Ini Tiga Faktor Pendorong Kenaikan Dana Kelolaan Industri Reksadana

Reksadana pasar uang dan reksadana saham diprediksi bisa mencatatkan pertumbuhan tertinggi di sisa akhir tahun ini
Abdul Malik • 11 Oct 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana dan SBN yang terus bertumbuh, serta dana kelolaan terus meningkat. (Shutterstock)

Bareksa.com - Dana kelolaan industri reksadana pada September 2021 tercatat tumbuh sekitar 1,7 persen atau senilai Rp9,22 triliun, menjadi Rp551,76 triliun. Dana kelolaan industri reksadana diproyeksikan masih akan terus tumbuh pada sisa tahun ini. Apa saja faktor pendorongnya?

Tumbuhnya dana kelolaan industri reksadana pada bulan lalu, disokong dengan masuknya sebagian pelaku pasar, di mana mereka cenderung menambah kepemilikan reksadananya. Nampak terlihat dari naik 1,4 persen unit penyertaan reksadana menjadi 409,81 miliar per September 2021.

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi menilai dana kelolaan industri reksadana masih akan bertambah ke depannya. Salah satu faktor pendorongnya, adalah pemulihan ekonomi di kuartal IV 2021 yang akan menjadi katalis positif reksadana.

Selain itu, Reza melanjutkan, pertumbuhan investor reksadana yang masih akan berlanjut juga turut jadi faktor yang mendorong pertumbuhan dana kelolaan industri reksadana ke depan.

Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menyampaikan bertambahnya jumlah investor reksadana akan memberikan snowball effect. Ia meyakini, ketika basis investor terus naik, dana kelolaan akan ikut terus naik. Hal ini juga akan terus memicu pertumbuhan investor, dan begitu seterusnya.

"Apalagi, sekarang fintech juga sudah semakin banyak memasarkan produk reksadana. Dengan akses yang semakin mudah, literasi keuangan yang membaik, hal ini akan membuat industri reksadana terus tumbuh," kata Wawan dilansir Kontan.co.id (8/10/2021).

Wawan menilai dana kelolaan industri reksadana masih akan tumbuh karena ada tiga sentimen yang mendukung.

Pertama, angka kasus harian Covid-19 yang terus turun sehingga membuat PPKM akan dicabut.

Kedua, kenaikan harga komoditas energi akibat krisis di Eropa maupun China akan jadi sentimen positif hingga akhir tahun ini.

Ketiga, ekspektasi akan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik pada kuartal IV 2021. Hal ini membuat saham-saham LQ45 yang sempat tertekan sebelumnya, berangsur-angsur akan naik dan mendukung kinerja reksadana saham.

Berpotensi Tumbuh Hingga 10 Persen

"Berkaca dari akhir tahun lalu, jelang akhir tahun, pasar saham bergerak tajam seiring antisipasi pertumbuhan ekonomi yang membaik. Hal yang sama akan kembali terulang pada tahun ini," imbuh Wawan.

Hanya saja, Wawan menyoroti reksadana pendapatan tetap berpotensi sedikit terdampak oleh sentimen kebijakan tapering Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk jangka pendek.

Karena itu, menurut Wawan, reksadana pasar uang dan reksadana saham akan menjadi yang mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi pada sisa akhir tahun ini.

Wawan memperkirakan dana kelolaan industri reksadana bisa tumbuh sekitar 5 persen dari posisi saat ini pada akhir tahun nanti. Sementara Reza memproyeksikan dana kelolaan industri reksadana bisa naik 8 persen hingga 10 persen.

(Martina Priyanti/AM)

​**

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.