IHSG Tembus Level Psikologis di Atas 6.600, Reksadana Saham Syariah Juaranya

Capaian IHSG yang berhasil menembus level 6.600 semakin mendekati level penutupan all time high-nya di 6.689,29 pada 19 Februari 2018 silam
Abdul Malik • 15 Oct 2021
cover

Ilustrasi Muslimah investor yang gembira karena melihat hasil investasinya di reksadana saham yang melesat seiring lonjakan kinerja pasar saham nasional. (Shutterstock)

Bareksa.com - ​Mengakhiri perdagangan Kamis (14/10/2021), pasar saham Indonesia berhasil melanjutkan tren poositif dengan kenaikan tiga hari beruntun serta menembus level psikologis baru di 6.600. Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat dengan kenaikan 1,36 persen ke level 6.626,11.

Level IHSG pada penutupan perdagangan kemarin rekor tertinggi tahun ini, juga merupakan level tertinggi sejak Februari 2018 atau sekitar 44 bulan terakhir.

Aktivitas perdagangan tergolong cukup ramai dengan nilai transaksi yang mencapai Rp16,76 triliun, dan investor asing terlihat lebih dominan memborong saham Tanah Air dengan catatan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp1,44 triliun di pasar reguler.

Menurut analisis Bareksa, capain IHSG yang berhasil menembus level 6.600 semakin mendekati level penutupan all time high-nya di angka  6.689,29 yang dicapai pada 19 Februari 2018 silam.

IHSG sukses menguat di dua minggu pertama kuartal ke IV. Di saat yang sama sentimen global juga bisa dikatakan kurang terlalu mendukung untuk penguatan yang terbilang kencang.

Risalah rapat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed menunjukkan para pengambil kebijakan sepakat untuk mulai melakukan tapering di pertengahan November atau pertengahan Desember 2021 meskipun mereka tetap bersilang pendapat atas seberapa besar ancaman inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Risalah pertemuan tersebut menunjukkan, para anggota merasa The Fed telah hampir mencapai tujuan ekonominya dan segera dapat mulai menormalkan kebijakan dengan mengurangi laju pembelian aset bulanannya.

Sentimen dari luar negeri lain yang masih akan terus dipantau oleh investor adalah terkait kasus likuiditas perusahaan properti China, Evergrande dan krisis energi yang melanda sejumlah negara.

Melansir Reuters, Rabu (13/10), Krisis China Evergrande memicu putaran baru penurunan peringkat kredit. Kemarin, Evergrande kembali melewatkan pembayaran obligasi internasionalnya senilai US$150 miliar untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Selain itu banyak pengembang properti lain yang juga menghadapi tenggat waktu pembayaran sebelum akhir tahun, senasib dengan Evergrande yang tampak semakin suram. Ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan memicu dampak serius yang jauh lebih luas.

Reksadana Saham Dominasi Return Harian

Kondisi pasar saham Indonesia yang terapresiasi pada perdagangan kemarin, secara umum turut mendorong kinerja reksadana saham yang memang mengalokasikan sedikitnya 80 persen portofolionya ke dalam aset berupa ekuitas tersebut.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham dan indeks reksadana saham syariah kompak menorehkan kenaikan masing-masing 1,09 persen dan 1,14 persen.

Sumber: Bareksa

Adapun secara lebih rinci, produk reksadana saham memang terlihat mendominasi kinerja positif pada perdagangan kemarin.

Berdasarkan top 10 imbal hasil (return) harian pada perdagangan kemarin, seluruhnya ditempati oleh produk reksadana saham, di mana yang berbasis syariah cukup mendominasi dengan 6 produk reksadana.

Sumber: Bareksa

Reksadana syariah tersebut di antaranya Bahana Icon Syariah, Syailendra Sharia Equity Fund, MNC Dana Syariah Ekuitas, Simas Syariah Unggulan, Mandiri Investa Atraktif Syariah dan Principal Islamic Equity Growth Syariah.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.