Nggak Perlu Panik, Invasi Rusia dan Covid-19 Dinilai akan Jadi New Normal

Bagi Indonesia, tensi geopolitik di Rusia akan memberikan banyak keuntungan
Abdul Malik • 25 Feb 2022
cover

Budi Hikmat, Kepala Ekonom Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat PT Bahana TCW Investment Management (kiri) bersama manajer investasi sedang diskusi perkembangan terkini pasar modal. (bahanatcw.com)

Bareksa.com - PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) menilai terjadinya invasi Rusia ke Ukraina menjadi new normal seperti saat ini. Sebelumnya, dunia juga menanggapi pandemi yang terjadi saat ini sebagai sebuah kenormalan baru (new normal).

Kepala Ekonom Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menjelaskan, ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini sepertinya akan berulang dan menjadi new normal.

“Setelah ketegangan antara Rusia dan Ukraina, nanti ada lagi dengan Taiwan. Sepertinya invasi dan pandemi ini akan menjadi new normal,” jelas dia kepada Bareksa Jumat (25/2/2022).

Terjadinya permasalahan geopolitik saat ini, menurut Bahana lebih disebabkan adanya permasalahan bisnis antara Rusia dengan AS yang melibatkan sekutu dan lawan politik mereka. Permasalahan ini menyangkut kepemilikan jalur gas dan minyak sehingga menimbulkan proxy war di antara negara-negara yang terlibat.

Bagi Indonesia, tensi geopolitik di Rusia akan memberikan banyak keuntungan. Apalagi, Indonesia memiliki fundamental makro ekonomi yang bagus sehingga peningkatan harga komoditas akibat tensi geopolitik ini bisa mengalirkan penerimaan kepada negara dan juga penciptaan lapangan kerja.

Proyeksi IHSG

Bahkan, Bahana TCW memprediksi IHSG pada akhir tahun ini bisa mencapai level 7.300. Budi menjelaskan, di tengah situasi global yang masih dipenuhi oleh sentimen kurang baik, IHSG masih menunjukkan tren positif dan nilai tukar rupiah yang mampu bertahan di tengah tekanan eksternal.

“Kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia semakin membaik di awal tahun ini. Terlihat dari selama periode 50 hari pertama 2022, IHSG sudah mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,88 persen. Ini merupakan awalan yang bagus dan kami proyeksikan masih akan berlanjut mengingat sejumlah capaian positif dari domestik masih akan terus bermunculan. Capaian positif ini yang akan mendorong kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan nasional. Kami memproyeksikan IHSG di akhir 2022 terus naik hingga mencapai level 7.300,” ujar Budi dalam keterangannya Kamis (24/2).

Setidaknya ada dua hal utama yang mendorong penguatan kinerja IHSG ke depan. Pertama, Budi menyampaikan, perbaikan ekonomi pasca Pandemi Covid-19 terus berlanjut. Perbaikan fundamental ini merupakan hasil dari stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), berbagai insentif pajak, serta kebijakan akomodatif oleh BI yang telah berjalan sejak awal pandemi.

Pemulihan ekonomi domestik yang kuat tercermin dari kembalinya daya beli masyarakat. Per Desember 2021, pertumbuhan uang beredar sebesar 22,98 persen secara tahunan. Pemulihan yang terus berlanjut turut didukung oleh neraca perdagangan yang membaik. Bank Indonesia (BI) menyampaikan neraca transaksi berjalan berhasil mencetak surplus pada 2021 lalu sebesar US$3,3 miliar atau setara Rp47 triliun. Ini merupakan surplus pertama setelah mencatatkan defisit beruntun selama sembilan tahun terakhir.

Naiknya harga komoditas sejak 2021 lalu diproyeksi akan berdampak pula pada kinerja emiten yang akan mendorong earnings levels. Secara rata-rata di tahun ini akan ada peningkatan earnings sebesar 17,19 persen yang akan mendorong IHSG ke level 7.300 atau tumbuh 11 persen dari akhir 2021 lalu.

Investor Asing

Kemudian, kepercayaan investor asing yang mulai terjaga yang membawa dana asing masuk ke pasar keuangan nasional sejak kuartal IV-2021. Perbaikan fundamental dipersepsikan positif oleh investor asing meski posisi dana masuk asing belum seperti saat masa commodity boom. Namun, momentum ini bisa diartikan sebagai titik awal kembalinya kepercayaan investor asing ke pasar saham Indonesia.

Budi mengatakan, investor asing melihat ekonomi tahun ini dan tahun-tahun mendatang sebagai tahun harvesting dari apa yang dilakukan pemerintah sejak 2014 lalu. Sejak 2014 lalu, pemerintah telah memulai berbagai proyek infrastruktur strategis nasional secara masif dan mulai 2019 lalu pemerintah secara serius memperbaiki regulasi guna mendukung kemudahan investasi di dalam negeri, salah satunya melalui omnibus law. Saat ini, pasar melihat bahwa apa yang sudah dilakukan pemerintah sejak 2014 tersebut sudah mulai menunjukkan hasilnya.

“Saat ini pelaku pasar utamanya asing melihat Indonesia mulai terlihat memiliki karakter ekonomi yang jelas. Saat ini terlihat Indonesia sebagai negara manufaktur dengan kebijakan peningkatan nilai tambah sejumlah komoditas alam dan tidak hanya berorientasi menjual bahan mentah, contohnya produksi nikel, baja dan lain-lain.

Jadi, masuknya asing ke pasar saham Indonesia lebih disebabkan oleh tingkat kepercayaan pasar kepada pertumbuhan ekonomi  Indonesia di masa mendatang. Dengan kata lain, kepercayaan pelaku pasar asing kembali tumbuh karena mereka mengapresiasi arah pembangunan ekonomi Indonesia,” tutup Budi.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan in
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Investasi
reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami
prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.