Sucor AM : Ini Alasan Reksadana Pasar Uang dan Indeks Layak Dipilih

Reksadana pasar uang dan reksadana indeks bisa dipilih saat pasar sedang bergejolak seperti saat ini
Abdul Malik • 05 Apr 2021
cover

Ilustrasi prospek investasi di reksadana dan SBN di 2021. (Shutterstock)

Bareksa.com - Toufan Yamin, Investment Specialist PT Sucor Asset Management, merekomendasikan investor untuk mencoba mulai berinvestasi di reksadana. Terlebih di tengah pasar sedang bergejolak seperti saat ini.

"Kalau tidak mau kena volatilitas pasar, tentunya reksadana pasar uang ya," kata Toufan dalam program Investime CNBC Indonesia.

Toufan mengatakan pada saat ini deposito rate sedang mengalami tren penurunan. Sementara itu meski reksadana pasar uang terikat dengan deposito, tapi masih berpeluang naik terus. Hal tersebut lantaran tergantung pengelolaannya seperti apa.

"Jadi reksadana pasar uang masih cukup oke," imbuhnya.

Di sisi lain Toufan mengatakan meski reksadana indeks kini agak kurang bergairah, tetapi tetap direkomendasikan karena kinerjanya masih lebih baik dibandingkan reksadana pendapatan tetap.

Menurutnya dipicu oleh obligasi yang banyak terjadi koreksi terkait kenaikan US Treasury.

"Jadi reksadana indeks masih cukup menarik bagi teman-teman yang mungkin sedikit bingung mau pilih reksadana atau saham apa. Karena kita lihat sekarang saham lagi nggak jelas nih," katanya.

Toufan menjelaskan saat ini pasar saham sedang anjlok, sehingga banyak asing yang menghindari pasar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dalam isu-isu margin call (permintaan penambahan modal dalam transaksi margin).

Di sisi lain Dari sisi domestik, menurut Toufan, juga sedang minim sentimen, meskipun ada pajak dividen yang mulai ditiadakan, dan ada sentimen pemulihan ekonomi.

"Harusnya harga komoditas kita naik tapi kita masih belum berani untuk masuk ke Indonesia. Jadi untuk sementara mereka masih wait and see," paparnya.

Meski demikian, ia mengatakan pada tahun ini pihaknya masih optimistis. "Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mencetak all time dengan sentimen laporan di kuartal I ini sih. Karena kenaikan harga komoditi yang berlangsung dari Desember 2020 belum kelihatan kinerja emitennya. Kita tunggu saja di April akhir sampai Mei awal ketika mereka ngeluarin laporan keuangan," papar Toufan.

Pasar modal nasional sepanjang bulan Maret 2021 kembali tertekan dan mengalami gejolak hebat. Sepanjang bulan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab jeblok hingga 4,11 persen dan ditutup di 5.986.

Indeks saham kebanggaan nasional tersebut harus rela turun hingga di bawah level psikologis 6.000 sepanjang bulan lalu. Kinerja indeks saham yang tertekan tersebut turut menekan kinerja hampir semua indeks reksadana.

Menurut data Bareksa. sepanjang Maret 2021, tercatat 6 dari 8 indeks reksadana turut mencatat kinerja negatif seiring penurunan indeks saham. Penurunan terdalam dicatatkan indeks reksadana saham syariah dengan minus 5,5 persen.

Kemudian disusul indeks reksadana saham yang negatif 4,7 persen, indeks reksadana campuran berkurang 2,24 persen, indeks reksadana campuran syariah -2,2 persen, indeks reksadana pendapatan tetap syariah -0,27 persen, serta indeks reksadana pendapatan tetap -0,24 persen.

Adapun dua indeks reksadana yang masih bertahan dan membukukan pertumbuhan yakni indeks reksadana pasar uang naik 0,25 persen dan indeks reksadana pasar uang syariah bertambah 0,25 persen.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.