Indeks Saham Makin Fluktuatif, Pertimbangkan Investasi di Reksadana Ini

Volatilitas cukup tinggi telah membawa IHSG saat ini berada di bawah level psikologis 6.000
Abdul Malik • 23 Apr 2021
cover

Ilustrasi seorang investor yang membaca buku untuk mempelajari bagaimana menyikapi gejolak pasar modal atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang berpengaruh ke investasi di reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com -  Beberapa waktu terakhir, pasar saham Tanah Air tampak cenderung mengalami volatilitas cukup tinggi yang pada akhirnya membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada di bawah level psikologis 6.000.

Sepinya nilai transaksi bursa, derasnya aksi jual investor asing, hingga ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS) membuat IHSG kesulitan untuk menghindar dari pelemahan. Terlebih saat ini sentimen positif yang ada juga tampak masih sangat minim yang semakin membuat iHSG tidak ada bahan bakar untuk menguat.

Di tengah kondisi tersebut, manajer investasi sebagai pihak yang mengelola dana investor harus jeli dalam melihat kondisi pasar, perlu fleksibilitas dalam melakukan diversifikasi. Pada kondisi ini, maka reksadana campuran (balance fund) menjadi produk investasi yang diunggulkan.

Selain itu, pada reksadana campuran, investor sudah mendapatkan diversifikasi ke dalam tiga jenis instrumen aset (saham, obligasi, deposito) sekaligus di dalam satu produk. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh manajer investasi. Jadi, reksadana campuran merupakan opsi diversifikasi yang lebih praktis bagi investor.

Reksadana campuran memiliki alokasi seimbang pada setiap instrumen baik itu saham, obligasi, maupun pasar uang. Alhasil, manajer investasi bisa leluasa mengatur alokasi instrumen dengan lebih fleksibel. Misalnya ketika pasar saham sedang bullish, maka sebagian besar dana akan ditempatkan ke saham atau obligasi. Begitupun sebaliknya.

Dengan fleksibilitas yang bisa dilakukan oleh manajer investasi pada reksadana campuran, maka manajer investasi bisa mengatur strategi yang lebih fleksibel agar performa reksadana bisa mengalahkan indeks acuan. Artinya, manajer investasi bisa mengubah strategi alokasi instrumen dengan aktif sesuai perkembangan pasar.

Sumber: Bareksa

Sebagai contoh, berdasarkan reksadana yang tersedia di Bareksa, top 5 reksadana dengan imbal hasil (return) tertinggi sepanjang tahun berjalan, 3 di antaranya diraih oleh produk reksadana campuran. Bahkan di dua teratas mencatatkan imbalan dua digit.

Sebagai informasi, Sucorinvest Flexi Fund yang berada di peringkat pertama dengan imbal hasil 11,18 persen YtD, berdasarkan data periode Maret 2021 menempatkan 62,25 persen alokasi pada saham, 30,63 persen pada obligasi, dan 7,12 persen pada pasar uang.

Adapun Syailendra Balanced Opportunity Fund yang berada di peringkat kedua dengan imbal hasil 10,76 persen YtD, berdasarkan data periode Maret 2021 menempatkan 46,23 persen alokasi pada saham, 32,55 persen pada obligasi, dan 21,23 persen pada pasar uang.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.