Tips Agar Investor Reksadana Raih Cuan Saat Window Dressing

Smart investor bisa mencicil saham atau reksadana saham yang diincar
Abdul Malik • 08 Nov 2021
cover

Ilustrasi perempuan investor yang berhasil mencapai target investasinya dari hasil investasinya di reksadana seiring fenomena window dressing di pasar modal. (Shutterstock)

Bareksa.com - Akhir tahun kian menjelang dan biasanya akan ramai dibicarakan soal Window Dressing. Apa sebenarnya window dressing dan apa yang mesti dilakukan investor menghadapi fenomena window dressing? Bagaimana manajer investasi/MI melakukan window dressing pada produk reksadananya?

Window dressing merupakan strategi yang digunakan oleh manajer investasi untuk meningkatkan penampilan kinerja saham atau reksadana sebelum disajikan kepada investor atau pemegang saham.

Investment Partnership Specialist Mandiri Manajemen Investasi, Gilang Fajar dalam BareksaTalks, menjelaskan window dressing seperti fenomena rutin terjadi di pasar saham dunia termasuk Indonesia, khususnya menjelang akhir tahun.

"Window dressing bicara dalam konteks fund management, dapat diartikan dalam mempercantik portfolio dari fund, reksadana dengan cara menjual underlying saham yang tidak berkinerja baik dengan menggantinya saham yang memiliki kinerja yang lebih baik dengan tujuan agar memberikan kinerja fund kepada investor reksadana. Nantinya biar lebih menarik kepada investor baru dalam hal memilih suatu instrumen reksadana," kata Gilang, Kamis malam (5/11/2021).

Gilang mengatakan setiap manajer investasi akan mengirimkan laporan kerja secara berkala, fund fact sheet, setiap bulan. Nah, investor bisa melihat kinerja reksadanasecara berkala dan juga top holdingnya, ada saham A B C D.

Menurutnya jika smart investor rutin melakukan monitoring, bisa dilihat ada perbedaan dari sisi top holding, ini artinya manajer investasi sudah melakukan window dressing. Manajer Investasi sudah mengganti saham yang tidak baik dengan saham yang sudah baik dan bisa dilihat dari reference.

Lalu kapan sebenarnya window dressing dan berapa lama? Gilang mengatakan window dressing adalah strategi dari manajer investasi untuk mempercantik portfolio, tujuannya untuk memperbaiki kinerja reksadana.

Artinya, kinerja suatu reksadana legging atau lebih rendah dari benchmark dan biasanya dilakukan secara berkala, misalnya setiap satu semester. Hanja saja, hal itu tidak rutin dilakukan dan tidak menjadi suatu fenomena yang perlu di-highlight.

"Karena window dressing di akhir tahun, serta rutin memang ditunggu pelaku pasar," imbuhnya.

Dampak Terhadap Investor Ritel

Gilang menuturkan dalam momen window dressing, harga saham secara keseluruhan menguat, hal ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) biasanya dalam tren kenaikan pada Desember. Menurut dia, hal tersebut konsisten terjadi selama 10 terakhir.

Dia menjelaskan ada potensi IHSG akan melambat di bulan November. Hal itu karena para pelaku pasar sedang dalam mode preparation jelang window dressing.

"Jadi IHSG ini bisa melambat di November, perlambatan ini normal karena menunggu moment IHSG. Ini jadi bisa kesempatan smart investor, bisa mencicil saham atau reksadana saham yang diincar," kata Gilang.

Jadi lebih baik beli atau tahan atau bagimana? Gilang mengatakan kalau sedang melambat, tapi kita tahu di penghujung tahun ada katalis positif dari window dressing, akan lebih bijak jika bisa mencicil dari sekarang.

Gilang melanjutkan katalis positif untuk di penghujung tahun bukan hanya dari window dressing. Sentimen positif lainnya seperti isu tapering yang sudah diumumkan, namun sudah diperkirakan oleh pelaku pasar.

Selain itu, ada sentimen dari kondisi ekonomi Indonesia yang mulai berjalan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jakarta level 1, di berbagai daerah sudah longgar dan mal sudah buka 100 persen. Gilang menilai semua itu menandakan roda perekonomian sudah berjalan.

Sentimen positif lainnya, data ekonomi purchasing manufacture index yang mengukur tingkat produksi dari produsen, angkanya sudah 57,2 persen yang berarti produsen mulai aktif kembali. Jika dibandingkan dengan Juni-Juli, indeks manufaktur masih di angka 45-47.

Gilang mengatakan sekarang produsen dan konsumen sama sama sudah kembali normal. Selain itu, ada juga sentimen dari program pemulihan ekonomi nasional. Per Oktober penyerapan anggaran baru 57 persen, sehingga masih ada 43 persen anggaran yang belum disalurkan ke masyarakat.

"Once misalnya masyarakat sudah mendapatkan saluran dana, berarti daya beli akan menanjak, ada spare money untuk berinvestasi. Ini nantinya akan menjadi katalis positif IHSG di akhir tahun, secara historis, bulan November dari tahun 2019 rata-rata return minus 4 persen, berarti ada sesuatu kesempatan untuk kita mencicil sedikit demi sedikit menghadapi window dressing," papar Gilang.

Persiapan Investor

Gilang mengatakan smart investor bisa mulai mencari reksadana saham dan saham incaran. "Kita harus mulai masuk mana sebagai wishlist. Kita siapkan dana investasinya, perlu diperhatikan dana investasi, karena kita masuk di saham jadi kalau bisa jangan menggunakan dana darurat untuk investasi," ujar Gilang.

Soal seberapa banyak investasinya, ia mengatakan bisa dilakukan besar sekaligus maupun sedikit-sedikit. Namun, kata Gilang, akan lebih bijak dibeli secara berkala karena investasi bukan sekali beli dan ditinggal.

"Secara berkala, sedikit lama-lama jadi bukit. Tujuannya biar mendapatkan harga rata-rata cukup rendah dan debitnya semakin banyak. Once positif return kita bisa maksimal," ujar dia.

Menurut Gilang, Mandiri Investasi menargetkan IHSG sekitar 6.600-6.800 pada akhir 2021. Jika lihat posisi terakhir IHSG, di 6509, berarti ada potensi upside sekitar 3 persen.

"Kalau possibility-nya sangat besar sampai ke 6.600 karena sentimen positif jelang akhir tahun sangat banyak, window dressing, penyaluran anggaran, perekonomian yang mulai jalan, kombinasi ini bisa mendorong IHSG sampai ke best scenario 6.800," kata Gilang.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.