Inflasi Global Bayangi Pasar, Ini Strategi Portofolio Investasi Reksadana Manulife AM

Beberapa sektor yang potensial dari tema ini adalah di sektor perbankan dan properti
Hanum Kusuma Dewi • 19 Apr 2022
cover

Ilustrasi investor yang memantau perkembangan pasar saham dan menyentuh rekor all time high baru, sehingga berdampak pada kinerja investasinya di reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar saham baik di luar maupun dalam negeri, bergerak fluktuatif karena didorong sejumlah sentimen. Tapi seperti apa sebenarnya pergerakan pasar saham dan apa yang sebaiknya dilakukan investor, termasuk investor reksadana?

Samuel Kesuma, CFA – Senior Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, dalam Seeking Alpha Edisi April 2022 MAMI yang disampaikan kepada media, Selasa (19/4/2022), sentimen pasar global dibayangi oleh beberapa faktor, seperti lonjakan harga komoditas karena konflik Rusia –Ukraina, postur kebijakan suku bunga The Fed yang agresif, dan lonjakan kasus Covid-19 di China. "Ketiga faktor ini saling berhubungan karena berdampak pada outlook pertumbuhan ekonomi dunia," ucap Samuel.

Lebih lanjut ia menjelaskan lonjakan harga komoditas dapat mempengaruhi inflasi secara global dan berdampak pada daya beli masyarakat, serta dapat mempengaruhi postur kebijakan bank sentral global menjadi lebih agresif untuk menangani inflasi.

Selain itu, ia melanjutkan sentimen pasar juga kembali dibebani oleh kasus Covid-19 yang melonjak di China, terutama karena kebijakan ‘zero Covid’ di China yang dikhawatirkan dapat menyebabkan lockdown secara luas dan mempengaruhi kapabilitas China sebagai 'pabrik dunia’.

Baca juga ​Produk Reksadana Saham dengan Kelolaan Terbesar Maret 2022


Pasar Saham Indonesia

Samuel mengatakan berlawanan dengan kinerja pasar global, pasar saham Indonesia konsisten mencatat kinerja positif sepanjang tahun ini. Lalu apa yang mendukung kinerja pasar dan apakah penguatan pasar saham dalam negeri dapat berlanjut?

"Menurut kami Indonesia saat ini berada pada ‘sweet spot’ yang membuat pasar saham Indonesia kembali masuk dalam radar investor. Beberapa faktor yang menjadi katalis bagi pasar saham Indonesia," kata dia.

Beberapa faktor dimaksud yakni :

Pertama, dari perspektif makroekonomi. Indonesia berada dalam siklus pemulihan yang menarik bagi investor yang mencari growth di tengah tren normalisasi ekonomi

Kedua, Indonesia adalah net eksportir komoditas yang dipandang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas saat ini dan dapat menjadi tempat berlindung bagi investor global.

Ketiga, stabilitas nilai tukar rupiah dan makroekonomi yang solid.

Keempat, posisi Indonesia dan ASEAN yang netral di tengah tensi geopolitik antara negara barat dengan Rusia meminimalisir risiko geopolitik terhadap Indonesia.

"Secara keseluruhan kami memandang positif outlook pasar Indonesia tahun ini didukung oleh bauran faktor pendukung dari pemulihan ekonomi domestik dan dinamika pasar global yang suportif bagi Indonesia," ucap Samuel.

Baca juga ​Investasi Reksadana Saham di Bulan Ramadan Bawa Cuan? Ini Data Historisnya


Efek Kebijakan The Fed

Mengenai kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga menjadi 0,5 persen di Maret dan mengindikasikan arah kenaikan suku bunga yang agresif, apakah ini berdampak negatif bagi outlook pasar saham? 

Samuel mengatakan rapat FOMC bulan Maret menjadi titik balik bagi pasar, di mana The Fed menegaskan fokus kebijakannya untuk menanggulangi inflasi dan menekankan kondisi ekonomi sudah kuat untuk menghadapi kenaikan suku bunga.

Menurutnya kejelasan arah kebijakan The Fed mengurangi spekulasi pasar dan mendukung perbaikan sentimen yang terlihat dari kinerja indeks S&P 500 yang menguat pasca rapat FOMC The Fed. "Secara keseluruhan kami melihat pasar telah memperhitungkan The Fed akan bergerak secara agresif sehingga kenaikan suku bunga yang agresif tidak berdampak negatif bagi outlook pasar saham," kata dia.

Di sisi lain, Samuel berpendapat ekspektasi pasar terlalu agresif, di mana berdasarkan data dari Bloomberg ekspektasi pasar untuk Fed rate dapat mencapai 2,25 persen - 2,50 persen tahun ini, lebih tinggi dari median proyeksi The Fed di level 2 persen. "Oleh karena itu terdapat potensi good news bagi pasar apabila kenaikan Fed rate tidak seagresif ekspektasi pasar," imbuhnya.

Baca juga The Fed Agresif Naikkan Suku Bunga, Bagaimana Strategi Investasi Reksadana?

Kenaikan dan Potensi Dampak Harga Komoditas

Sementara itu mengenai adanya penilaian bahwa naiknya harga komoditas justru merugikan kawasan Asia, ia menyampaikan sebaiknya tidak menilai demikian. Menurutnya Asia adalah kawasan yang luas dan variatif, jadi terlalu generik untuk memberi label bagi Asia seperti itu. Negara penghasil komoditas di Asia seperti Indonesia tentunya diuntungkan dari harga komoditas yang tinggi saat ini.

Samuel melanjutkan negara importir komoditas belum tentu dirugikan, karena kinerja ekspornya yang juga kuat. Ia mencontohkan, Korea Selatan dan Taiwan yang didukung oleh ekspor barang elektronik dan semikonduktor yang kuat di tengah tren digitalisasi saat ini.

"Secara keseluruhan kami melihat Asia sebagai kawasan yang menarik bagi investor untuk diversifikasi dari kawasan Eropa yang terekspos pada Rusia, atau Amerika Serikat yang memasuki siklus pengetatan suku bunga," kata Samuel.

Di sisi lainnya, Samuel mengatakan dampak kenaikan harga komoditas terhadap inflasi Indonesia relatif lebih gradual dibanding di kawasan negara maju. Ia menjelaskan di Indonesia terdapat beberapa barang yang harganya diatur oleh pemerintah sehingga dapat menjadi bantalan di tengah kenaikan harga komoditas.

Terkait itu konsekuensinya adalah akan ada tekanan fiskal untuk subsidi. "Tapi pendapatan pemerintah juga berpotensi lebih baik tahun ini disumbang dari komoditas yang dapat mengurangi tekanan fiskal negara," ujarnya.

Samuel mengatakan bank sentral masih mempertahankan pandangan akomodatif, meskipun prospek inflasi cenderung meningkat seiring meningkatnya harga komoditas dunia. BI menegaskan bahwa kebijakan suku bunga rendah akan dipertahankan sampai terjadi tekanan inflasi yang bersifat fundamental yang terlihat pada inflasi inti, dan tidak menanggapi secara langsung kenaikan harga volatil dan yang diadministrasi.

"Suku bunga diperkirakan belum berubah selama tingkat inflasi inti masih terjaga, sementara rupiah didukung oleh stabilitas eksternal yang baik," kata Samuel.

Baca juga Bareksa Insight : Harga Komoditas Meroket, Reksadana Ini Makin Cemerlang


Strategi Atur Portofolio

Nah untuk menanggapi kondisi kondisi pasar yang dinamis, Samuel mengatakan strategi portofolio difokuskan pada tema besar yang secara fundamental mendukung bagi Indonesia.

"Kami melihat ada dua tema besar yang potensial di pasar Indonesia. Pertama adalah tema pemulihan ekonomi pasca pandemi yang diuntungkan dari adanya pent-up demand masyarakat. Beberapa sektor yang potensial dari tema ini adalah di sektor perbankan dan properti," kata Samuel.

Tema kedua, ia melanjutkan adalah yang lebih bersifat struktural dan membawa perubahan di lanskap ekonomi Indonesia. "Kami melihat sektor yang berhubungan dengan ekonomi digital dan green economy yang berhubungan dengan rantai pasokan energi terbarukan masuk dalam kategori ini," lanjutnya.

Ia mengatakan kedua sektor dimaksud sangat menarik didukung oleh potensi ekonomi digital Indonesia yang besar dan tren dunia menuju penggunaan energi terbarukan untuk menggantikan energi fosil.

Baca juga Promo THR Bareksa, Beli Reksadana Raih Hadiah Total Rp50 Juta

(Martina Priyanti/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​

Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.