Bareksa Update : Defisit APBN Turun, Kinerja SBN dan Reksadana Pendapatan Tetap Naik

Meski dibayangi sentimen kebijakan The Fed, harga SBN maupun reksadana pendapatan tetap masih menunjukkan kenaikan sepekan terakhir
Bareksa • 17 Jan 2022
cover

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pandangan pemerintah pada Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (18/5). Defisit APBN 2021 yang menurun dibandingkan 2020 jadi sentimen positif bagi pasar SBN dan reksadana pendapatan tetap. (ANTARA FOTO)

Bareksa.com - Meski masih dibayangi sentimen rencana kebijakan pengetatan ekonomi di Amerika Serikat (AS), mayoritas harga Surat Berharga Negara (SBN) maupun kinerja reksadana pendapatan tetap masih menunjukkan kenaikan dalam sepekan terakhir. 

Menurut analisis Bareksa, penguatan pasar SBN karena ditopang rilis data ekonomi dalam negeri yang mencatat kinerja baik, seperti penurunan defisit Anggaran Negara (APBN) di 2021 yang sebesar 4,65 persen, turun dibandingkan 2020 yang sebesar 6,14 persen. 

Kabar ini menjadi sentimen positif untuk pasar SBN karena stabilitas perekonomian Indonesia masih terjaga dengan baik. 

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 14/01/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 6,4 persen, Jumat, pada 14 Januari 2022.

Di sisi lain, mayoritas sektor saham di Bursa Efek Indonesia cenderung melemah dalam sepekan terakhir. Akibatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu mengakumulasi penurunan 0,12 persen ke level 6.693,4. 

Menurut analisis Bareksa, tekanan di pasar saham akibat perkembangan kasus Covid-19 yang menunjukkan kenaikan pasca libur Tahun Baru 2022. 

Meski begitu, mayoritas reksadana saham berbasis komoditas masih menunjukkan penguatan karena kabar pencabutan larangan ekspor batu bara dan mendorong kenaikan harga saham sektor energi sekitar 2,5 persen sepanjang pekan lalu.

Baca : SBN Ritel Pertama 2022, Ini Jadwal Penetapan Kupon hingga Masa Penawaran ORI021

Di tengah menguatnya pasar SBN dan kenaikan saham sektor energi, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks dengan kinerja mantul berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 14 Januari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A : 31 persen
|TRAM Strategic Plus : 28,02 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 14 Januari 2022)

Reksadana Saham

Sucorinvest Equity Fund : 20,01 persen
BNI-AM Inspiring Equity Fund: 13,1 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 21,65 persen
BNP Paribas Sri Kehati : 19,58 persen

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Bareksa's Investor Navigator

Analisis Bareksa memperkirakan pada perdagangan hari ini reksadana berbasis saham komoditas dan reksadana pendapatan tetap akan bergerak terbatas mengingat investor akan memperhatikan data neraca perdagangan Indonesia bulan Desember 2021. 

Analisis Bareksa melihat neraca dagang Indonesia masih akan tetap surplus dengan nilai yang cenderung lebih rendah dari bulan sebelumnya. 

Selain itu rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan ini yang akan diselenggarakan Rabu-Kamis (19-20 Januari 2022) masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5 persen.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.