PPKM dan Pertumbuhan Ekonomi Jadi Risiko Pasar, Begini Strategi Investasi Reksadana

Analisis Bareksa menyarankan investor dapat mulai melakukan akumulasi di reksadana saham jika kasus Covid-19 mulai menunjukkan perbaikan
Abdul Malik • 21 Jul 2021
cover

Ilustrasi kebijakan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat Jawa – Bali guna menekan angka penularan Covid-19 yang berpengaruh pada kinerja pasar saham dan obligasi, serta berdampak pada reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Dalam sepekan terakhir, imbal hasil (yield) obligasi AS cenderung mengalami penurunan setelah bank sentral The Fed menyatakan jika kenaikan inflasi saat ini bersifat sementara dan akan tetap menjalankan kebijakan program pembelian obligasi.

Menurut analisis Bareksa, hal tersebut diproyeksikan menjadi katalis positif untuk pasar obligasi Indonesia, karena selisih (spread) yang cukup lebar antara imbal hasil (yield) acuan obligasi AS dan Indonesia yang saat ini sekitar 5,2 persen dapat menarik arus dana asing untuk melakukan pembelian obligasi di Indonesia, terutama SBN yang lebih sensitif terhadap isu makro ekonomi.

Beberapa reksadana pendapatan tetap berbasis SBN yang tersedia di Bareksa, seperti berikut ini :

Sumber: Bareksa

Berdasarkan Fund Fact Sheet bulan Juni, Sucorinvest Bond Fund menempatkan sekitar 97.46 persen dana kelolaannya pada obligasi dan atau sukuk pemerintah & BUMN Infrastruktur dengan total durasi portofolio sebesar 6.82.

Artinya, mayoritas obligasi dalam portofolio dalam reksadana tersebut adalah obligasi tenor panjang yang cukup sensitif dengan isu makro ekonomi.

Strategi Investasi Reksadana

Analisis Bareksa menilai risiko pasar sepanjang pekan ini di antaranya :

1. Tren lonjakan kasus baru harian Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)
2. Proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi 2021.

Adapun faktor yang bisa mendorong pasar di antaranya :

1. Kenaikan harga komoditas dunia
2. Tren suku bunga rendah

Analisis Bareksa menyarankan investor dapat mulai melakukan akumulasi di reksadana saham jika kasus Covid-19 mulai menunjukkan perbaikan penurunan jumlah kasus ataupun ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi.

Selain itu, investor dapat pertimbangkan diversifikasi aset yang risikonya lebih moderat seperti reksadana pendapatan tetap. Ataupun instrumen investasi dengan risiko rendah seperti reksadana pasar uang.

Beberapa produk reksadana saham dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan adalah sebagai berikut :

 Sumber: Bareksa

Untuk diketahui, sepanjang pekan lalu periode 12-16 Juli 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,54 persen di level 6,072.51. Kenaikan terbesar di sektor Kesehatan 2,69 persen dan keuangan 2,12 persen.

Adapun imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun turun ke level 6,49 persen dari pekan sebelumnya 6,63 persen.

(Sigma Kinasih/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.