Pasar Saham dan Obligasi 2022 Prospektif, Peluang Reksadana Saham dan Pendapatan Tetap

Indonesia mendapatkan banyak manfaat dari kenaikan harga batu bara karena meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga menarik masuknya arus modal asing
Abdul Malik • 06 Dec 2021
cover

Ilustrasi investor atau manajer investasi melihat outlook pasar saham dan obligasi dan dampaknya ke reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar saham dan obligasi Indonesia dinilai memiliki potensi besar pada tahun ini dan tahun depan. Potensi ini bisa menjadi sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi Indonesia dan juga produk investasi terkait, seperti reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap.

Berdasarkan HSBC Global Research, Indonesia mendapatkan banyak manfaat dari kenaikan harga batu bara karena meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga menarik masuknya arus modal asing. Indonesia juga kaya akan nikel yang sangat dibutuhkan untuk membuat baterai dalam kendaraan listrik. 

"Ini menarik banyak investasi pada pembuatan baterai yang juga penting dalam penilaian valuasi pasar saham," tulis HSBC dalam risetnya, Senin (6/12).

Kinerja emiten di Indonesia juga sedang melambung dengan proyeksi pertumbuhan laba tahun ini di kisaran 31 persen tahun ini dan 18 persen pada tahun depan. Pertumbuhan laba ini terjadi pada seluruh sektor, kecuali sektor energi dan sektor utilitas. Adapun sektor perbankan bertumbuh karena pertumbuhan kredit mulai meningkat yang ditopang oleh pemulihan ekonomi dan peningkatan penetrasi oleh digital banking dan keuangan mikro.

"Perusahaan yang bergerak dalam transaksi pembayaran mendapatkan manfaat dari bertumbuhnya pasar transaksi pembayaran," tulis HSBC.

Kemudian, perusahaan konsumer mendapatkan manfaat dari peningkatan margin di industri agribisnis karena meningkatnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Industri semen mulai masuk fase pemulihan seiring mulai pulihnya investasi di sektor manufaktur.

Sektor otomotif juga mendapatkan manfaat dengan meningkatnya penjualan kendaraan, meskipun harga mobil akan meningkat pada 2022.

Pasar Obligasi

Di lain pihak, indonesia adalah pasar beta (portofolio) yang cukup besar. Hal yang melatarbelakangi hal ini karena investasi di Indonesia banyak dibiayai oleh portofolio investor asing, terutama obligasi.

Secara historis, investor asing memiliki hampir sebagian besar pasar obligasi lokal. Karenanya, aksi beli dan jual oleh investor ini bisa berdampak besar pada pergerakan nilai tukar dan yield obligasi. 

​"Dalam situasi yang berisiko, investor asing cenderung membeli obligasi Indonesia sehingga berdampak positif bagi imbal hasil dan juga nilai tukar, begitu juga sebaliknya," tulis HSBC.

Namun demikian, kepemilikan investor asing di obligasi negara menurun signifikan. Hal ini tentunya mengurangi volatilitas di pasar obligasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap portofolio investor asing.

Chief Asean Economist HSBC Joseph Incalcaterra menjelaskan, sentimen eksternal yang mempengaruhi perekonomian Indonesia mulai membaik karena defisit transaksi berjalan menurun dan pembiayaan melalui kondisi foreign direct investment (FDI) meningkat.

"Indonesia mendapatkan manfaat dari kenaikan harga komoditas dan juga investasi asing dalam FDI meningkat sehingga bisa menutupi defisit transaksi berjalan," ucap dia.

Ditambah beberapa penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang dilakukan perusahaan teknologi menjadi momentum terjadinya transformasi di pasar saham.

Sebelumnya, bank konvensional menjadi pemimpin di pasar saham, namun perkembangan teknologi bisa membuat perusahaan teknologi besar (big tech) yang akan memainkan peran yang lebih besar di pasar saham.

Besarnya peluang di pasar saham dan pasar obligasi ini bisa menjadi sentimen positif bagi reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap.

Berdasarkan data Bareksa, sebagian besar dari 45 produk reksadana saham yang ada di Bareksa mencatatkan kinerja positif.

Manulife Saham Andalan dan Sucorinvest Sharia Equity Fund menjadi reksadana dengan tingkat pengembalian (return) tertinggi. Dalam setahun (per 3 Desember 2021), Manulife Saham Andalan mencatat return 33,73 persen. Sedangkan Sucorinvest Sharia Equity Fund membukukan imbalan 18,12 persen.

Kinerja positif juga terlihat pada reksadana pendapatan tetap atau reksadana dengan portofolio surat utang atau obligasi.

Berdasarkan data produk Bareksa, sebagian besar dari 30 produk yang ada di Bareksa mencatat kinerja positif. Syailendra Pendapatan Tetap Premium dan Sucorinvest Stable Fund mencatat kinerja tertinggi, yakni masing-masing 9,07 persen dan 9,05 persen setahun.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.