Jelang Pertemuan The Fed, Bagaimana Kinerja SUN dan Reksadana Pendapatan Tetap?

Pekan ini, harga SUN diperkirakan akan menurun ditandai dengan potensi peningkatan imbal hasil
Abdul Malik • 13 Sep 2021
cover

Ilustrasi arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang sangat mempengaruhi kinerja pasar saham dan SBN, sehingga berdampak pada kinerja reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Harga Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan menurun karena pelaku pasar masih menunggu keputusan tapering off atau kebijakan reduksi pembelian kembali obligasi pemerintah Amerika Serikat dari pasar dalam pertemuan Bank Sentral Negeri Paman Sam atau The Fed dalam beberapa waktu mendatang. Meski begitu potensi penurunan harga SUN diprediksi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja reksadana pendapatan tetap.

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan pada pekan ini, harga SUN diperkirakan akan menurun yang ditandai dengan potensi peningkatan imbal hasil (yield) di kisaran level 5,05-5,2 persen untuk tenor 5 tahun. Kemudian, yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak di level 6,1-6,2 persen.

Pergerakan ini dipengaruhi oleh beberapa peristiwa ekonomi yang akan terjadi di tingkat domestik maupun global. Dari tingkat domestik, investor akan menunggu rilis data ekspor-impor yang diperkirakan akan meningkat.

Sementara dari luar negeri, investor akan memperhatikan data retail sales advance AS, neraca perdagangan Eropa dan data penjualan ritel Tiongkok. Selain data perekonomian tersebut, investor akan menunggu keputusan dalam pertemuan The Fed pada bulan ini. Menurut Nico, pertemuan The Fed tersebut menjadi penting karena menjadi penentu kapan tapering akan dilakukan.

"Sedikit banyak The Fed sendiri memperlihatkan bahwa mereka akan mengumumkan keputusan tersebut pada pertemuan The Fed pada bulan September ini," jelas Nico akhir pekan lalu.

Nico mengungkapkan, dalam pertemuan itu, investor ingin melihat sejauh mana The Fed akan memberikan keputusan. Pasalnya, Bank Sentral Australia dan Eropa menyatakan akan memulai tapering. Karenanya, keputusan The Fed yang menjadi tolok ukur bank sentral berbagai negara di dunia akan sangat mempengaruhi pasar dan juga pergerakan imbal hasil obligasi negara.

Di tengah situasi pasar yang wait and see ini pasar mulai menghadapi tekanan sehingga mendorong peningkatan imbal hasil. Dalam situasi ini, Nico menyarankan investor untuk memperbanyak investasi di SUN berdurasi jangka pendek atau di bawah 10 tahun untuk meredam volatilitas yang akan terjadi. Namun demikian, investor juga harus tetap berinvestasi di obligasi jangka panjang dengan porsi yang lebih sedikit.

Head of Fixed Income PT Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf menjelaskan, pergerakan imbal hasil SUN akan sedikit volatil dengan kecenderungan flat. Volatilitas ini, menurut Dimas disebabkan oleh pertemuan The Fed yang akan digelar dua minggu mendatang.

"Dalam FOMC meeting ini akan diperoleh lebih banyak mengenai gambaran teknis mengenai pengurangan pembelian efek utang oleh The Fed dan arah Fed Fund Rate ke depannya," kata dia.

Ke depan, Dimas memperkirakan yield SUN akan bergerak di level 6,2-6,3 persen. Sentimen yang mempengaruhinya adalah pencapaian tax revenue dan rencana untuk menurunkan tingkat defisit anggaran pada 2023 dan ke depannya.

Kendati harga SUN diperkirakan menurun, namun hal ini tidak berpengaruh signifikan terhadap reksadana berbasis obligasi negara, yakni reksadana pendapatan tetap.

Berdasarkan data Bareksa, 30 reksadana pendapatan tetap yang ada, semuanya membukukan tingkat pengembalian (return) yang positif.

Sucorinvest Bond Fund dari PT Sucorinvest Asset Management bahkan membukukan return positif hingga 12,87 persen dalam setahun.

Kinerja yang positif juga ditunjukkan oleh Syailendra Pendapatan Tetap Premium yang mencatat return 12,5 persen dalam setahun. Tram Strategic Plus juga termasuk reksadana pendapatan tetap yang bisa membukukan return di atas 10 persen dalam jangka waktu setahun.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.