positif seiring pertumbuhan indeks. Reksadana indeks direkomendasikan untuk dipilih investor sebagai salah instrumen investasi.

Head of Equity and Research Avrist Asset Management/Avrist AM, Dimas Noverio menyampaikan potensi reksadana indeks hingga akhir tahun akan mengikuti pertumbuhan indeks yang diperkirakan akan tumbuh sekitar 3 persen hingga 5 persen hingga akhir tahun 2022.

Sebelumnya, Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2022 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan dana kelolaan reksadana indeks pada Mei 2022 senilai Rp11 triliun. Pada bulan lalu, dana kelolaan reksadana indeks tersebut tumbuh baik secara bulanan/MOM, sepanjang tahun berjalan/YTD, maupun tahunan/YOY yakni masing-masing tumbuh 3 persen, 21 persen, dan 43 persen.

Sementara itu unit penyertaan reksadana indeks pada bulan lalu tercatat 10,79 miliar unit. Unit penyertaan reksadana indeks tumbuh 10 persen secara bulanan, naik 15 persen sepanjang tahun berjalan, dan melonjak 22 persen secara tahunan.

Baca juga Kelolaan Index Fund Naik Saat Industri Turun, Ini Manajer Investasi Juaranya

"Kami merekomendasikan reksadana indeks untuk investor reksadana saham. Alasannya, ada beberapa keuntungan seperti fee yang lebih rendah dibandingkan reksadana saham konvensional, investor mendapatkan portofolio yang terdiversifikasi, dan mendapatkan kinerja dari indeks saham," ujar Noverio kepada Bareksa, Rabu sore (27/7/2022).

Ia menyampaikan investor dapat memilih produk reksadana indeks yang sesuai dengan profilnya. Adapun produk reksadana indeks dari Avrist AM yang direkomendasikan, menurut Noverio adalah Reksa Dana Indeks Avrist IDX30 dan Avrist Indeks LQ45.

Di sisi lain Bareksa mencatat Avrist AM menempati posisi kelima dari 20 manajer investasi dengan dana kelolaan reksadana indeks terbesar pada Juni 2022. Dana kelolaan reksadana indeks Avrist tercatat Rp1,02 triliun pada Juni 2022, tumbuh 5 persen sepanjang tahun berjalan/YTD dan naik 18 persen secara tahunan/YOY.

Daftar Manajer Investasi dengan Kelolaan Reksadana Indeks Terbesar Juni 2022

Sumber: Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2022

Rebalancing Portfolio Reksadana Indeks

Sementara itu menanggapi langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melakukan pembobotan ulang atau rebalancing terhadap sejumlah indeks antara lain LQ45, IDX30, IDX80 hingga Kompas100, Noverio mengatakan Avrist AM akan menindaklanjuti rebalancing index.

"Melakukan rebalancing pada portofolio Reksadana Avrist Indeks LQ45 dan Avrist Indeks IDX 30 bertujuan untuk menghasilkan tracking error terendah terhadap LQ45 dan IDX30 sebagai Benchmark kedua reksadana tersebut," jelas Noverio.

Baca juga Jadi Penghuni Baru LQ45 dan IDX30, Saham ARTO, HRUM & ITMG Dikoleksi Reksadana Ini

Adapun reksadana indeks (index fund) adalah reksadana yang portofolio investasinya dikelola secara pasif dengan mengacu kepada indeks tertentu. Indeks yang dijadikan acuan bisa berupa indeks saham ataupun indeks obligasi.

Dengan hanya mengacu pada indeks tertentu, biaya pengelolaan reksadana indeks lebih murah daripada reksadana dikelola aktif. Reksadana indeks jadi salah satu produk investasi yang disarankan Warren Buffett, salah seorang terkaya sejagat yang mengumpulkan hartanya dari investasi.

Baca juga Investasi Pakai OVO di Bareksa, Cashback Langsung dan Reksadana hingga Rp300 Ribu

(Martina Priyanti/hm)

***

​Ingin berinvestasi aman di reksadana online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.