Alasan Manajer Investasi Minat IPO Saham Unicorn untuk Porto Reksadana

Sucor AM menilai saham e-commerce Bukalapak memiliki potensi pertumbuhan
Hanum Kusuma Dewi • 30 Jun 2021
cover

Ilustrasi manajer investasi yang sedang mengatur portofolio investasinya di saham, obligasi, SBN, hingga pasar uang agar reksadana yang dia kelola membukukan kinerja optimal. (Shutterstock)

Bareksa.com - Dalam waktu dekat ini, perusahaan sejumlah perusahaan unicorn asal Indonesia akan melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia. Calon saham sektor baru ini berpotensi menjadi portofolio bagi reksadana yang dikelola oleh manajer investasi. 

E-commerce Bukalapak, menurut dokumen yang dipublikasikan untuk IPO, dijadwalkan akan mencatatkan saham di BEI pada akhir Juli. Menurut pemberitaan CNBC Indonesia, target raihan dana IPO Bukalapak mencapai Rp11,2 triliun, terbesar setelah IPO PT Adaro Energy Tbk (ADRO) senilai Rp12,23 triliun pada 2008. 

Investment Specialist Sucor Asset Management Toufan Yamin mengatakan bahwa manajer investasi ini mempertimbangkan untuk mengambil porsi dalam IPO Bukalapak tersebut, meski secara bisnis e-commerce belum membukukan laba sehingga valuasinya terlihat mahal. 

"Namun, e-commerce itu punya potensi yang bisa dilihat dari data pelanggan, afiliasi ke bank digital, customer behavior. Meski laporan keuangan dalam waktu dekat belum bagus, tapi dalam 5-10 tahun ke depan berpotensi tumbuh, seperti Amazon," ujarnya dalam market update bersama sejumlah APERD, 29 Juni 2021. 

Dia menjelaskan, perusahaan e-commerce yang termasuk dalam new economy dan berbasis teknologi digital ini berbeda dengan perusahaan konvensional dari segi valuasinya. Sebab, meskipun calon emiten itu terlihat mahal, saat ini likuiditas sangat melimpah dan suku bunga rendah mendukung pertumbuhan tinggi, sehingga menjadi potensi pertumbuhan jangka panjang. 

Melihat potensi IPO unicorn ini, Sucor Asset Management pasti akan mempertimbangkan, meski secara umum tetap memegang kebijakan investasi jangka panjang sesuai valuasi. "Meski ikut dalam IPO, kami tidak terlalu overweight dan sesuai kebijakan value investing," kata Toufan. 

Bila harga saham calon emiten ini bisa naik tinggi hingga 100 persen dari harga IPO, sangat mungkin manajer investasi melakukan aksi ambil untung (take profit) dalam waktu dekat 1-2 bulan. Sehingga, tidak perlu menunggu untuk jangka panjang. 

Adapun reksadana saham kelolaan Sucor AM yang sangat mungkin memasukkan saham Bukalapak dalam portofolionya adalah Sucorinvest Maxi Fund. Sebab, produk reksadana saham ini berfokus pada saham-saham second liner dengan pertumbuhan tinggi. Selain itu, Sucorinvest Sharia Equity Fund mungkin bisa mengambil porsi IPO e-commerce ini bila saham tersebut masuk daftar efek syariah. 

Sebelumnya, PT Avrist Asset Management (AM) juga menyampaikan ketertarikannya untuk memasukkan saham unicorn hasil merger Gojek dan Tokopedia (GoTo) ke dalam portofolio reksadananya. Dikabarkan, kapitalisasi pasar GoTo mencapai US$35-40 miliar (Rp490-560 triliun) dan masuk dalam saham berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa, sehingga bisa masuk indeks LQ45 dan IDX30. 

"Apabila sudah ada di LQ45 dan IDX30 pastinya akan menjadi portofolio di reksadana indeks karena kinerjanya mengacu kepada dua indeks itu," jelas Pjs Head of Investment Avrist AM Ika Pratiwi Rahayu di Jakarta belum lama ini.

Ika menilai, IPO perusahaan teknologi tahun ini akan menjadi katalis utama untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Perusahaan teknologi ini akan menciptakan semangat baru bagi IHSG karena termasuk dalam proxy ekonomi baru. 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.