MAMI Nilai Pasar Saham dan Obligasi Kuat Hadapi Tapering, Berkah Buat Reksadana

Pasar saham dan obligasi Indonesia dinilai lebih siap menghadapi penerapan tapering Bank Sentral Amerika Serikat pada akhir November
Abdul Malik • 11 Nov 2021
cover

Dimas Ardhinugraha – Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. (dok. Manulife AM)

Bareksa.com - Pasar saham dan obligasi Indonesia dinilai lebih siap menghadapi penerapan tapering (pengurangan stimulus) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada akhir November mendatang. Kuatnya pasar saham dan obligasi tentunya bisa menjadi sentimen positif bagi reksadana saham dan pendapatan tetap.

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menjelaskan pada November ini, fokus pasar masih mengacu pada penerapan Fed tapering. Mengantisipasi ekspektasi peningkatan inflasi, pasar finansial mulai menyesuaikan ekspektasi peningkatan frekuensi kenaikan Fed Rate pada 2022. 

"Namun sejauh ini The Fed memandang kenaikan inflasi bersifat sementara dan belum melihat potensi kenaikan suku bunga secara agresif," jelas Dimas dalam keterangannya Kamis (11/11).

Berbeda dengan di Amerika Serikat (AS), tekanan inflasi di Asia saat ini relatif lebih terjaga, dipengaruhi oleh pembatasan aktivitas ekonomi, intervensi pemerintah atas harga energi, dan juga pangan yang berkontribusi besar dalam keranjang inflasi.

Di tengah kebijakan fiskal yang lebih ketat, outlook kebijakan moneter Asia diperkirakan tetap akomodatif dan menjadi salah satu faktor pendorong utama pemulihan ekonomi.

Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang sempat mengalami mismanagement penanganan pandemi, dukungan stimulus yang tidak terlalu agresif dan pembukaan aktivitas ekonomi yang kurang merata, justru memiliki ruang ekspansi ekonomi yang lebih tinggi pada 2022. Kondisi ini diharapkan memberikan sentimen yang positif terhadap perekonomian dan pasar finansial Indonesia. 

Khusus di pasar obligasi, Dimas melihat pasar obligasi kini lebih siap dalam menghadapi tren perubahan sentimen global ini. Faktor kepemilikan asing yang jauh lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya, dinamika pasokan obligasi yang lebih baik dan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik diharapkan dapat meredam dampak kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat pada 2022. 

"Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia," jelas Dimas.

Di pasar saham, aliran dana asing masuk pasar saham semakin kuat bahkan menjelang pengetatan moneter The Fed. Minat terhadap saham kapitalisasi besar mulai menunjukkan perbaikan didukung oleh membaiknya situasi pandemi dalam negeri.

Sementara itu, saham ekonomi digital menawarkan prospek jangka panjang yang menarik didukung tren struktural industri yang mengarah ke digital dan potensi inklusi pada indeks saham global. 

Faktor-faktor tersebut menjadi peluang bagi investor untuk menambah portofolio investasinya di reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham. Sebagai contoh reksa dana Manulife Pendapatan Bulanan II (MPB II) dari Manulife, sejak diluncurkan Januari 2009, MPB II telah mencatatkan kinerja historis rata-rata 6,36 persen per tahun (per Oktober 2021), mengungguli rata-rata inflasi tahunan Indonesia.

Reksa dana lain milik Manulife, yaitu reksa dana Manulife Saham Andalan (MSA), sejak peluncurannya pada November 2007 berhasil mencatatkan kinerja historis rata-rata 6,84 persen per tahun, di atas tolok ukur (indeks IDX80) yang sebesar 5,8 persen.

Di sisi lain, Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menjelaskan, dampak dari tapering tantrum di AS akan sangat minimal terhadap pasar modal Indonesia. Pasalnya, Indonesia berada dalam posisi yang lebih baik dalam menghadapi tapering karena didukung oleh rendahnya current account deficit (CAD) dan besarnya cadangan devisa negara.

"Kami mempercayai risiko tapering tantrum akan sangat minimal terhadap pasar modal Indonesia karena investor asing terlihat sangat mempercayai Indonesia yang ditunjukkan dengan derasnya arus modal asing ke pasar saham yang mencapai Rp41,6 triliun sejak awal tahun hingga Oktober 2021," tulis Hariyanto dalam risetnya.

Adapun sentimen lain yang mempengaruhi indeks harga saham gabungan (IHSG) adalah pelonggaran PPKM yang bisa meningkatkan aktivitas ekonomi. Selain itu dipengaruhi juga peningkatan kinerja emiten pada kuartal III-2021. Mirae mencatat, kinerja emiten LQ45 pada kuartal III-2021 meningkat 12,1 persen dibandingkan kuartal II-2021 dan meningkat 56,6 persen dari periode yang sama tahun 2020. Peningkatan kinerja emiten LQ45 dipimpin oleh emiten keuangan dan pertambangan.

Berkah Buat Reksadana

Menguatnya pasar saham dan obligasi di tengah penerapan tapering tentunya bisa menjadi berkah bagi reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap. Sejauh ini, 45 reksadana saham di Bareksa masih membukukan kinerja yang ciamik, yakni imbal hasilnya mencapai 2,57 persen 52,74 persen setahun. Manulife Saham Andalan menjadi reksadana saham dengan kinerja tertinggi selama setahun, yakni mencapai 52,74 persen.

Peningkatan kinerja juga terjadi pada reksadana pendapatan tetap. Sebanyak 30 produk reksadana pendapatan tetap yang ada di Bareksa membukukan kinerja positif dengan kisaran return (tingkat pengembalian) 0,49 persen hingga 9,59 persen dalam setahun.

Syailendra Pendapatan Tetap Premium menjadi reksadana pendapatan tetap yang membukukan return tertinggi, yakni 9,59 persen.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.