Indeks Memerah, Reksadana Saham Justru Dominasi Imbalan Tertinggi

Pekan ini dalam 4 hari perdagangan IHSG selalu ditutup di zona merah
Abdul Malik • 25 Jun 2021
cover

Ilustrasi lonjakan kasus Covid-19 yang berdampak pada pasar saham dan mempengaruhi kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pekan ini tampaknya menjadi periode yang cukup berat untuk bursa saham Tanah Air, di mana dalam empat hari perdagangan yang telah dilalui, tanpa satu hari pun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu ditutup di zona hijau.

Pada perdagangan Kamis (25/3/2021), IHSG ditutup melemah 0,54 persen ke level 6.122,88, sekaligus mencatatkan penurunan keempat hari beruntun pada pekan ini. Di sisi lain, investor asing juga terlihat lebih dominan menjual aset mereka yang tercermin dari aksi penjualan bersih (net foreign sell) senilai Rp346,8 miliar di pasar reguler.

Sentimen utama yang mewarnai perdagangan pasar adalah kabar terkait gelombang ketiga pandemi Covid-19 di Eropa. Phillip Lane, Kepala Ekonom Bank Sentral Uni Eropa (Europe Central Bank/ECB), mengungkapkan ekonomi benua biru tahun ini diperkirakan tumbuh 4 persen. Asumsi Ini sudah memasukkan faktor lockdown.

Namun Lane memperingatkan bahwa kuartal II 2021 sepertinya bakal lumayan berat. "Sekarang kita akan segera masuk ke kuartal II, yang sepertinya akan terasa lama," seperti dilansir CNBC International.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali bergerak turun. Pada perdagangan Rabu waktu setempat, yield untuk tenor 10 tahun berada di level 1,614 persen, turun 0,8 basis poin (bp).

Akhir-akhir ini, kenaikan yield US Treasury memang menjadi momok bagi pasar keuangan global. Kenaikan yield surat utang Negeri Adidaya membuat instrumen lain menjadi tidak menarik.

Sekadar informasi, pada akhir pekan lalu yield US Treasury sempat berada di atas 1,7 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dari dividend yield indeks S&P 500 yang berada di kisaran 1,9 persen. Artinya, instrumen aman seperti obligasi memberi imbalan yang bersaing dengan aset berisiko.

Namun dengan data ekonomi AS yang akhir-akhir ini yang kurang greget, kemungkinan ekspektasi inflasi bisa mereda. Sepertinya permintaan di Negeri Paman Sam masih belum pulih betul, sehingga belum kuat untuk mendorong laju inflasi. Meredanya ekspektasi inflasi kemudian tercermin dengan penurunan yield obligasi.

Reksadana Saham Dominasi Return Harian

Kondisi pasar saham Indonesia yang mencatatkan pelemahan pada perdagangan kemarin, turut menekan kinerja reksadana saham yang memang mengalokasikan mayoritas (80 persen) portofolionya ke dalam aset berupa ekuitas tersebut.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham dan indeks reksadana saham syariah kompak mencatatkan penurunan pada perdagangan kemarin, masing-masing 0,28 persen dan 0,1 persen.

Sumber: Bareksa

Namun menariknya, masih ada beberapa produk reksadana yang tersedia di Bareksa yang mampu mencatatkan kenaikan, bahkan mendominasi imbal hasil (return) harian pada perdagangan kemarin.

Berikut top 10 return tertinggi pada perdagangan kemarin, di mana 8 di antaranya ditempati oleh produk reksadana saham, sementara 2 lainnya merupakan produk reksadana campuran yang memang punya alokasi pada aset saham.

Sumber: Bareksa

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(K01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.