CEO Sucor AM, Jemmy Paul : Strategi Tahan Banting dan Tetap Tumbuh Saat Pandemi

Sucorinvest Equity Fund mencatatkan kinerja positif 2,23 persen YtD dan melesat 64,5 persen dari titik terendahnya tahun ini
Abdul Malik • 01 Dec 2020
cover

Presiden Direktur Sucor Asset Management, Jemmy Paul Wawointana. (Bareksa/AM)

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 37,5 persen secara year to date pada 24 Maret 2020 atau merupakan level terendah sepanjang tahun ini. Market crash akibat pandemi Covid-19 telah mengakibatkan IHSG ambrol hingga di bawah level 4.000, setelah pada akhir 2019 ditutup di level 6.300. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) Rp631,41 miliar pada 24 Maret.

Sepanjang bulan Maret di 2020 (per 27 Maret), net sell asing di pasar saham mencapai Rp5,2 triliun, sedangkan secara YtD net foreign outflow mencapai Rp10 triliun. Aksi jual asing akibat pandemi Covid-19 di pasar Surat Berharga Negara lebih parah, sepanjang Maret terjadi net outflow asing di SBN senilai Rp112,3 triliun. Secara YtD outflow asing di SBN per Maret tercatat Rp126 triliun.

Kini pasar saham nasional kembali bangkit ditutup di level 5.833 pada Jumat pekan lalu. Minus IHSG yang sebelumnya mencapai 37,5 persen pada 24 Maret, kini tinggal 8,19 persen pada 27 November. IHSG terus kembali menuju level akhir tahun lalu. Secara YtD pet 27 November, nilai jual bersih investor asing masih senilai Rp40.58 triliun.

Kinerja IHSG dan Indeks Reksadana Saham YtD (per 27 November 2020)

Sumber : Bareksa

Seiring penurunan IHSG, indeks reksadana saham turut anjlok 35,74 persen dan indeks reksadana saham syariah minus -32,33 persen. Senada dengan tren IHSG yang menuju pemulihan, minus indeks reksadana saham dan indeks reksadana saham syariah juga mengecil tinggal minus 11,42 persen dan negatif 13,59 persen akhir pekan lalu.

Strategi Sucor AM Pulih dari Pandemi

Direktur Utama PT Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wawointana menyatakan pada 24 Maret lalu penyebaran coronavirus yang cukup cepat ditambah informasi terhadap penyakit baru ini yang masih terbatas menimbulkan kepanikan. Selain itu, kondisi tersebut diperparah dengan berbagai penutupan akses mobilitas antar negara dan juga dalam negeri yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seiring dengan itu aktivitas ekonomi terhambat dan pertumbuhan ekonomi diproyeksi akan turun untuk waktu yang tidak diketahui pada saat itu.

"Kami melihat pada saat itu (pada 24 Maret) reaksi kepanikan pasar cenderung berlebihan sehingga banyak saham-saham yang menurut kami valuasinya jadi semakin murah bahkan ada beberapa emiten yang sahamnya secara valuasi mencapai lebih murah dibandingkan krisis finansial global (GFC) 2008," ujarnya kepada Bareksa (30/11/2020).

Menurut Jemmy, Sucor AM melihat market crash yang terjadi pada Maret lalu sebagai peluang dan memanfaatkan peluang tersebut untuk melakukan rebalancing portofolio reksadana. Perseroan mengoleksi saham-saham yang berkualitas untuk menggapai peluang sebelum pasar mulai kembali rasional dan pergerakan mulai berbalik menguat.

Sumber : Bareksa

Menurut Jemmy, saat koreksi pasar terdalam di tahun ini pada 24 Maret lalu, kinerja reksadana saham unggulan perseroan yakni Sucorinvest Equity Fund sempat turun 37.85 persen secara YtD. Namun pada November ini, kinerja reksadana saham Sucorinvest Equity Fund sudah mencatatkan kinerja positif secara YTD.

"Pada akhir pekan lalu (per 27 November), Sucorinvest Equity Fund telah mencatatkan kinerja positif 2,23 persen YtD dan melesat 64,5 persen dari titik terendahnya di tahun ini," Jemmy menjelaskan.

Selain Sucorinvest Equity Fund, di Marketplace Bareksa juga tersedia reksadana saham Sucorinvest Maxi Fund dan Sucorinvest Sharia Equity Fund yang masing-masing juga minus 22,23 persen dan 32,37 persen YtD pada 24 Maret lalu. Per 27 November, minus Sucorinvest Maxi Fund tinggal 4,44 persen dan Sucorinvest Sharia Equity Fund juga telah positif 2,1 persen. Kondisi itu menandakan dua dari tiga reksadana saham Sucor AM telah berhasil pulih dari dampak pandemi, bahkan sudah berhasil tumbuh. 

Jika kinerjanya dilihat dari periode 24 Maret, maka pada 27 November lalu reksadana saham Sucorinvest Sharia Equity Fund meroket 50,97 persen dan Sucorinvest Maxi Fund melonjak 22,86 persen.

Gencarkan Edukasi Literasi

Jemmy menyatakan perseroan terus menggencarkan edukasi literasi keuangan selama masa pandemi Covid-19. Sehingga meskipun terjadi peralihan ke kelas aset yg lebih konservatif seperti pasar uang dan pendapatan tetap, namun investor domestik tetap bertahan dan bahkan jumlahnya terus bertambah. Hal itu terbukti dengan peningkatan single investor identification (SID) yang melesat 135 persen YtD (per 27 Oktober).

"Kami juga mengelola reksadana secara aktif dengan terus mencari peluang pada setiap siklus pasar dan bisnis," ungkap Jemmy.

Jemmy menambahkan pembatasan jam trading, perubahan maksimum auto rejection perdagangan dan diterapkan trading halt apabila Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5 persen telah cukup membantu untuk menekan volatilitas pergerakan harian pasar selama pandemi ini.

Dana Kelolaan

Per Oktober 2020, Sucor AM membukukan dana kelolaan reksadana Rp17,05 triliun atau meroket 27 persen secara bulanan, terbang 69 persen YtD dan melonjak 57 persen YoY. Lonjakan AUM Sucor AM merupakan yang tertinggi dalam daftar top 20 MI, baik secara bulanan, YtD maupun tahunan. Perseroan mencatatkan pangsa pasar AUM reksadana Sucor AM sebanyak 3 persen pada Oktober 2020.

Nilai AUM Sucor per Oktober tersebut telah melampaui target dana kelolaan tahun ini yang sejatinya hanya ditargetkan Rp15 triliun. Kondisi itu menunjukkan kinerja AUM Sucor AM terus bertumbuh di tengah industri reksadana yang masih tertekan akibat pandemi Covid-19.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.