Catatan Market Update Kuartal Pertama 2022 dan Saran Bagi Investor Oleh MAMI

Salah satu cara untuk mengelola volatilitas di pasar finansial adalah dengan melakukan diversifikasi
Hanum Kusuma Dewi • 25 Apr 2022
cover

Ilustrasi analis sedang melihat grafik dalam kertas laporan portofolio reksadana dengan berlatarkan laptop. (shutterstock)

Bareksa.com - Apa saja isu yang akan terjadi pada kuartal pertama tahun ini serta berkembang di pasar keuangan ke depan, lalu bagaimana langkah yang semestinya dilakukan seorang investor reksadana untuk meminimalkan risiko fluktuasi pasar?

Berikut market update PT Manulife Aset Manajemen Indonesia atau MAMI, yang disampaikan Krizia Maulana, Investment Specialist MAMI dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/4/2022).

The Fed Lebih Hawkish

Krizia menyampaikan lonjakan inflasi di awal tahun membuat The Fed memberikan signal kenaikan suku bunga yang lebih agresif. The Fed menyatakan, bahwa tidak membatasi kemungkinan kenaikan suku bunga lebih dari 25 basis poin dalam satu rapat dan menekankan ekonomi AS cukup kuat dalam menghadapi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi.

Hal tersebut, kata Krizia, mendorong ekspektasi pasar ke arah skenario yang lebih agresif, ekspektasi pasar sudah memperkirakan kenaikan suku bunga hingga mencapai 2,5 persen di akhir tahun 2022. Lebih lanjut, imbal hasil US Treasury juga turut naik, sempat menyentuh level 2,5 persen. 

Angka imbal hasil US Treasury di 2,5 persen pernah sebelumnya terlihat di tahun 2019, yang pada saat itu suku bunga The Fed berada pada rentang 2,25 persen sampai dengan 2,5 persen, dibandingkan level saat ini yang masih berada pada rentang 0,25 persen sampai 0,5 persen. Menurutnya, kondisi ini sebetulnya mencerminkan bahwa pasar sudah mengantisipasi dan bersiap dalam menghadapi kenaikan suku bunga yang tinggi. 

"Apabila ternyata kenyataan kenaikan suku bunga lebih rendah dibandingkan ekspektasi maka hal ini dapat memberikan kejutan positif bagi pasar keuangan," ucap Krizia. Ia melanjutkan potensi moderasi pada pertumbuhan ekonomi AS dapat mengubah stance (pendekatan) Fed menjadi lebih akomodatif.

Baca juga The Fed Agresif Naikkan Suku Bunga, Bagaimana Strategi Investasi Reksadana?

Konflik Rusia-Ukraina

Krizia menyampaikan eskalasi konflik ini sangat mengejutkan pasar, apalagi terjadi bersamaan dengan dimulainya siklus pengetatan The Fed. Memperhitungkan peran Rusia dan Ukraina yang besar dalam rantai pasokan migas, metal dan pangan dunia, dampak instan yang dirasakan adalah lewat kenaikan harga komoditas dan inflasi.

Ia mengatakan ketatnya pasokan di pasar komoditas sejak pandemi, ditambah lagi kekhawatiran disrupsi pasokan yang disebabkan oleh konflik ini, mendorong harga komoditas menyentuh level yang sangat tinggi. Menurutnya, dampak konflik ini pada setiap negara akan sangat berbeda, tergantung pada berbagai faktor, seperti misalnya posisi negara tersebut, apakah net importir atau eksportir terhadap pangan dan energi.

Kemudian besaran bobot pangan dan energi dalam keranjang inflasi, serta posisi fiskal dan ruang kebijakan moneternya."Sejauh ini konflik masih berlangsung. Seberapa besar dampaknya tergantung pada durasi konflik dan dampak sanksi yang diberikan terhadap pertumbuhan global," ucap Krizia.

Baca juga Krisis Ukraina Makin Tidak Pasti, Harga Emas Hari Ini Naik ke Level Tertinggi 1 Bulan

Aksi Jual Kepada Pasar Saham China

Di sisi lain pada kuartal kemarin, pasar saham China mengalami pelemahan, dibayangi beberapa faktor yang bersifat sementara, seperti melonjaknya kasus Covid-19 yang memicu lockdown di beberapa kota yang strategis secara perekonomian, konflik Rusia – Ukraina yang dikhawatirkan dapat berimbas terhadap kondisi geopolitik China dan pengetatan aturan bagi saham China yang listing di AS. Hal-hal inilah yang menekan pasar saham China di kuartal kemarin.

Namun on the positive note, ia menyampaikan, saat ini pemerintah China menekankan fokusnya untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dengan bantuan stimulus fiskal dan moneter. Pemerintah juga berkomitmen untuk mengurangi tindakan keras regulasi, mendukung sektor properti dan teknologi.

Menurut dia, setelah melalui kejutan dari berbagai dinamika global, saat ini volatilitas pasar mulai mengalami normalisasi, indeks volatilitas menurun dan kinerja pasar saham global pun mulai membaik. Rapat Fed bulan Maret menjadi titik balik, kejelasan arah kebijakan Fed mengurangi liarnya spekulasi pasar.

"Kami menilai bahwa faktor ketidakpastian yang disebabkan oleh perkembangan akhir-akhir ini berpotensi mengubah pendekatan bank sentral menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pengetatan moneter, serta memberikan dukungan lebih lanjut terhadap perekonomian," paparnya.

Baca juga Bareksa Insight : Investor Asing Terus Borong Saham RI, Cuan Reksadana Ini Meroket

Pasar Domestik

Sementara itu dari dalam negeri, Krizia mengatakan tahun ini Indonesia berada pada posisi yang atraktif. "Berbeda dengan negara maju yang mengalami tren normalisasi, Indonesia justru diuntungkan oleh momentum pemulihan ekonomi seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat dan meningkatnya vaksinasi," ujarnya.

Ia berpendapat sinyal pemulihan ini mulai terlihat pada kuartal keempat tahun 2021, saat pertumbuhan ekonomi kembali tumbuh ke level 5 persen secara tahunan. Adapun perbaikan pada stabilitas eksternal yang salah satunya ditunjukkan oleh surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang kuat, membuat nilai tukar Rupiah tetap stabil dan menjadi bantalan dalam menghadapi perubahan kebijakan moneter global.

Kriza mengatakan hal tersebut juga membuat Bank Indonesia menunjukkan sikap yang tidak terburu-buru, dan menegaskan bahwa kebijakan suku bunga rendah akan dipertahankan sampai terjadi tekanan inflasi yang bersifat fundamental, yang terlihat pada kenaikan inflasi inti.

Mengenai dampak langsung yang rendah terhadap konflik Rusia - Ukraina dan posisi Indonesia sebagai net eksportir komoditas, membuat Indonesia menjadi lebih terlindungi dari konflik ini. 

"Kenaikan harga komoditas memberikan trickle-down effect terhadap perekonomian secara keseluruhan lewat meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang bekerja dan berhubungan dengan sektor yang bersangkutan," kata dia.

Baca juga Bareksa Insight : Data Ekonomi RI Stabil, Reksadana Ini Bakal Makin Cuan

Tips Investasi Pasar Modal

Krizia mengatakan optimisme pelaku pasar akan potensi ekonomi Indonesia, terlihat dari masuknya aliran dana asing yang stabil di pasar saham. Kondisi yang kondusif tadi, disertai dengan kepemilikan asing yang masih relatif rendah membuka peluang penguatan lebih lanjut di pasar saham Indonesia.

"Ekspektasi pasar yang sudah sangat agresif terhadap kenaikan suku bunga Fed dan imbal hasil US Treasury, menciptakan peluang investasi di pasar obligasi," ucap dia.

Krizia mengatakan basis investor yang saat ini lebih terdiversifikasi, di mana terlihat dari naiknya partisipasi investor domestik dan menurunnya kepemilikan investor asing, berkontribusi pada stabilitas pasar obligasi domestik. "Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter, serta kondisi makro yang baik akan menopang pergerakan pasar obligasi Indonesia ke depannya," kata Krizia.

Krizia menyampaikan salah satu cara untuk mengelola volatilitas di pasar finansial adalah dengan melakukan diversifikasi, atau meragamkan portofolio investasi dengan aset yang memiliki korelasi rendah. "Hal ini penting dilakukan untuk meminimalisir risiko dan mengoptimalkan imbal hasil," ucapnya.

Reksadana bisa dipilih untuk diversifikasi investasi. Investor agresif dengan pandangan jangka panjang bisa memiliki mayoritas portofolio reksadana saham, dengan sebagian kecil di reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang. Adapun investor konservatif (profil risiko rendah), bisa menaruh porsi investasi lebih banyak di reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. 

Demi kenyamanan investasi, investor sebaiknya menyesuaikan jenis investasi reksadana dengan profil risiko dan tujuan keuangan. 

Baca juga Promo THR Bareksa, Beli Reksadana Raih Hadiah Total Rp50 Juta

(Martina Priyanti/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.